14 Desember 2019 10:15 am

Budidaya Jahe Merah sebagai Tanaman Kesehatan

Budidaya Jahe Merah sebagai Tanaman Kesehatan
Selama ini masyarakat Indonesia mengenal tiga jenis tanaman jahe, yaitu jahe besar/gajah/badak, jahe kecil/emprit, dan jahe merah. Ketiga jenis tanaman jahe tersebut semuanya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Karena manfaatnya yang luar biasa, harga jahe di pasaran tergolong agak mahal.

Dari ketiga jenis tanaman jahe tersebut, tanaman jahe merah yang barangkali belum begitu populer dalam hal pembudidayaannya. Padahal seperti halnya dua jenis tanaman jahe lainnya, tanaman jahe merah juga sangat mudah untuk dibudidayakan. Tanaman jahe merah sangat mudah dibudidayakan, baik di lahan yang luas maupun di lahan yang sempit.

Sejarah Tanaman Jahe

Tanaman jahe yang memiliki nama ilmiah Zingiber officinale, merupakan tanaman yang berasal dari Asia Pasifik. Tanaman yang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan ini kemudian menyebar hingga ke India dan Cina. Setelah itu, tanaman jahe menyebar ke berbagai negara Asia, termasuk ke Indonesia. Tidak mengherankan apabila India dan Cina disebut-sebut sebagai negara pertama yang memanfaatkan khasiat dari tanaman jahe.

Tanaman jahe merupakan tumbuhan rumpun yang berbatang semu. Tanaman ini termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Jadi, tanaman jahe masih termasuk satu famili dengan tanaman temu lainnya, semisal temu lawak (Curcuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), lengkuas (Languas galanga), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), dan lain sebagainya.

Di Indonesia sendiri, tanaman ini memiliki nama panggilan yang berbeda di setiap daerahnya. Misalnya saja, jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), geraka (Ternate), melito (Gorontalo), jahe (Sunda), jahi (Lampung), bahing (Batak Karo), dan beeuing (Gayo). Berdasarkan ukuran, bentuk, dan warna rimpangnya, tanaman jahe dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu jahe putih/kuning kecil, jahe putih/kuning besar, dan jahe merah.


  • Jahe putih/kuning kecil biasanya juga disebut dengan jahe sunti ataupun jahe emprit. Tanaman jahe jenis ini memiliki ruas yang kecil, agak rata, hingga menggembung. Di samping itu juga kandungan minyak atsiri dan seratnya lebih banyak dibandingkan dengan jenis jahe putih/kuning besar. Hal ini menyebabkan tanaman jahe jenis putih/kuning kecil ini terasa lebih pedas. Tanaman jahe jenis ini biasanya dipanen apabila umurnya sudah tua. Kegunaannya banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan dengan cara mengekstrak minyak atsirinya.

  • Jahe putih/kuning besar biasanya disebut dengan jahe badak atau jahe gajah. Bentuk rimpangnya lebih besar dan gemuk dibandingkan dengan dua jenis jahe lainnya. Ruas rimpangnya juga terlihat lebih menggembung. Tanaman jahe jenis ini biasanya dapat dimanfaatkan baik umurnya masih muda ataupun sudah tua sebagai bumbu masakan, bahan minuman, ataupun olahan pangan.

  • Jahe merah memiliki bentuk yang paling kecil dibandingkan dengan jahe emprit maupun jahe gajah/badak. Tanaman jahe ini memiliki rimpang yang berwarna merah sehingga disebut jahe merah. Sama halnya dengan jahe emprit/kecil, tanaman jahe merah biasanya juga dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan karena kandungan minyak atsirinya yang banyak. Oleh karenanya, tanaman ini juga dipanen saat umurnya sudah tua. Kandungan minyak atsiri dalam jahe merah paling tinggi dibandingkan jenis-jenis jahe lainnya. Rasanya jauh lebih pedas dengan aroma yang lebih menyengat.

Tanaman jahe saat ini sudah banyak dibudidayakan di beberapa negara. Selain India, Cina, dan Indonesia, negara-negara lain yang juga membudidayakan tanaman jahe, antara lain, Pakistan, Australia, Jamaika, Nigeria, Meksiko, Jepang, Yunani, dan Mesir. Sebagai tanaman komoditas tinggi, negara penghasil tanaman jahe dengan kualitas terbaik adalah Jamaika.

Sementara sebagai pemasok tanaman jahe terbesar di dunia adalah India, yaitu sekitar 50% dari seluruh pasaran jahe di dunia. Di Indonesia sendiri, mayoritas tanaman jahe masih dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, meskipun ada juga yang diekspor ke luar negeri.

Klasifikasi Ilmiah

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale


Ciri dan Karakteristik Tanaman Jahe Merah

Seperti lazimnya tanaman jenis jahe lainnya, tanaman jahe merah memiliki batang semu yang tumbuh antara 30 cm hingga 1 meter. Batang semu yang dimiliki tanaman jahe merah ini berbentuk bulat kecil, berwarna hijau kemerahan, memiliki tekstur yang keras, dan dibungkus oleh pelepah daun. Bentuk daun dari tanaman ini menyempit dengan ukuran panjang antara 15 – 25 cm dan lebar antara 0,8 – 2,5 cm. Sementara tangkainya ada yang diselimuti bulu-bulu halus ataupun gundul tanpa bulu, panjangnya 2 – 4 cm.

Lidah daun memanjang dan tidak berbulu. Seludang bunga agak berbulu. Bunga berupa malai yang tersembul di permukaan tanah. Bentuknya tongkat atau bundar telur sempit. Panjang malai 3,5 – 5 cm dan lebarnya 1,5 – 1,75 cm. Gagang atau tangkai bunga hampir tidak berbulu. Rakhisnya berbulu panjang. Sisik pada tangkai berjumlah 5 – 7 buah, bentuknya lanset, letaknya rapat atau berdekatan, hampir tidak berbulu. Bunga memiliki daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik yang ujungnya bundar.

Daun pelindung ini tidak berbulu, warnanya hijau cerah, panjangnya 2,5 cm dan lebarnya 1 – 1,75 cm. Mahkota bunga berbentuk tabung. Helaiannya agak sempit, bentuknya tajam, berwarna kuning kehijauan dengan bibir berwarna ungu gelap berbintik-bintik putih kekuningan. Kepala sari berwarna ungu. Tanaman jahe merah ini juga memiliki keistimewaan yang sama seperti tanaman jahe jenis lainnya, yaitu ketika daunnya mengering dan mati, rimpangnya tetap akan hidup di dalam tanah.

Rimpang yang hidup di dalam tanah tersebut nantinya akan bertunas dan tumbuh menjadi tanaman baru saat musim penghujan. Rimpang atau akar adalah bagian yang terpenting dari tanaman jahe. Pada bagian inilah kelak tumbuh tunas-tunas baru yang akan menjadi tanaman. Merupakan akar tunggal yang tertanam kuat dalam tanah. Rimpang jahe merah memiliki bentuk berbuku-buku, gemuk, agak pipih, dan membentuk akar serabut.

Warnanya merah pada kulit dan merah kekuningan di bagian dalam dengan ukuran seperti jahe emprit atau jahe kecil. Rimpang yang tertanam di dalam tanah tersebut nantinya akan semakin membesar seiiring perkembangan usia tanaman jahe dan membentuk rimpang-rimpang serta rhizoma-rhizoma baru yang semakin banyak. Di dalam rimpang-rimpang tersebut terkandung banyak minyak atsiri dan oleoresin, yang membuat tanaman jahe memiliki aroma dan rasa yang khas.

Syarat Tumbuh

Tanaman jahe merah dapat tumbuh baik di daerah tropis maupun subtropis dengan ketinggian antara 0 – 2000 mdpl. Di Indonesia sendiri, tanaman ini biasanya dibudidayakan di daerah yang memiliki ketinggian antara 200 – 600 mdpl. Hanya saja, tanaman jahe merah untuk dapat tumbuh optimal memerlukan curah hujan yang cukup tinggi, yaitu antara 2500 – 4000 mm per tahunnya. Sementara untuk suhu udaranya, tanaman ini lebih adaptif di kisaran 20 – 35 derajat celsius.

Di usia antara 2,5 hingga 7 bulan, tanaman jahe merah memerlukan sinar matahari sepanjang hari untuk tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, tanaman ini baiknya ditanam di daerah terbuka yang terkena cahaya matahari sepanjang hari. Penanaman jahe merah di lahan perkebunan perlu memerhatikan jenis tanah yang tepat. Tanaman jahe merah lebih cocok ditanam di tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung humus.

Tekstur tanah yang cocok adalah tanah lempung berpasir dan tanah laterik. Adapun pH tanah yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman jahe merah antara 4,3 – 7,4. Namun, tanaman jahe merah akan tumbuh maksimal di tanah yang memiliki pH antara 6,8 – 7,0.

Syarat Media Tanam

Tanaman jahe merah yang ditanam dalam pot/polybag/planterbag/karung memerlukan media tanam yang bersifat steril, porous ringan, tidak mudah lapuk, tidak mudah menjadi sumber penyakit, aerasinya baik, mampu mengikat air dan unsur hara dengan baik, tidak bersifat toksik bagi tanaman, dan mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan. Sebaiknya gunakan jenis media yang mudah didapat dan murah. Komposisi yang baik, misalnya, campuran antara tanah top soil, pupuk kandang matang, dan sekam bakar.

Jika tanah dan pupuk kandang memerlukan proses sterilisasi, tidak demikian dengan sekam bakar. Proses pembakaran sekam telah mematikan mikroba patogen dalam sekam. Kandungan karbon (C) yang tinggi pada sekam bakar membuat media tanam gembur, mudah mengikat air, tidak mudah menggumpal, ringan, dan porositasnya baik. Harganya yang relatif murah dan mudah didapat tidak akan menambah biaya produksi terlalu tinggi.

Media ini hanya dapat dipakai untuk satu musim tanam sehingga harus diganti pada musim berikutnya. Cara mendapatkan sekam bakar adalah dengan membakar kulit padi kering di atas tungku pembakaran. Sebelum bara menjadi abu, siram dengan air bersih. Keunggulan lain dari penggunaan sekam bakar adalah dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, melindungi tanaman, aerasi dan drainasenya baik, dan bebas dari organisme patogen. Media tanam ini dapat digunakan dalam berbagai teknik di berbagai jenis lahan.


Syarat Bibit

Untuk mendapatkan tanaman jahe merah yang baik, ada beberapa persyaratan dalam pemilihan bibit. Syarat tersebut meliputi syarat genetik, syarat fisik, dan syarat fisiologis. Pertama-tama, bibit harus bebas dari hama dan penyakit. Selanjutnya, benih untuk bibit diambil langsung dari kebun, bukan dibeli dari pasar. Jadi, benih masih benar-benar segar. Rimpang untuk bibit harus sudah tua, minimal berumur 10 bulan.

Ciri-ciri rimpang yang sudah cukup umurnya untuk pembenihan adalah kandungan seratnya tinggi dan kasar, kulitnya licin, keras, tidak mudah mengelupas, dan warna kulitnya mengolat menampakkan tanda bernas. Rimpang yang baik untuk pembibitan harus memiliki persentase tumbuh yang tinggi. Tidak hanya bebas dari hama dan penyakit, rimpang untuk bibit tidak boleh terluka atau lecet.

Bibit dipotong-potong dengan tangan sepanjang 2 – 3 ruas. Pilihlah rimpang yang mempunyai 2 – 3 bakal atau mata tunas dengan bobot antara 20 – 40 gr. Kebutuhan bibit untuk perkebunan komersial antara 1 – 1,5 ton per hektar.

Penyemaian Bibit Tanaman Jahe Merah

Untuk mendapatkan bibit jahe merah dengan pertumbuhan yang seragam, biasanya bakal bibit tidak ditanam secara langsung di lahan perkebunan ataupun polybag. Oleh karenanya dibutuhkan penyemaian terlebih dahulu untuk mendapatkan kecambah dari bakal bibit jahe merah. Penyemaian tanaman jahe merah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara penyemaian pada peti kayu dan penyemaian pada bedengan.


  • Penyemaian dalam peti kayu

Penyemaian tanaman jahe merah pada peti kayu dapat dilakukan dengan membuat atau mempersiapkan peti kayunya terlebih dahulu. Peti kayu tersebut tidak berpatokan pada ukuran, yang penting disesuaikan dengan berapa banyaknya bibit tanaman jahe merah yang ingin dihasilkan. Setelah peti kayu sudah siap, maka pilihlah rimpang jahe merah yang habis dipanen dan usianya sudah cukup tua. Jemur rimpang jahe merah tersebut tetapi jangan sampai kering.

Rimpang jahe merah yang sudah dijemur tersebut kemudian disimpan selama 1 – 1,5 bulan. Sesudah disimpan, patahkan rimpang jahe merah tersebut dengan tangan. Usahakan tiap potongan terdapat 2 – 3 mata tunas, lalu jemur kembali hingga setengah atau sehari penuh. Masukkan potongan-potongan rimpang jahe merah tersebut ke dalam karung ataupun wadah yang beranyaman jarang. Kemudian celupkan karung atau wadah ke dalam larutan fungisida yang telah dicampur dengan zat pengatur tumbuh kurang lebih 1 menit.

Setelah dicelupkan dalam larutan, keluarkan rimpang-rimpang jahe tersebut dan biarkan hingga kering. Rimpang-rimpang jahe merah yang sudah benar-benar kering kemudian dimasukkan ke dalam peti kayu yang sudah disiapkan secara bertahap. Tahap pertama, masukkan rimpang jahe merah di dasar peti lalu di atasnya ditaburkan abu gosok atau sekam padi hingga tertutup.

Tahap kedua, letakkan kembali rimpang jahe merah di atas lapisan pertama tersebut, kemudian taburkan kembali abu gosok atau sekam padi. Demikian seterusnya hingga peti kayu yang disediakan terisi penuh dengan lapisan teratas berupa abu gosok atau sekam padi.


  • Penyemaian dalam bedengan

Penyemaian dalam bedengan biasanya dilakukan untuk memproduksi bibit tanaman jahe merah dalam jumlah banyak atau skala produksi. Teknik ini biasanya dilakukan oleh pembudi daya yang memang berkecimpung di dalam usaha produksi dan pemasaran jahe merah dalam skala besar. Oleh karena itu dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk melakukannya. Pertama kali yang harus dilakukan adalah dengan membuat rumah penyemaian sederhana sebagai tempat menanam bakal bibit jahe merah.

Ukuran rumah penyemaian dapat disesuaikan dengan jumlah bibit tanaman jahe merah yang diinginkan. Untuk menyediakan bibit bagi 1 hektar kebun, ukuran rumah penyemaian yang ideal adalah 10 x 8 m. Kemudian di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami atau alang-alang dengan tebal kira-kira 10 cm. Sementara untuk teknik penyiapan rimpang jahe merah sebagai bakal bibit yang disemai sama dengan teknik penyemaian di peti kayu.

Rimpang-rimpang tersebut lalu disusun di atas bedengan. Setelah tersusun rapi, di atas rimpang-rimpang tersebut kemudian ditutupkan jerami/alang-alang kembali. Di atas jerami tadi lalu disusun kembali rimpang-rimpang jahe merah dan ditutup kembali dengan jerami/alang-alang. Demikian seterusnya hingga didapatkan empat susunan lapisan rimpang jahe merah.

  • Perawatan bibit dalam persemaian

Rawat bakal bibit dengan melakukan penyiraman setiap hari dan penyemprotan fungisida secara berkala untuk mematikan jamur-jamur yang kemungkinan tumbuh. Dalam waktu antara 2 – 4 minggu kemudian, akan tumbuh tunas baru tanaman jahe merah yang siap dipindahtanamkan. Tunas-tunas baru tersebut kemudian dapat disortir untuk memilih bibit jahe merah yang berkualitas dan siap dipindahkan ke lahan atau tempat penanaman permanen. Bibit siap tanam jika tunasnya sudah setinggi 5 – 10 cm.

Penanaman Bibit Jahe Merah

Penanaman bibit jahe merah sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan (September – Oktober) karena tanaman ini pada masa awal pertumbuhan membutuhkan pengairan yang cukup. Selain itu penanaman bibit jahe merah juga membutuhkan jenis tanah atau media tanam yang cocok. Perhatikan pula tingkat keasaman (pH) tanah, uji dahulu tingkat keasaman tanah pada lahan yang akan digunakan. Cara menanam dan pola tanam bibit jahe merah disesuaikan dengan luasan lahan yang akan digunakan.

Penanaman bibit jahe merah di polybag sangat cocok bagi pembudidaya yang ingin memiliki tanaman jahe merah di rumah atau lahan yang terbatas. Penanaman bibit jahe merah di lahan perkebunan biasanya dilakukan oleh pelaku-pelaku industri yang memiliki usaha di bidang tanaman tersebut. Bibit jahe merah yang didapatkan dari hasil penyemaian di peti kayu maupun bedengan dianjurkan untuk tidak langsung ditanam di polybag atau lahan perkebunan.

Bibit tanaman jahe merah harus disterilkan terlebih dahulu dari ancaman penyakit. Oleh karena itu sebelum ditanam, bibit jahe merah harus direndam terlebih dahulu dalam larutan fungisida kurang lebih delapan jam lamanya. Masukkan dalam karung yang anyamannya jarang untuk memudahkan proses perendaman. Kemudian bibit tersebut dikeringkan kira-kira 2 – 4 jam. Barulah setelah proses tersebut, bibit jahe merah siap ditanam.


  • Penanaman jahe merah di lahan sempit

Penanaman bibit jahe merah di lahan sempit atau terbatas dapat menggunakan wadah-wadah berupa polybag, planter bag, karung bekas, atau pot berdiameter minimal 30 cm. Ke dalam wadah-wadah tersebut diisikan campuran tanah top soil dengan trichokompos atau pupuk kandang kering terfermentasi dan sekam bakar atau pasir hingga setinggi 15 cm. Apabila menggunakan karung, lipat bagian atasnya untuk memudahkan pengerjaan dan mendapatkan ketinggian yang sesuai.

Jika menggunakan campuran sekam maka perbandingannya 3 : 1 : 1, sementara pada penggunaan pasir perbandingan media tanamnya 1 : 1 : 1. Dapat juga menggunakan campuran tanah dan pupuk bokashi 3 : 1. Bibit jahe merah yang sudah disiapkan kemudian dapat diletakkan di tengah-tengah wadah dengan posisi tegak (mata tunas berada di atas).

Setelah itu masukkan kembali campuran media tanam hingga wadahnya penuh atau tutup dengan media tanam setebal 3 – 5 cm dan tutup lagi menggunakan jerami kering dengan ketebalan yang sama. Satu karung atau planter bag dapat diisi 3 – 5 rimpang bibit tergantung besarnya wadah. Untuk polybag, setiap satu polybag dapat dimanfaatkan untuk menanam satu bibit jahe merah. Langkah berikutnya tinggal melakukan pemeliharaan dan perawatan bibit tanaman jahe merah tersebut hingga siap dipanen.

Selain penggunaan wadah-wadah sebagai tempat tumbuh, untuk menghemat lahan juga dapat digunakan teknik atau pola penanaman vertikultur. Artinya, menggunakan rak bertingkat untuk menata karung/polybag/planter bag/pot. Cara ini cocok untuk lahan yang sangat sempit. Keuntungannya selain untuk mengatasi sempitnya lahan, juga menghemat air untuk penyiraman.

Media dapat disesuaikan dengan ketersediaan dan terjaga kegemburannya, pemeliharaan dan manajemen produksi lebih mudah, meningkatkan potensi produksi berupa panen yang lebih banyak, dan jika benar-benar efisien dapat mencapai 80% dari hasil pertanian konvensional. Letakkan wadah-wadah penanaman ini di tempat yang ternaungi atau buat naungan khusus.

Tanaman jahe merah, terutama yang masih muda, sangat peka terhadap sinar matahari langsung apalagi di siang hari yang panas. Naungan dapat dibuat dari paranet yang dipasang di atas tiang-tiang besi atau kayu agar kuat dan tidak mudah rusak terkena hujan.

  • Penanaman jahe merah di lahan perkebunan

Sementara untuk penanaman bibit jahe merah di lahan perkebunan memerlukan langkah-langkah yang lebih kompleks. Diawali dengan pembukaan lahan sebagai media tanamnya. Pembukaan lahan dapat dilakukan dengan cara membajaknya hingga kedalaman kurang lebih 30 cm. Pembajakan ini memiliki tujuan supaya tanah menjadi gembur dan membersihkan tanah dari tanaman pengganggu ataupun sisa-sisa tanaman terdahulu yang sudah mati.

Setelah itu tanah yang sudah dibajak tersebut didiamkan selama 2 – 4 minggu. Langkah ini dilakukan agar gas-gas beracun yang sekiranya ada dapat menguap. Selain itu juga bertujuan untuk mematikan hama dan penyakit dengan bantuan sinar matahari. Apabila pengolahan tanah yang dilakukan di atas dianggap belum menjadikan tanah menjadi gembur, maka dilakukan penggemburan kembali sekitar 2 – 3 minggu sebelum waktu tanam.

Sambil menggemburkan tanah pada tahap kedua, berikan pupuk kandang kering dengan dosis sesuai luasnya lahan, misalnya 1500 – 2500 kg/hektar. Apabila hasil pengujian pH tanah menunjukkan kurang sesuainya kadar keasaman tanah dengan yang dibutuhkan, saat ini pulalah tindakan pengapuran sebaiknya dilakukan. Tanah yang memiliki kandungan pH terlalu rendah berarti kandungan fosfor dan kalium kurang tersedia atau terserap. Akibatnya, tanah menjadi asam dan rentan terserang serangan cendawan penyebab penyakit, seperti Fusarium sp. dan Pythium sp.

Pengapuran berarti menambahkan unsur kalium tanah. Unsur kalium dapat membantu pengerasan batang pada tanaman berkayu, merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar tanaman, mempertebal dinding sel buah tanaman, dan merangsang pembentukan biji tanaman. Dalam kasus tanaman jahe merah, pH tanah yang ideal akan membantu perkembangan dan pertambahan rimpangnya. Pengolahan lahan tanam harus memerhatikan kondisi dari lahan itu sendiri.

Untuk lahan yang kandungan air tanahnya kurang baik sebaiknya dibuatkan bedengan-bedengan. Cara ini sekaligus untuk menghindari genangan air yang sangat berbahaya bagi kesehatan akar rimpang jahe merah. Bedengan-bedengan tersebut dapat dibuat dengan ketinggian antara 20 – 30 cm dan lebar antara 80 – 100 cm. Pasang anjang-anjang untuk naungan sesuai ukuran dan kondisi lahan. Pembuatan naungan ini bertujuan untuk melindungi tanaman jahe merah yang masih muda dari sengatan sinar matahari, terutama pada siang hari yang terik.

Setelah pembuatan bedengan-bedengan, kemudian buat lubang tanam pada bedengan-bedengan tersebut sedalam 3 – 7 cm. Bibit jahe merah yang sudah disiapkan lantas dimasukkan ke dalam lubang-lubang tanam dengan posisi rebah. Lubang-lubang tanam tersebut kemudian ditutup kembali dengan tanah di sekitarnya. Langkah selanjutnya tinggal melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap tanaman jahe merah tersebut hingga dapat dipanen.

Penanaman atau pembudidayaan tanaman jahe, termasuk jahe merah, di Indonesia, biasanya menggunakan pola tanam polikultur atau tumpang sari. Tanaman yang biasanya dijadikan tumpang sari dengan tanaman jahe adalah sayur-sayuran dan palawija. Penanaman secara tumpang sari memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan pola tanam monokultur.

Dengan pola tanam ini, naik turunnya harga jahe di pasaran dapat diantisipasi dengan hasil dari tanaman yang lain, meminimalkan biaya tenaga kerja di lapangan, meningkatkan produktivitas lahan tanam, dan memperkecil tumbuhnya tanaman pengganggu sehingga dapat menjaga kualitas lahan tanam. Dalam hal ini, tanaman yang lain dapat berfungsi ganda, di samping sebagai penghasil produksi sampingan, juga menjadi mulsa hidup yang dapat melindungi kelembapan tanah dan mencegah pertumbuhan gulma.

Pemeliharaan dan Perawatan Tanaman Jahe Merah

Setelah melewati proses penanaman, tanaman jahe merah memerlukan pemeliharaan dan perawatan agar dapat tumbuh dengan optimal. Pemeliharaan dan perawatan tersebut secara umum meliputi penyiraman, penyulaman, penggemburan, penyiangan, pemupukan, serta pemberian fungisida dan pestisida/insektisida. Namun teknis langkah-langkah pemeliharaan tanaman jahe merah yang dibudidayakan di kebun dengan tanaman jahe merah yang dibudidayakan dalam karung/polybag/planter bag/pot memiliki beberapa perbedaan.

  • Penyiraman

Penyiraman atau pengairan merupakan bagian dari pemeliharaan dan perawatan yang sangat penting dilakukan. Tanaman jahe merah memerlukan pengairan yang cukup, terutama di awal-awal masa pertumbuhannya. Frekuensi penyiraman pada tanaman jahe merah yang ditanam langsung di tanah dengan yang ditanam pada wadah-wadah lebih kurang sama.

Penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore hari, di saat musim kemarau dan cuaca sangat panas. Minimal satu kali sehari, tergantung seberapa kering cuaca dan tingkat kelembapan tanah atau media tanam. Oleh karena itulah, maka penanaman jahe merah sebaiknya dilakukan di saat musim hujan, sehingga dapat membantu mengurangi aktivitas penyiraman.

  • Penyulaman

Penyulaman adalah penggantian bibit tanaman jahe merah yang mati atau terserang penyakit yang berbahaya setelah masa tanam. Setelah 2 – 3 minggu masa tanam, sebaiknya tanaman jahe merah segera dilakukan pengecekan, barangkali ada yang layu, mati, atau menunjukkan gejala-gejala penyakit yang berbahaya. Untuk itu segera lakukan penggantian bibit tanaman agar pertumbuhannya nanti tidak tertinggal dengan yang lainnya. Penggantian bibit menggunakan bibit yang seumur dengan bibit yang dibuang.


  • Penggemburan atau peremajaan media tanam

Penggemburan tanah pada tanaman jahe merah yang ditanam di tanah/lahan perkebunan penting dilakukan agar supaya peredaran air dan udara di lahan tanam tetap berjalan dengan baik. Agar tidak merusak akar yang merupakan bagian terpenting dari tanaman ini, sebaiknya penggemburan dilakukan dengan hati-hati. Gunakan cangkul atau garpu tanah yang steril. Balik tanah di sekitar rumpun jahe yang masih muda dengan jarak kurang lebih 30 cm.

Pada bulan berikutnya jaraknya dapat diperdalam dan diperlebar sehingga membentuk saluran air yang berguna untuk mengalirkan kelebihan air siraman atau air hujan. Penggemburan ini diikuti langkah pembubunan, yaitu menimbun kembali rimpang jahe merah yang kadang-kadang muncul kembali ke permukaan tanah. Penggemburan dan pembubunan ini pertama kali dilakukan saat tanaman jahe masih berbentuk rumpun yang terdiri atas 3 – 4 batang semu.

Biasanya aktivitas penggemburan dan pembubunan ini dilakukan sebanyak 2 – 3 kali sepanjang masa hidup tanaman jahe merah. Namun tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan kurang atau lebih, tergantung kondisi lahan tanam dan banyaknya curah hujan. Teknik penggemburan merupakan langkah untuk mengembalikan kesuburan tanah pada tanaman jahe merah yang ditanam di lahan perkebunan. Adapun tanaman jahe merah yang ditanam dalam wadah-wadah menggunakan teknik yang berbeda.

2 – 4 minggu setelah penanaman, media tanam diberi pupuk organik cair terfermentasi dengan cara dikocorkan. Ketika tanaman berusia 2 – 3 bulan atau rimpangnya mulai tampak menyembul keluar, tambahkan campuran media tanam yang baru setebal 3 – 5 cm hingga seluruh rimpang kembali tertutup. Tutup dengan jerami kering dengan ketebalan yang sama. Langkah ini diulangi secara periodik sambil memerhatikan pertumbuhan tanaman hingga usianya 8 bulan atau wadah penanaman sudah terisi penuh.

  • Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan pertama kali saat usia tanaman jahe merah mencapai 2 – 4 minggu. Lalu aktivitas penyiangan dapat diteruskan setiap 3 – 6 minggu sekali. Namun hal tersebut tidak dapat menjadi patokan, tergantung dari kondisi lahan tanam, apakah terdapat banyak tanaman pengganggu atau tidak. Setelah tanaman jahe merah berusia 6 – 7 bulan, penyiangan tidak perlu lagi dilakukan karena pada usia tersebut, rimpangnya sudah mulai membesar.

  • Pemupukan

Pemupukan merupakan bagian yang tidak boleh diabaikan agar pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang diharapkan. Inti dari pemupukan adalah membantu tanaman agar terpenuhi akan kebutuhan zat nutrisi yang dibutuhkan. Adapun pemupukan tanaman jahe merah dapat dilakukan dengan pupuk kandang, trichokompos, atau bokashi. Jika diperlukan dapat pula ditambahkan pupuk organik cair atau NPK padat dengan dosis sesuai kebutuhan.

Teknis pemberiannya berselang-seling antarjenis pupuk yang berbeda. Interval pemberian sebaiknya tidak terlalu berdekatan. Pupuk kandang merupakan salah satu jenis pupuk organik yang mampu menyediakan unsur hara dan menumbuhkan mikroorganisme di dalam tanah. Dampak pemupukan ini menyebabkan tanah menjadi subur dan terjaga strukturnya karena tersedianya unsur hara dan mikroorganisme yang dibutuhkan oleh tanaman.

Pupuk kandang dapat berasal dari kotoran ayam, kambing, ataupun sapi. Pupuk kandang yang berasal dari hewan-hewan ini mengandung unsur hara makro seperti kalium, fosfor, natrium dan unsur hara mikro. Pupuk kandang ini sendiri juga mengandung mikroorganisme yang mampu membantu pertumbuhan tanaman jahe merah menjadi optimal. Di antara ketiga sumber pupuk kandang tersebut di atas, pupuk kandang dari kotoran kambing adalah yang paling baik untuk tanaman jahe merah.

Hal ini disebabkan pupuk kandang dari kotoran kambing mampu menyediakan unsur hara yang lebih seimbang karena bercampur langsung dengan air seni kambing. Hal tersebut tidak terjadi pada pupuk kandang dari kotoran ayam ataupun sapi. Pemupukan tanaman jahe merah dengan menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing akan menghasilkan rimpang yang lebih besar dan segar dibandingkan dengan pemupukan dari kotoran ayam atau sapi.

Namun, bagaimana bila hanya tersedia sedikit pupuk kandang? Atau bila kesulitan mendapatkan pupuk kandang dalam jumlah besar karena terkendala beberapa faktor? Untuk mengantisipasinya, pupuk kandang yang tersedia dapat dicampurkan dengan bahan organik lainnya, seperti limbah kulit kopi atau sekam padi. Hasil dari pemupukan dengan campuran 125 gr pupuk kandang, 250 gr limbah kulit kopi, dan 125 gr sekam padi per tanaman atau per polybag/planter bag/karung/pot akan menghasilkan rimpang jahe merah yang lebih besar dan segar.

Pupuk trichokompos merupakan campuran antara pupuk kompos (organik) dengan jamur Trichoderma. Jamur Trichoderma ini mampu menghambat pertumbuhan hama dan penyakit pada tanaman. Hal ini disebabkan jamur ini merupakan agen hayati yang bersifat antagonis bagi beberapa patogen tanaman. Dibandingkan dengan pupuk kompos biasa, pupuk trichokompos ini memiliki kelebihan, yaitu selain mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, juga mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit.

Di dalam pupuk trichokompos terkandung unsur hara utama, seperti natrium, fosfor, kalium, dan magnesium. Oleh karenanya, pemupukan tanaman jahe merah dengan menggunakan pupuk trichokompos, selain dapat menjaga sifat fisik tanah, juga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Jenis pupuk organik yang ketiga adalah pupuk bokashi. Bokashi adalah sebuah metode pengomposan yang menggunakan starter aerobik ataupun anaerobik untuk mengomposkan bahan-bahan organik.

Biasanya merupakan campuran dari molases, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi. Mirip dengan trichokompos, tetapi tanpa mikroorganisme yang spesifik. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya dengan cara yang lebih efisien (berulang). Starternya sangat bervariasi, mulai dari kotoran hewan, jamur, spora, cacing, ragi, acar, ataupun hasil-hasil produk fermentasi lainnya. Keuntungan penggunaan pupuk bokashi adalah dapat memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah.

Selain itu, mampu meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi, menghasilkan panen yang berkualitas dan berkuantitas baik. Dapat digunakan untuk meningkatkan kandungan material organik pada tanah yang bersifat keras, seperti tanah podzolik, meningkatkan aerasi tanah, dan mengurangi kepadatannya. Akan tetapi, jenis pupuk ini tidak meningkatkan unsur hara dalam tanah, hanya memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologinya saja.

Oleh karena itu, jika menggunakan pupuk bokashi, penggunaan pupuk anorganik atau jenis pupuk organik lainnya tetap diperlukan. Pemupukan dengan jenis pupuk yang manapun dilakukan pertama kali saat pembukaan lahan. Selanjutnya dapat dilakukan pemupukan sisipan atau tambahan saat usia tanaman jahe merah mencapai 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Pemberian pupuk sisipan ini dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas penyiangan, penggemburan, atau pembubunan.


  • Pemberian fungisida dan pestisida/insektisida

Fungisida dapat mulai diberikan pada saat penyimpanan bibit yang akan disemai dan pada diulangi saat pemeliharaan tanaman jahe merah. Pemberian fungisida pada saat pemeliharaan dan perawatan tanaman jahe merah biasanya dalam bentuk larutan yang dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang dapat membantu pertumbuhan tanaman. Larutan tersebut kemudian disemprotkan untuk mematikan bibit-bibit penyakit.

Jika diperlukan, penyemprotan pestisida atau insektisida sebagai langkah penanganan hama juga dilakukan secara berkala (untuk pencegahan) atau sesuai kebutuhan (untuk pemberantasan). Dosis dan jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan. Sedapat mungkin menggunakan bahan-bahan yang sifatnya alami atau ramah lingkungan agar tidak merusak ekosistem di sekitar tanaman dan membunuh organisme yang menguntungkan.

Hama, Gulma, dan Penyakit pada Tanaman Jahe Merah

Musuh utama dari tanaman produksi adalah hama dan penyakit yang menyerang. Selain itu, tanaman juga tak luput dari gulma di sekelilingnya. Beberapa jenis gulma yang biasanya terdapat pada areal tanam jahe merah, antara lain, rumput teki, ilalang, ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya. Adapun hama yang biasanya menyerang tanaman jahe merah, antara lain, kepik, ulat penggerek akar, lalat penggerek batang, lalat rimpang, dan kutu perisai.
  • Hama kepik menyerang bagian daun tanaman jahe merah sehingga menyebabkannya berlubang-lubang. - Ulat penggerek akar menyerang akar tanaman jahe merah sehingga menyebabkan akar menjadi kering dan mati.
  • Lalat penggerek batang biasanya menyerang pucuk atau tunas daun tanaman jahe merah yang masih menggulung. Selanjutnya hewan ini akan memakan jaringan batang tanaman jahe merah dari atas hingga pangkal batang. Akibatnya tanaman jahe merah akan mengering dan lama-kelamaan akan mati.
  • Lalat rimpang menyerang rimpang jahe merah dan membuatnya jadi kering.
  • Kutu perisai menyerang tanaman jahe merah dan menyebabkannya menjadi terlihat kekuning-kuningan. Selain itu kutu perisai juga dapat menyebabkan penurunan jumlah rimpang jahe merah.
Adapun beberapa penyakit yang biasanya menyerang tanaman jahe merah, antara lain, sebagai berikut.

  • Layu bakteri Penyakit layu bakteri

pada tanaman jahe merah disebabkan oleh bakteri R. solanacearum. Bakteri ini biasanya akan menyerang tanaman jahe merah pada usia 3 – 4 bulan. Ciri tanaman jahe merah yang terserang oleh penyakit ini adalah daun bagian bawah mulai melipat dan menggulung. Lalu daun mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning dan akhirnya akan mengering. Kemudian tunas batang tanaman jahe merah akan membusuk dan mati dalam posisi rebah.

Tanaman jahe merah yang terserang penyakit ini rimpangnya akan terlihat berwarna gelap dan sedikit membusuk. Apabila rimpang tersebut disayat atau dipotong akan mengeluarkan lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Faktor-faktor yang menyebabkan tanaman jahe merah dapat terserang penyakit ini, antara lain, suhu udara yang dingin dan genangan air yang menyebabkan kondisi tanah menjadi lembap.

  • Busuk rimpang

Penyakit busuk rimpang disebabkan oleh beberapa jenis cendawan, yaitu Rhizoctonia sp, Fusarium sp, dan Fusarium oxysporum. Penyakit ini menyerang rimpang tanaman jahe merah yang terluka hingga menjadi busuk. Ciri tanaman jahe merah yang terserang oleh penyakit ini adalah daunnya yang agak menguning. Biasanya cara untuk memastikan bahwa tanaman jahe merah memang terserang oleh penyakit busuk rimpang ini adalah dengan mencabut batang tanaman.

  • Bercak daun

Penyakit bercak daun disebabkan oleh serangan cendawan Phyllosticta sp. Penyakit ini dapat menular dengan perantaraan angin. Penyakit ini biasanya menyerang pada daun yang baru membuka secara penuh. Serangan penyakit ini dapat menyebabkan tanaman jahe merah menjadi mati.

Ciri-ciri tanaman jahe merah yang terserang oleh penyakit ini adalah pada daunnya terdapat bercak berukuran 3 – 5 mm. Selanjutnya bercak-bercak tersebut akan berwarna abu-abu dan di tengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam. Adapun bagian pinggir atau tepi daun tanaman jahe merah akan terlihat basah dan membusuk.


Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Jahe Merah

Di dalam pembudidayaan tanaman jahe merah ini, pengendalian hama dan penyakit diusahakan dengan menggunakan bahan-bahan organik. Hal tersebut bertujuan agar dampak dari pengendalian atau pemberantasan hama dan penyakit tidak merusak lingkungan sekitar. Apalagi mengingat tujuan penanaman jahe merah adalah sebagai tanaman obat atau tanaman herbal. Biasanya dalam langkah pengendalian ini sudah dilakukan secara terpadu sejak awal penanaman dalam bentuk pencegahan.

Tujuannya untuk menghindari serangan hama dan penyakit di kemudian hari. Langkah ini dikenal dengan istilah Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang memiliki konsep-konsep, antara lain, sebagai berikut.

  • Memilih bibit tanaman yang unggul dan sehat dan serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit sedari awal sehingga akan menjadikan tanaman tersebut tumbuh secara sehat.
  • Mengendalikan serangan hama dan penyakit dengan cara mengantisipasinya melalui tanaman-tanaman alami yang sekiranya mampu menjadi musuh hama dan penyakit tersebut.
  • Memilih bibit tanaman unggul yang sekiranya tahan terhadap serangan hama dan penyakit. - Mengendalikan serangan hama dan penyakit dengan teknik fisik atau mekanik, yaitu dengan memaksimalkan tenaga manusia untuk menanggulanginya.
  • Memprioritaskan teknik budi daya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang. Selain itu juga dengan cara menggilir jenis tanaman pada setiap masa tanamnya dengan tujuan untuk memutus siklus penyebaran hama dan penyakit.
  • Pengendalian serangan hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida, insektisida, dan herbisida organik yang ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak racun pada tanaman yang dipanen maupun pada area lahan tanam. Penggunaan bahan-bahan ini pun hanya dilakukan secara darurat apabila memang serangan hama dan penyakit dianggap benar-benar merugikan secara ekonomi.
  • Pemanfaatan musuh-musuh alami dari organisme-organisme pengganggu dengan membiarkan ekosistem di sekitar tanaman tetap terjaga sehingga populasi organisme yang berpotensi menjadi hama atau sumber penyakit dapat dikendalikan secara alami.

Berikut berbagai jenis tanaman alami yang dapat dijadikan pestisida atau insektisida nabati sehingga mampu menjadi musuh dari berbagai hama dan penyakit tanaman jahe merah.

  • Tembakau (Nicotiana tabacum) Tanaman tembakau mengandung nikotin yang dapat dijadikan insektisida alami, yaitu sebagai fumigan atau racun perut. Tanaman jenis ini dapat menjadi musuh alami dari hama serangga kecil, semisal Aphids.
  • Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) Tanaman jenis ini mampu menghasilkan zat piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat hama yang menyerang. Penggunaannya dapat mengendalikan dan memberantas lalat rumah, kutu, nyamuk, hama gudang, dan lalat buah.
  • Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) Tanaman jenis ini mengandung zat rotenone yang dapat digunakan sebagai bahan insektisida. Penggunaannya dapat melalui formulasi hembusan atau semprotan terhadap hama dan penyakit yang menyerang.
  • Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) Tanaman jenis ini memiliki kandungan zat azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Zat azadirachtin ini mampu mengendalikan dan memberantas serangga penghisap, semisal wereng, dan hama penggulung daun. Tanaman ini juga manjur untuk menangkal serangan virus semacam RSV, GSV, dan tungro.
  • Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) Tanaman bengkuang memiliki kandungan zat pakhirizida yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan insektisida dan larvasida.
  • Jeringau (Acorus calamus) Rimpang dari tanaman jenis ini mengandung zat asaron yang mampu dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama gudang, serangga, dan cendawan.


Pemanenan Tanaman Jahe Merah

Pemanfaatan tanaman jahe merah rata-rata untuk ramuan obat-obatan. Oleh karena itu, pemanenan tanaman jahe merah biasanya dilakukan setelah usianya mencapai 10 – 12 bulan atau usia tua. Hal ini berbeda bila dibandingkan dengan jahe putih besar yang dapat dipanen pada usia sekitar 4 bulan karena kebutuhannya sebagai bumbu masakan. Ciri-ciri tanaman jahe merah yang sudah siap panen adalah daunnya menguning dan batangnya mengering.

Cara memanen jahe merah adalah dengan menggali atau membongkar tanah dengan cangkul atau alat manual lainnya. Cara ini harus dilakukan dengan hati-hati supaya rimpang jahe merah tidak terkena alat sehingga menyebabkan luka. Rimpang jahe merah yang sudah dipanen kemudian dibersihkan dari kotoran atau tanah yang menempel. Apabila perlu, rimpang dapat dicuci dengan air bersih. Setelah itu rimpang-rimpang tersebut dijemur di atas papan atau daun selama 1 minggu.

Lalu rimpang-rimpang yang sudah kering dapat disimpan atau diletakkan di suatu tempat yang terbuka. Tempat penyimpanan ini harus dalam kondisi tidak lembap dan penumpukan rimpang juga jangan terlalu tinggi. Waktu yang baik untuk memanen tanaman jahe merah adalah pada musim kemarau. Pada saat itu tanah di atas rimpang akan kelihatan mengering. Apabila tidak dapat memanen tanaman jahe merah pada saat musim kemarau pertama, sebaiknya dilakukan pada musim kemarau berikutnya.

Pemanenan yang dilakukan pada musim penghujan tidak dianjurkan karena pada saat tersebut kadar air akan tinggi sementara bahan aktif yang terdapat pada rimpang dalam kondisi rendah. Hal tersebut akan menyebabkan kerusakan pada rimpang dan kualitasnya pun akan menurun sehingga memengaruhi harga.

Penanganan Pascapanen

Langkah-langkah penanganan rimpang jahe merah pascapanen meliputi penyortiran bahan dalam kondisi segar, pengolahan untuk menjadi bahan baku berbagai produk olahan, pengemasan, dan penyimpanan. Penyortiran bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa-sisa tanaman, dan gulma. Timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Cuci dengan air bersih, jika perlu semprot dengan alat penyemprot air bertekanan tinggi.

Amati air bilasan, apabila masih tampak kotor maka ulangi pembilasan hingga 1 – 2 kali lagi. Hindari proses pencucian yang terlalu lama agar kualitas senyawa aktif yang terkandung di dalam jahe merah tidak larut terbawa air. Hindari pula pemakaian air sungai untuk mencuci karena dikhawatirkan tercemar kotoran dan mengandung bakteri atau sumber-sumber penyakit lainnya. Selesai dicuci, tiriskan dalam wadah berlubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat benar-benar terbuang tuntas.

Setelah tidak ada lagi air yang menetes, masukkan ke dalam wadah plastik atau ember. Rimpang jahe merah dapat dikonsumsi secara segar ataupun dalam bentuk olahan. Sebagai bahan baku produk olahan, rimpang jahe merah harus melalui beberapa tahapan, yaitu perajangan, pengeringan, sortasi kering, dan pengemasan. Pengeringan selain bertujuan untuk mempermudah pengolahan rimpang jahe merah menjadi ekstrak atau bubuk, juga untuk mengawetkannya sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

  • Perajangan

Proses perajangan atau pemotongan rimpang jahe dapat dilakukan secara manual menggunakan pisau baja antikarat (stainless steel) beralaskan talenan atau menggunakan mesin pemotong. Potong rimpang melintang dengan ketebalan 5 – 7 mm. Setelah dipotong, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik atau ember.


  • Pengeringan

Proses pengeringan hasil perajangan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menjemur di bawah sinar matahari langsung atau menggunakan alat pemanas (oven). Pengeringan di bawah sinar matahari langsung menggunakan alas tikar atau rangka pengering. Pastikan rimpang tidak saling tumpang tindih atau bertumpuk. Bolak-balik setiap 4 jam sekali agar hasil pengeringan merata. Lindungi dari air, udara lembap, dan bahan-bahan di sekitarnya yang dapat mengontaminasi.

Pengeringan dengan oven dilakukan pada suhu 50 – 60oC. Letakkan rimpang jahe merah yang akan dikeringkan di atas loyang/tray, pastikan tidak saling bertumpuk. Proses pengeringan berlangsung selama 3 – 5 hari atau sampai kadar airnya di bawah 8%. Setelah proses pengeringan selesai, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan.

  • Sortasi kering

Bahan rimpang jahe merah yang telah dikeringkan dan ditimbang lalu disortasi kering dengan cara memisahkannya dari benda-benda asing, seperti kerikil, tanah, atau kotoran lainnya. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini. Tujuan penimbangan pada tahap ini adalah untuk menghitung kadar rendemennya.

  • Pengemasan

Setelah bersih, rimpang kering dikemas dalam kantong plastik atau karung bersih yang masih baru dan kedap udara. Beri label yang jelas pada wadah yang mencantumkan nama bahan, bagian tanaman, nomor/kode produksi, nama dan alamat penghasil, berat bersih, dan metode penyimpanan.

  • Pengemasan untuk ekspor

Jika akan diekspor, jahe segar dikemas dalam bentuk rimpang utuh, dikemas dengan jala plastik yang kuat. Berat maksimal 15 kg per kemasan. Dapat juga dikemas dalam keranjang bambu dengan berat sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli. Bagian luar kemasan diberi label yang menjelaskan identitas produk. Meliputi nama negara asal produk, nama/kode perusahaan/eksportir, nama barang, nama negara tujuan, berat kotor, berat bersih, dan nama serta alamat pembeli.

  • Penyimpanan

Rimpang jahe merah yang telah dikeringkan dan dikemas kemudian disimpan dalam gudang. Gudang tempat penyimpanan rimpang jahe merah sebaiknya tidak lembap, suhu ruangan tidak lebih dari 30oC, ventilasinya baik dan pertukaran udara lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang dapat menurunkan kualitas bahan, memiliki penerangan yang cukup, bersih, dan bebas dari hama gudang.

Peluang Agribisnis

Budi daya jahe merah dapat menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan. Terutama, belakangan ini setelah pamornya semakin menanjak dengan adanya berbagai produk olahan jahe merah dalam berbagai merek. Permintaan akan ekspor jahe merah juga sebenarnya terus meningkat, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pasar dunia karena sebagian besar hasil produksi jahe merah habis terserap kebutuhan dalam negeri.

Rimpang jahe merah yang telah melalui proses pengeringan siap diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk olahan dalam bentuk lain. Misalnya, ekstrak atau bubuk jahe merah untuk bahan baku obat-obatan herbal atau bahan baku minuman. Fluktuasi harga jahe merah, basah ataupun kering, cenderung stabil karena tingkat kebutuhan yang juga stabil dan tetap ada sepanjang tahun.

Standar Produksi

Standar mutu produk rimpang jahe merah, baik untuk ekspor maupun untuk pasar lokal, dibuat berdasarkan SNI-01-3179-1992. Dalam standar mutu tersebut tercantum tiga klasifikasi, yaitu mutu I, II, dan III. Syarat umum penetapan standar tersebut meliputi tingkat kesegaran, ada dan tidaknya rimpang yang bertunas, kenampakan irisan melintang, bentuk rimpang, dan ada tidaknya serangga hidup yang mengontaminasi.

Mutu tertinggi apabila kondisi rimpang segar, tidak ada rimpang yang bertunas, irisan melintang tampak cerah, bentuknya utuh, dan bebas dari kontaminasi serangga hidup. Untuk ukuran berat, mutu I berbobot rata-rata di atas 250 gr per rimpang, mutu II 150 – 249 gr per rimpang, dan mutu III di bawah 150 gr per rimpang. Dari segi ada dan tidaknya kulit yang terkelupas pada tiap rimpang, standar mutu I dan II menunjukkan 0%, sedangkan mutu III kurang dari 10%.

Berdasarkan ada tidaknya kontaminasi benda asing, mutu I dan II menunjukkan hasil 0%, sementara mutu III di bawah 3%. Adapun berdasarkan ada tidaknya rimpang yang berkapang, mutu I dan II menunjukkan hasil 0%, sedangkan mutu III kurang dari 10%. Pengujian mutu atau kualitas produk jahe merah dilakukan di laboratorium oleh petugas yang berkompeten dari badan yang berwenang melakukan pengujian.


Manfaat Jahe Merah bagi Kesehatan

Sejak lama tanaman jahe dikenal memiliki manfaat kesehatan manusia. Demikian pula halnya dengan jahe merah yang memiliki banyak manfaat. Manfaat jahe merah bagi kesehatan manusia antara lain sebagai berikut.

  • Membantu menurunkan berat badan Jahe merah mampu membantu menurunkan berat badan dengan cara melebarkan pembuluh darah. Jahe merah yang dikonsumsi akan menimbulkan panas dan menghasilkan keringat. Keluarnya keringat tersebut akan turut membawa lemak, sehingga secara otomatis berat badan pun akan berkurang.
  • Menjaga kondisi jantung Kandungan zat yang terdapat pada jahe merah mampu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol. Padahal manusia pada umumnya memiliki kadar trigliserida dan kolesterol yang tinggi akibat konsumsi makanan sehari-hari.
  • Mengurangi mabuk perjalanan Rasa jahe merah yang pedas akan mampu menghangatkan tubuh dan menghilangkan mual. Hal ini menjadikan jahe merah sangat cocok dikonsumsi bagi mereka yang biasa mabuk dalam perjalanan.
  • Mencegah kanker usus Sejak zaman dahulu khasiat jahe merah sudah begitu dipercaya mampu membersihkan saluran usus manusia dari beragam penyakit. Beberapa penelitian modern juga menyatakan bahwa kanker usus dapat dicegah melalui konsumsi jahe merah secara rutin.
  • Mengobati sakit kepala Biasanya orang akan mencari minuman hangat/panas untuk dikonsumsi saat merasakan sakit kepala. Jahe merah merupakan salah satu alternatif yang dipilih karena mampu menghasilkan panas pada pembuluh darah dan menjadikannya lancar, sehingga mampu mengobati sakit kepala yang menyerang.
  • Mengobati gatal akibat alergi Banyak orang pernah mengalami alergi dan menyebabkan gatal pada tubuh. Untuk mengatasi gatal akibat alergi dapat dipergunakan jahe merah karena menghasilkan panas sehingga mampu mengurangi rasa gatal tersebut.
  • Meningkatkan imunitas tubuh Saat ini banyak virus dan bakteri yang menyerang tubuh manusia. Untuk itu diperlukan ketahanan atau imunitas tubuh yang prima agar terhindar dari serangan virus dan bakteri. Jahe merah yang dikonsumsi secara rutin telah terbukti memiliki manfaat yang mampu meningkatkan sistem kekebalan atau imunitas tubuh manusia.
  • Mengurangi rematik Rasa jahe merah yang pedas dan menghasilkan panas akan sangat membantu mengurangi penyakit rematik. Pada umumnya penyakit rematik akan terasa saat tubuh merasakan dingin. - Mengurangi sakit gigi Jahe merah yang direbus dan diambil sarinya dapat membantu mengurangi sakit gigi. Air rebusan jahe merah tersebut dapat dikumur setiap hari hingga sakit gigi hilang.
  • Menambah nafsu makan Jahe merah dapat dijadikan jamu tradisional yang mampu meningkatkan selera atau nafsu makan, terutama bagi anak-anak yang susah makan.

Demikian sedikit informasi mengenai budidaya tanaman jahe merah. Semoga informasi ini dapat berguna bagi para calon pembudidaya tanaman jahe merah di Indonesia. Apabila membutuhkan bibit tanaman jahe merah yang siap tanam, Anda dapat mengakses situs kami di www.samudrabibit.net. Di situs kami tersedia lengkap bibit-bibit tanaman dengan harga murah, baik secara grosir maupun eceran. Kami melayani transaksi secara online juga transaksi langsung di kebun pembibitan kami.

Selain bibit tanaman berkualitas baik, kami juga menyediakan berbagai perlengkapan berkebun dan nutrisi tanaman dalam bentuk pupuk, hormon, ataupun zat pengatur tumbuh, juga obat antistress khusus tanaman. Silakan kunjungi kami secara langsung di Dusun Kandangsari Kwarasan RT 04 RW 07 Gaum, Tasikmadu, Karanganyar – Solo, Jawa Tengah 57761.
Blog Post Lainnya
Mau tanya - tanya dulu?
0823-1087-4445
@2014 - 2020 Samudrabibit Inc.