12 Maret 2020 8:20 am

Markisa untuk Tanaman Budi Daya dan Tanaman Hias

Markisa untuk Tanaman Budi Daya dan Tanaman Hias
Markisa untuk Tanaman Budi Daya dan Tanaman Hias

Oleh-oleh khas apa yang biasanya dibawa dari Medan? Pertama, kue bika ambon, kue unik bercita rasa lezat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kota Ambon. Kedua, sirup markisa. Sekalipun sirup dari buah dengan rasa dan aroma khas ini dapat ditemukan di berbagai tempat lainnya di Indonesia dengan berbagai merek, tetap saja menjadi buah tangan yang identik dengan kota di Sumatra Utara tersebut.

Mengapa buah ini identik dengan kota tersebut? Apakah tanaman ini memang asli dari daerah itu? Adakah sentrapembudidayaan buah markisa yang lain selain di Sumatra Utara? Dapatkah tanaman buah yang unik ini ditanam di daerah lainnya? Sulitkah menanam dan memelihara tanaman markisa hingga mendapatkan buah yang berkualitas baik? Apakah buah ini hanya dapat diolah menjadi sirup?

Markisa dapat tumbuh sama baiknya di kebun, taman atau pekarangan, juga dalam pot. Artikel ini akan membahas mengenai berbagai fakta unik dan menarik mengenai tanaman markisa, serta cara menanam dan merawatnya baik untuk tanaman hias atau koleksi di rumah maupun untuk budi daya komersial di perkebunan. Selamat mengikuti.


Asal-usul, persebaran, dan sentra budi daya markisa di Indonesia

Markisa bukanlah tanaman asli Indonesia. Habitat asli tanaman ini adalah wilayah tropis dan subtropis negara-negara Amerika Selatan, yaitu Brazil, Bolivia, Ekuador, Venezuela, Kolombia, dan Peru. Habitat aslinya adalah hutan hujan pegunungan Andes dan hutan di sepanjang sungai Amazon. Jenis-jenis markisa asam, seperti markisa ungu dan kuning adalah yang paling luas persebarannya, dibudidayakan di banyak negara.

Tidak hanya di Amerika Selatan dan Asia yang memiliki iklim tropis, markisa juga dibudidayakan secara besar-besaran di Australia yang menjadi pemasok terbesar kebutuhan markisa dunia (70%). Tidak diketahui secara pasti bagaimana markisa bisa berada di Indonesia. Namun, pembudidayaan markisa sudah sejak lama ada dan menjadi boomingsejak tahun 2003.

Sentra budi daya markisa di Indonesia terletak di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. Sentra budi daya yang terbesar berada di Sulawesi Selatan (Kabupaten Gowa) dan Sumatra Utara (Kabupaten Karo). Ada pula jenis markisa yang khusus dibudidayakan di Sumatra Barat. Begitu luasnya persebaran markisa sehingga buah ini memiliki banyak nama. Di Indonesia saja ada yang menyebutnya buah negeri (Jawa), pasi (Sunda), markisa, dan buah susu (Melayu).

Nama-nama lainnya dalam berbagai bahasa di dunia, antara lain, linmangkon (Thailand), lactiên/chanh dȃy/chanh leo (Vietnam), grenadille (Prancis), passion fruit atau granadilla (Inggris), pasiflora (Israel), passionaria (Filipina), maracuya (Spanyol), maracuja (Portugis), dan liliko’I (Hawaii). Sebutan granadilla juga digunakan di negara-negara benua Amerika, Australia, dan Afrika.


Klasifikasi markisa dan berbagai kultivarnya

Dalam bahasa Inggris, markisa disebut passion fruit. Taksonomi atau klasifikasi tanaman markisa sebagai berikut.

Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Passifloraceae
Genus : Passiflora L.
Spesies : Passiflora edulis

Ada 400 jenis markisa yang tumbuh di dunia. Di Indonesia yang dikenal ada 4 jenis, dua di antaranya sudah dibudidayakan. Jenis-jenis markisa yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah markisa ungu (Passiflora edulis var. edulis/Passiflora edulis Sims) atau disebut juga buah negeri/siuh dan markisa kuning (Passiflora edulis var. floricarpa Degener) atau disebut juga buah susu/buah rola. Jenis-jenis lainnya, yaitumarkisa konyal (Passiflora ligularis) atau markisa manis danmarkisa erbis (Passiflora Quadrangularis) atau markisa besar/sayur.

Jenis-jenis lain yang masih berhubungan, antara lain, markisa hutan/liar (Passiflora foetida), markisa wangi (Passiflora alata), markisa merah (Passiflora coccinea), maypop (passiflora incarnata), markisa kuning (Passiflora laurifolia), kalabas manis (Passiflora maliformis), dan markisa pisang (Passiflora mollissima). Dari 50 – 60 jenis yang dapat dikonsumsi, ada 6 spesies yang enak dimakan, yaitu P. edulis, P. flavicarpa, P. hybrida, P. ligularis, P. quadrangularis, dan P. foetida.

Dari jenis-jenis tersebut, berkembang pula varietas-varietas lain, termasuk varietas hibrida. Varietas markisa unggulan di Indonesia, misalnya, markisa gumanti (markisa bunga putih) dan markisa super solinda (markisa bunga ungu super).Masing-masing jenis dan varietas memiliki kelebihan dan kekurangan, itulah sebabnya varietas hibrida lalu muncul. Setiap jenis memiliki ciri, karakteristik, dan syarat tumbuh yang berbeda. Berdasarkan rasa, markisa terbagi atas dua macam, markisa asam dan markisa manis.

Markisa ungu, markisa kuning, dan markisa merah termasuk dalam jenis-jenis markisa asam. Markisa kuning merupakan hasil mutasi dari markisa ungu yang dapat beradaptasi di dataran rendah, sementara markisa ungu dan konyal hidup di dataran tinggi. Markisa ungu adalah jenis yang paling banyak dibudidayakan, termasuk di sentra-sentra budi daya di Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Markisa kuning yang kulit buahnya berwarna kuning dengan bintik-bintik putih dibudidayakan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Markisa konyal ditanam di daerah Lembang, Jawa Barat. Sedangkan markisa erbis tidak dibudidayakan, biasanya hanya dijadikan tanaman pagar dan tanaman hias karena bunganya yang indah. Markisa hibrida yang merupakan hasil persilangan markisa ungu dan markisa kuning dibudidayakan di Sumatra Barat.


Karakteristik dan morfologi

Secara umum, tanaman markisa memiliki ciri tumbuhan semak perdu tahunan (perennial) yang bersifat merambat. Panjang rambatannya minimal 5 m dan dapat terus memanjang hingga lebih dari 10 m. Markisa liar bahkan dapat merambat hingga 20 m lebih. Akar terdiri atas akar tunggang dan akar samping berupa serabut lunak. Pada markisa ungu dan konyal, perakaran pendek dan dangkal. Sementara markisa kuning memiliki akar yang dalam.

Batangnya berdiameter kecil, tipis langsing, lunak, berbentuk persegi, halus, bersulur pilin atau spiral, dan memiliki banyak percabangan yang tumbuhnya tumpang tindih. Markisa ungu dan konyal batangnya kecil, langsing, halus terkulai, dan panjang. Ruas batang markisa ungu agak pendek, hanya 5 – 7 cm. Markisa kuning dan erbis memiliki batang yang cukup besar dan kokoh, panjang ruas batang 7 – 10 cm. Warna batangdan sulur hijau hingga hijau kecoklatan, batangnya merupakan batang semu.

Sulur-sulurnya yang berpilin berfungsi untuk membantu perambatan dengan cara mengikatkan diri pada media rambatnya. Daun markisa sangat rimbun, tumbuh bergantian pada batang atau cabang. Merupakan daun tunggal dan tumbuh tersebar. Tangkai daun berbentuk persegi dengan panjang 2 – 6 cm. Dalam satu tangkai terdapat 4 – 6 lembar daun. Bentuk daun bervariasi, mulai dari bulat telur dengan bagian tepi daun rata, ujungnya runcing dengan bagian pangkal membulat,pertulangan menyirip.

Ada pula yang pertulangannya menjari, tiap helai daun memiliki 3 caping, tepinya bergerigi. Pada markisa erbis terdapat pula daun yang berbentuk hati. Panjang daun antara 7 – 20 cm dan lebarnya 5 – 15 cm. Semua varian berwarna hijau dengan bagian atas permukaanlicin mengilap, sementara permukaan bawah lebih pucat dan kusam. Bunga muncul di ketiak daun, merupakan bunga tunggal. Ukurannya bervariasi, rata-rata berdiameter 7 – 8 cm. Bunga markisa ungu lebih kecil, sementara bunga markisa erbis lebih besar.


Bentuknya membulat seperti mangkuk dan berkelamin ganda (hemaprodit). Tangkainya bergerigi sepanjang 3 – 4 cm, berwarna hijau. Mahkota bunga berbentuk lonjong, permukaannya beralur, warnanya bermacam-macam tergantung jenisnya, tetapi umumnya ungu atau memiliki semburat ungu barvariasi dengan warna lain. Di samping mahkota, terdapat pula mahkota tambahan berupa benang-benang bergelombang dengan panjang antara 2 – 4 cm.

Benang sari bertangkai, bentuknya tabung, panjangnya ±6 cm, warnanya ungu. Kepala benang sari berbentuk silindris, panjangnya ±6 cm, warnanya putih. Putiknya pendek berwarna kuning dengan kelopak lonjong berwarna hijau. Aromanya harum khas markisa. Bunga dari semua jenis markisa melakukan penyerbukan silang dengan bantuan lebah madu. Terkadang untuk mendapatkan hasil panen yang lebih optimal, penyerbukan harus dibantu manusia dengan menyentuhkan kepala benang sari ke kepala putik secara manual.

Bakal buah markisa berbentuk unik. Setelah beberapa minggu baru akan berubah seperti bakal buah pada umumnya dengan warna hijau keputih-putihan. Buah biasanya berwarna hijau ketika masih muda, lalu berubah menjadi ungu, kuning, atau merah setelah matang. Kecuali jenis markisa konyal yang berwarna ungu ketika masih muda dan berubah menjadi jingga kekuningan setelah matang atau markisa erbis yang berwarna hijau kekuningan setelah matang.

Kulit buah markisa kuning berwarna kuning dengan bintik-bintik kuning sebagai ciri khas. Sebagian besar memiliki bentuk bulat atau oval dengan diameter 3,5 – 8cm dan panjang 4 – 10 cm, tetapi ada pula yang lonjong dan berukuran besar, seperti markisa erbis, dan ada pula yang berukuran lebih kecil, seperti markisa hutan. Bobot rata-rata antara 60 – 130 gr. Rasa manis asam identik dengan buah markisa, kecuali untuk markisa konyal yang rasa manisnya lebih dominan dan markisa erbis yang rasanya cenderung hambar.

Rasa dan aroma buah markisa datang dari daging buahnya. Daging buah markisa lebih menyerupai lapisan pembungkus biji yang disebut pulp. Pulp ini biasanya transparan, lunak, berair. Ada yang berwarna putih, kuning muda, atau jingga menurut varietasnya. Makin besar buah, pulpnya makin tebal, dan tingkat keharuman serta keasamannya makin tinggi. Kulit buah markisa tipis agak keras, licin, mudah dipecahkan saat masih muda, dan setelah masak menjadi lentur.

Bijinya berjumlah puluhan,keras, tetapi dapat dimakan bersama pulp. Umumnya biji berwarna hitam, adapula yang berwarna coklat kekuningan (markisa konyal). Bentuknya bulat agak gepeng. Sari buah paling banyak dapat diperoleh dari markisa ungu, warna sari buahnya kuning-jingga. Adapun markisa kuning memiliki aroma yang mirip dengan jambu biji.


Syarat tumbuh

Markisa memerlukan tanah yang gembur dan subur untuk tumbuh. Markisa kuning dapat ditanam di dataran rendah, sementara markisa ungu akan tumbuh maksimal di dataran tinggi 800 – 1500 mdpl. Secara umum berbagai tanaman markisa dapat menyesuaikan diri dengan iklim di ketinggian 600 – 1600 mdpl, kecuali markisa manis yang akan tumbuh lebih optimal di ketinggian di atas 1700 mdpl hingga 2600 mdpl. Markisa konyal lebih cocok berada di ketinggian 1000 – 2000 mdpl, namun masih dapat tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian ±600 mdpl selama berada di iklim basah.

Tanah tidak boleh asam, kandungan airnya cukup. Curah hujan minimal 1200 mm per tahun dengan tingkat kelembapan nisbi 70 – 90%. Suhu lingkungan antara 20 – 30oC (toleransi minimal 15oC) dan tidak banyak angin. pH tanah antara 6,5 – 7,5. Kandungan bahan organik dalam tanah cukup dan drainase baik. Jika kondisi tanah berlereng, kemiringan sebaiknya tidak lebih dari 15%. Jika lebih, harus dibuat terasering. Jika tanah bersifat asam, harus ditambahkan kapur dolomit sebelum penanaman.


Teknik-teknik pembibitan

Pembibitan markisa dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Cara generatif yaitu pembibitan dengan menggunakan biji sebagai benih. Adapun cara vegetatif pada markisa meliputi dua cara, stek dan sambung pucuk. Cara apapun yang dipilih, tetap memerlukan pohon indukan. Syarat pohon induk, antara lain, produktif, berasal dari varietas unggul, pertumbuhannya sehat, umur minimal 3 tahun, dan bebas dari hama dan penyakit.

Pembibitan dari biji

Pembibitan markisa dari biji memerlukan buah markisa dari pohon induk terpilih yang besar, sehat, dan kualitasnya baik. Bisa juga menggunakan buah markisa yang dibeli untuk dikonsumsi, tetapi cara ini berisiko karena sumber pohon induk tidak diketahui. Pilih dahulu jenis markisa apa yang akan ditanam, sesuai dengan kondisi lahan. Alternatif lain untuk mendapatkan biji adalah dengan membeli biji untuk benih dari tempat-tempat penjualan bibit.

Biasanya benih yang dijual sudah merupakan benih jadi yang siap tanam. Untuk buah yang dipetik langsung dari pohon untuk diambil bijinya sebagai benih, simpan selama 1 – 2 minggu hingga berkeriput dan matang sempurna. Buka buah dengan cara membelahnya menggunakan pisau atau tangan. Ambil bijinya, bersihkan dari lendir atau pulp yang menempel dengan cara dicampur abu dapur, kemudian diremas-remas dan dicuci dengan air mengalir hingga bersih.

Keringkan di bawah sinar matahari selama 1 hari. Setelah kering, biji yang langsung disemaikan akan berkecambah dalam 2 – 3 minggu. Biji juga dapat disimpan dahulu dalam wadah dan diletakkan di tempat teduh jika waktu penanaman belum tepat, tetapi menyimpan biji untuk benih berisiko menurunnya peluang berkecambah. Persemaian dapat dilakukan pada wadah-wadah persemaian, bedengan, atau langsung dalam polybag.

Wadah persemaian dapat menggunakan kotak plastik atau kayu. Media untuk persemaian meliputi campuran tanah, pasir/sekam padi, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Bedengan dibuat selebar 1 m dengan panjang sesuai kebutuhan. Buat larikan-larikan kecil berjarak 7 – 10 cm pada media semai. Tanam benih dalam larikan-larikan tersebut, jarak antarbenih sebaiknya tidak terlalu rapat (3 – 4 cm). Tanam sedalam 1 – 1,5 cm dan tutup kembali dengan media semai.

Jika menyemaikan langsung dalam polybag, satu polybag dapat diisi 2 – 3 benih. Sirami media semai secukupnya, jaga kelembapan tanah jangan sampai kering atau tergenang. Letakkan wadah semai atau polybag di tempat yang teduh agar tidak terkena paparan sinar matahari secara langsung ataupun curah hujan yang berlebihan. Jika penyemaian menggunakan bedengan, buat naungan di atas bedengan dari tiang-tiang kayu atau bambu yang di atasnya ditutup dengan paranet.


Pantau perkembangan bibit sambil melakukan pemeliharaan berupa penyiraman teratur dan pemantauan dari organisme ataupun mikroorganisme pengganggu. Setelah kecambah tumbuh dan memiliki 4 – 5 helai daun dalam waktu 4 – 6 minggu, bibit yang disemaikan dalam wadah persemaian atau bedengan dipindahkan ke polybag. Begitu pula bibit yang disemaikan dalam polybag dipindah ke dalam polybag individu, satu benih dalam satu polybag.

Gunakan polybag berukuran 10 x 15 cm, isi dengan campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1. Susun polybag yang sudah ditanami secara berjajar di atas tanah atau bedengan yang diberi naungan yang tidak terlalu rapat. Rawat bibit dengan penyiraman, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Sirami dua hari sekali, terutama jika tidak ada hujan. Berikan pupuk NPK dengan dosis 10 – 20 kg per 10 liter air sebanyak 100 cc per polybag setiap 15 hari sekali.

Siangi gulma yang muncul pada media, segera singkirkan bibit yang terkena serangan hama ataupun penyakit. Bibit yang sudah setinggi 50 cm, berdaun lebih dari 8 helai, dan berumur 3 – 4 bulan di persemaian sudah dapat ditanam di lahan permanen atau di halaman rumah.


Pembibitan dengan cara stek

Memperbanyak tanaman markisa dengan cara stek memiliki keuntungan dapat memproduksi bibit dalam jumlah banyak, lebih cepat berbuah, dan bibit yang dihasilkan mempunyai sifat yang sama dengan pohon indukan. Pilihlah cabang dari pohon bibit unggul yang telah berproduksi dengan umur minimal satu tahun, diameter cabang 1 cm, sudah berkayu, kualitas tanaman dan buah yang dihasilkan baik, serta berada dalam kondisi sehat.

Potong-potong cabang sepanjang 25 cm, tiap potong memiliki 3 – 4 mata tunas. Gunakan pisau atau gunting pangkas yang tajam. Siapkan polybag berukuran 10 x 18 cm untuk persemaian, isi dengan media campuran tanah, sekam padi, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1). Oleskan zat pengatur tumbuh khusus akar pada bagian pangkal batang stek atau rendam sebentar dalam hormon pertumbuhan akar (agar jangan sampai terbalik, perhatikan arah tumbuh mata tunas).

Kemudian, tancapkan batang stek ke dalam media semai yang sudah disiapkan sedalam ±5 cm. Pastikan posisi batang stek tegak dan tidak terbalik. Polybag yang sudah diisi dengan bakal bibit diletakkan berjajar di tempat teduh, bisa juga dibuatkan bedengan untuk tempat meletakkan polybag semai dan diberi naungan berupa sungkup plastik. Sirami secara rutin. Jika sudah tampak tumbuh akar dan tunas, sungkup dapat dibuka. Pelihara bibit di persemaian secara intensif selama 3 – 4 bulan.


Pembibitan dengan cara sambung

Pembibitan dengan cara sambung memerlukan bibit semaian untuk batang bawah dan cabang atau tunas dari pohon induk unggulan untuk batang atas. Cara ini lebih memakan waktu, tetapi kualitas tanaman yang dihasilkan dapat lebih baik karena mengambil sifat-sifat terbaik dari dua varietas yang berbeda.

Sebagai batang bawah dapat menggunakan bibit semaian dari biji buah varietas unggul yang tahan penyakit, terutama penyakit tular tanah seperti jamur dan nematoda, sementara batang atas mengambil cabang atau tunas dari pohon induk yang terbukti produktif dan berkualitas baik, tergantung varietas mana yang ingin dikembangkan. Pembibitan dengan cara sambung ada dua macam, sambung pucuk (sambung celah) dan sambung samping (mata tempel).

Prosedur pembibitan dengan cara sambung pucuk, yang pertama adalah mempersiapkan batang bawah. Ambil biji dari buah varietas unggul yang tahan penyakit serta punya perakaran dan batang yang kuat. Rendam biji dalam air lalu remas hingga terpisah satu sama lain dan pulpnya mengelupas. Semaikan dalam bak semai berisi media campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1 : 1 : 1). Beri jarak antarbenih 2,5 x 2,5 cm, benamkan benih sedalam 1 – 2 cm.

Letakkan wadah/bak persemaian di tempat teduh atau buatkan naungan. Setelah berumur 4 minggu, pindahkan semaian ke dalam polybag berukuran 10 x 18 cm, satu bibit untuk tiap polybag. Letakkan di tempat teduh atau di bawah naungan. Pelihara secara intensif, meliputi penyiraman, penyiangan, dan pemupukan menggunakan NPK 1 – 3 gr per bibit setiap 2 minggu sekali. Kendalikan hama dan penyakit sesuai kebutuhan. Setelah berumur 4 bulan dan memiliki 6 – 8 helai daun, bibit siap digunakan sebagai batang bawah.

Batang atas (entres) diambil dari tunas pucuk tanaman yang sehat, normal, diameternya sama atau sedikit lebih kecil daripada diameter calon batang bawah. Potong tunas pucuk untuk entres sepanjang ±10 cm atau 3 ruas. Gunakan pisau atau gunting pangkas yang tajam dan steril. Hindari memotong cabang untuk entres ketika kondisinya basah karena air pada permukaan entres dapat mengundang datangnya jamur patogen yang dapat mengganggu proses penyambungan batang atas dan batang bawah.


Potong batang bawah yang sudah dipersiapkan pada ketinggian 25 – 30 cm dari permukaan media semai, pertahankan daun yang tersisa. Buat belahan pada pucuk batang bawah yang habis dipotong, lalu sisipkan entres yang bagian pangkalnya sudah dipotong meruncing. Balut dengan plastik transparan dan kencangkan dengan tali rafia. Sungkup entres dengan kantong plastik transparan agar tetap lembap dan mengurangi penguapan. Letakkan di tempat yang teduh.

Cara pembibitan sambung dengan mata tempel hampir sama dengan sambung pucuk. Hanya saja, cara penyambungannya tidak dengan membelah batang bawah lalu menyisipkan batang atas/entres, melainkan dengan mengerat kulit batang bawah sebesar entres yang diambil dari mata tunas pohon indukan varietas unggul. Jika mata tunas dikerat dari pohon indukan hingga sedalam batas kulit dengan kambium, kulit batang bawah dikerat hingga kambiumnya tampak.

Tempelkan mata tunas pada kambium batang bawah yang terbuka, tutup sambungan dengan isolasi atau plastik transparan atau tali rafia serapat mungkin agar tidak kemasukan air. Sungkup dengan kantong plastik transparan dan letakkan di tempat yang teduh Pelihara secara intensif sambil memerhatikan hasil sambungan. Lakukan penyiraman, penyiangan, dan pemupukan secara rutin. Gunakan pupuk NPK sebanyak 1 – 3 gr per bibit dengan interval pemberian 2 minggu sekali.

Kendalikan hama dan penyakit yang mungkin menyerang dengan bijaksana. Jika mata tunas telah mulai tumbuh, sungkup dapat dilepas. Biarkan balutan yang menutupi sambungan hingga bibit siap ditanam, yaitu sekitar 1 bulan setelah bibit disambung.


Penanaman bibit markisa

Markisa dapat dijadikan tanaman komoditi atau tanaman hias. Lokasi penanaman sangat ditentukan oleh tujuan penanaman. Sebagai tanaman hias, tentunya markisa dapat ditanam di mana saja, di pekarangan, taman, atau dalam pot dan diletakkan di balkon rumah yang terbuka. Sebagai tanaman komoditi perlu diperhitungkan lokasi yang ideal untuk efisiensi biaya produksi dan pemeliharaan.

Pilih letak kebun yang strategis, mudah dijangkau, akses transportasinya mudah, dekat dengan tempat pengolahan ataupun pasar, dekat dengan sumber air, dan mudah mendapatkan tenaga kerja. Bibit markisa siap tanam jika tingginya sudah lebih dari 50 cm dan memiliki minimal 3 – 4 helai daun. Sebelum melakukan penanaman, tanah atau lahan untuk menanam markisa harus diolah terlebih dahulu. Jika lahan Anda tidak terlalu luas atau hanya memanfaatkan tanah pekarangan, tanah dapat digemburkan dengan cangkul.

Tetapi jika Anda bermaksud membudidayakan markisa dalam skala besar pada areal perkebunan yang cukup luas, Anda memerlukan traktor untuk mengolah tanah.Proses penanaman sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan untuk menghindari stress pada bibit akibat kekurangan air dan mempercepat umur berbunga. Bersihkan kebun dari gulma atau tanaman pengganggu serta sisa-sisa tanaman yang sudah mati atau tanaman yang terdahulu.

Usahakan tanaman pengganggu hilang hingga akarnya. Jika lahan memiliki kemiringan lebih dari 15%, pembersihan gulma harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat meningkatkan peluang terjadinya erosi atau penggerusan tanah. Pengolahan tanah sebaiknya mengikuti kontur tanah. Lahan yang miring sebaiknya dibuat berbentuk teras dan diperkuat dengan tanaman-tanaman pakan ternak, seperti rumput gajah, rumput raja, atau gamal yang sekaligus bermanfaat mengurangi risiko erosi.

Setelah kebun selesai diolah, tentukan letak lubang tanam pertama sekitar 2 – 2,5 m dari pinggir atau batas kebun. Jika Anda menanam markisa sebagai tanaman hias atau koleksi di pekarangan rumah, jarak ini dihitung dari pagar atau tanaman lain sudah cukup memadai. Untuk perkebunan, lanjutkan dengan menentukan letak lubang-lubang tanam berikutnya dengan jarak antarlubang 4 x 3 m, 3 x 3 m, 2 x 5 m, atau 3 x 5 m tergantung pola tanam yang dipilih.

Apabila menggunakan tanaman selaatau sistem tumpangsari (misalnya, kopi, tomat, kentang, kubis, buncis, dan brokoli), berarti jarak antarlubang tanam dibuat lebih renggang. Namun, jika menggunakan pola tanam monokultur, beri jarak tanam yang lebih rapat, misalnya 2 x 3 m atau 2 x 4 m. Buat lubang tanam berukuran 25 x 25 cm dengan kedalaman 30 cm untuk varietas yang perakarannya dangkal atau 40 x 40 cm hingga 50 x 50 cm untuk varietas yang perakarannya dalam.

Pupuk kandang sebanyak 2 – 3 kg (untuk pekarangan) atau 10 – 20 kg (untuk perkebunan) dapat dimasukkan langsung ke dalam lubang tanam lalu dikeringanginkan bersama lubang tanam selama 3 hari atau dicampur dengan tanah gembur dan sekam padi lalu disiapkan di sekitar lubang tanam selama lubang tanam dikeringanginkan.


Setelah tiga hari, campuran tanah, sekam padi, dan pupuk kandang atau tanah galian di sekitar lubang tanam dimasukkan ke dalam lubang tanam hingga 2/3 lubang atau menyisakan hanya sekitar 10 cm dari permukaan lubang hingga ke dalam. Ambil bibit yang sudah siap tanam, sirami medianya hingga basah agar dapat lebih mudah dilepaskan dari polybag. Robek polybag dengan hati-hati agar media tidak hancur dan akar tidak putus.

Masukkan bibit bersama medianya ke dalam lubang tanam, lalu timbun dengan sisa tanah galian hingga permukaan tanah di sekitar batang rata dan seluruh perakaran tertutup tanah. Pasang ajir dan tiang rambatan di samping bibit, ikatkan dengan tali rafia tetapi usahakan tidak terlalu kencang. Sirami permukaan tanah secukupnya hingga tanah tampak basah dan memadat.

Para-para atau rambatan dapat dibuat sebelum bibit ditanam atau segera setelah bibit ditanam dengan catatan dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu akar. Buat tiang pancang dari kayu yang tahan hujan dan tidak disukai rayap. Pembuatan para-para di kebun dapat menggunakan sistem T, sistem pagar, atau memanfaatkan tanaman hidup. Rambatan sistem T menggunakan dua tiang pancang dengan tiang horizontal di kedua puncaknya, lalu dihubungkan dengan kawat atau tali.

Tinggi tiang utama ±2 – 2,5 m, ditanam sedalam 50 cm. Jarak antartiang utama disesuaikan dengan jarak tanam dan pola penanaman. Sistem ini biasanya diterapkan dalam penanaman anggur. Tanaman markisa yang dirambatkan dengan sistem pagar memiliki produktivitas lebih tinggi. Beri jarak 3 m agar pengaturan cabang-cabangnya lebih mudah.

Cara lain yang dapat meningkatkan produksi buah yang lebih banyak adalah memanfaatkan tanaman hidup sebagai media rambatan, seperti pucuk bambu, tanaman kayu Gliricidia, dan kayu jaran (Lannea grandis). Apabila pekarangan Anda sangat terbatas, untuk menghindari persaingan dengan tanaman hias atau koleksi Anda yang lainnya dalam mendapatkan nutrisi dari tanah, sebaiknya tanam bibit markisa di dalam pot.

Gunakan campuran tanah gembur, sekam padi, dan pupuk kandang dengan perbandingan yang seimbang sebagai media. Pilih pot yang berdiameter 45 – 50 cm dan memiliki lubang drainase yang baik di bagian dasar. Media tanam diisikan ke dalam pot hingga 2/3 bagian, lalu bibit dimasukkan ke dalam pot.

Timbun dengan sisa campuran media tanam, pasang ajir untuk membantu tanaman tetap tegak, lalu letakkan pot di dekat para-para yang sudah dibuat sebelumnya atau pagar sebagai tempat rambatan tanaman. Sirami hingga air mengalir keluar dari lubang drainase yang menandakan penyiraman sudah merata.


Perawatan tanaman markisa

Di masa-masa awal pertumbuhan, markisa memerlukan perhatian khusus terhadap tumbuh kembangnya. Setelah dewasa, perhatian tetap dibutuhkan meskipun tidak seintensif pada masa-masa awal. Terutama dalam hal pengairan. Hingga umur 2 bulan setelah penanaman, tanaman ini memerlukan jumlah air yang cukup untuk merangsang pertumbuhan dan membantunya beradaptasi. Pada masa ini, penyiraman rutin sangat diperlukan sebanyak 2 kali sehari, pagi dan sore.

Lewat dari dua bulan, penyiraman intensif 2 kali sehari hanya diperlukan ketika cuaca panas. Pada umur ini penyiraman 1 kali sehari sudah cukup. Jika hujan, penyiraman tidak lagi diperlukan. Markisa dewasa hanya perlu disirami 1 kali seminggu dengan sistem irigasi tetes atau 2 kali seminggu dengan sistem gembor (penyiraman manual) di musim kemarau. Volume penyiraman 5 – 7 liter per pohon. Penyiraman dilakukan hingga keadaan tanah benar-benar lembap.

Selama masa pembungaan hingga proses pematangan buah, frekuensi penyiraman perlu ditingkatkan karena kekurangan air dapat berakibat buah mengerut dan rontok sebelum matang. Di samping penyiraman, penyiangan dan penggemburan juga perlu dilakukan secara rutin. Penyiangan rutin dilakukan 1 bulan sekali atau tergantung seberapa cepat gulma tumbuh di sekitar kebun markisa atau pekarangan Anda.

Tindakan ini sangat penting untuk mengurangi persaingan dalam memperoleh air dan unsur hara, memperbaiki tata udara dalam tanah (aerasi), dan memperbaiki perkembangan akar tanaman. Selain itu, gulma seringkali menjadi inang dari berbagai hama dan penyakit yang membahayakan tanaman. Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mencabuti gulma hingga akar-akarnya atau dibersihkan dengan cangkul sekaligus pada saat penggemburan. Penggemburan tidak hanya membantu penyerapan nutrisi dan memperbaiki aerasi tanah.

Tanah yang gembur menyerap air dengan lebih mudah. Selain itu, penggemburan juga meminimalisasi munculnya serangan hama rayap dan nematoda. Penyakit-penyakit yang bersifat tular tanah juga dapat dicegah. Lakukan penggemburan dengan hati-hati agar tidak merusak akar tanaman. Markisa yang ditanam di dalam pot tentu tidak dapat dicangkul untuk penyiangan dan penggemburan. Penyiangan harus dilakukan secara manual dan penggemburan tidak diperlukan.

Jika media tanam sudah menurun kualitasnya, sebaiknya pot dibongkar dan media tanamnya diganti dengan yang baru. Akar-akar halus yang tumbuh keluar dari pot sebaiknya dikurangi dengan hati-hati. Gunakan peralatan berkebun yang steril untuk menghindari infeksi penyakit.


Pemupukan markisa

Untuk mendapatkan tanaman markisa yang sehat dan produktif diperlukan pemupukan. Pemupukan markisa perlu memerhatikan kondisi tempat penanaman (tingkat kesuburannya), umur tanaman, dan fase pertumbuhannya agar tepat atau efisien, tidak berlebihan. Pemupukan dimulai ketika tanaman berusia 1 bulan setelah penanaman. Markisa yang ditanam dalam pot memerlukan pupuk berupa kompos atau NPK daun yang diberikan setiap 1 bulan sekali dengan dosis disesuaikan.

Tanaman markisa di pekarangan memerlukan NPK (15 : 15 : 15) sebanyak 25 – 100 gr per tanaman tergantung umurnya. Markisa yang dibudidayakan di perkebunan memerlukan pemupukan yang lebih intensif. Biasanya memerlukan kombinasi pupuk organik dan anorganik.

Dosis umum yang dapat diberikan adalah 40 kg pupuk kandang per pohon per tahun sebagai pupuk dasar ditambah pupuk makro yang terdiri atas 800 – 900 gr urea, 60 – 120 gr TSP, dan 800 – 1200 gr KCl. Dosis tersebut diberikan dalam interval 3 kali setahun, yaitu pada bulan November hingga Mei. Khusus markisa asam (ungu, merah, kuning) dapat mengikuti rekomendasi pemupukan sebagai berikut.

  • NPK (15 : 15 : 15) 1000 gr per pohon per tahun diberikan 3 kali setahun dengan selang 4 bulan. Cara pemberian dengan membuat lubang melingkar di sekitar tajuk tanaman sejauh ±20 cm dari pangkal pohon. - Urea 500 gr per pohon per tahun diberikan 2 kali setahun pada awal dan akhir musim hujan dalam larikan melingkari batang pokok sejauh ±15 cm dari pangkal batang.
  • TSP 400 gr per pohon per tahun diberikan 2 kali setahun pada awal dan akhir musim hujan dalam larikan melingkari batang pokok sejauh ±15 cm dari pangkal batang.
  • KCl 300 gr per pohon per tahun diberikan 2 kali setahun pada awal dan akhir musim hujan dalam larikan melingkari batang pokok sejauh ±15 cm dari pangkal batang.
  • Pupuk kandang 50 – 75 kg per pohon per tahun diberikan pada awal musim hujan dengan cara disebarkan di sekitar tajuk tanaman.
  • Urea 300 gr per pohon per tahun diberikan pada awal musim hujan dalam larikan. - KCl 150 gr per pohon per tahun diberikan pada awal musim hujan dalam larikan.


Pemangkasan dan pengaturan arah rambat

Markisa memerlukan pemangkasan sejak dini untuk membentuk pohon dan arah rambatnya. Diawali dengan pembentukan batang primer yang dibatasi 1 – 3 buah. Batang primer tunggal lebih baik karena lebih kokoh, produktif, dan menghasilkan buah yang berukuran lebih besar. Setelah bibit yang ditanam mencapai bentangan kawat terendah pada para-para atau pagar, potong ujungnya. Pilih tiga tunas yang kekar.

Dua dari ketiga tunas yang dipilih dijalarkan pada kawat paling bawah, sementara 1 tunas dibiarkan tumbuh hingga mencapai bentangan kawat di atasnya. Ulangi langkah yang sama hingga semua bentangan kawat dijalari 1 – 2 tunas yang merupakan cabang buah. Biarkan 4 cabang utama tetap tumbuh. Untuk memicu munculnya bunga, potong ujung-ujung cabang. Kelak buah akan bergantung pada cabang-cabang yang menjalar sepanjang kawat.

Agar tanaman rajin berbunga dan berbuah terus menerus dalam jumlah yang banyak, pangkas cabang-cabang yang mati, daun kering, dan cabang-cabang yang terlalu panjang. Pangkas pula ujung-ujung cabang di mana bunga muncul segera setelah panen. Dengan demikian akan muncul tunas-tunas baru dan cabang buah keluar lebih banyak. Supaya arah rambat tanaman teratur, tidak tumpang tindih yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit, pangkas cabang-cabang yang tumbuh keluar dari tiang rambat.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)

Agar tanaman tumbuh optimal dan usaha pembudidayaan mencapai hasil yang maksimal, perlu tindakan perlindungan terhadap tanaman dari gangguan organisme-organisme merugikan. Organisme merugikan dapat berupa hama atau bibit penyakit.

Pada dasarnya seluruh tindakan perawatan tanaman adalah juga merupakan usaha untuk melindungi tanaman dari infeksi hama dan penyakit. Perawatan intensif ditambah tindakan penanganan dan pemberantasan merupakan bagian dari usaha pengendalian terpadu dalam mengatasi serangan organisme pengganggu.

Hama

Macam-macam hama yang sering ditemukan pada tanaman markisa sebagai berikut.

1. Nematoda

Penyebab penyakit bengkak akar (Meloidogyne incognita). Penyakit bengkak akar atau puru akar dapat mempercepat kematian tanaman. Hampir semua jenis markisa rentan terhadap serangan nematoda, kecuali markisa ungu dan kuning yang lebih resistan. Nematoda adalah sejenis cacing parasit yang biasa menyerang berbagai tanaman pangan. Bagian tanaman yang diserang adalah perakaran. Hewan parasit ini bertelur di akar, kemudian telur menetas menjadi larva.

Larva nematoda lalu menusuk dinding sel akar dan batang. Gejala serangan hama ini tampak pada munculnya puru akar (gall) atau pembengkakan pada akar, terjadi luka pada akar, ujung akar rusak, dan kemudian membusuk. Ciri lain dari tanaman yang diserang hama ini adalah pertumbuhannya tidak normal.

Cara mengendalikan hama ini meliputi penerapan pola tanam polikultur, memanfaatkan tanaman antagonis sebagai tanaman sela atau menanam varietas yang resistan, penerapan teknik biofumigan, penggunaan ekstrak nabati sebagai nematisida, aplikasi agen antagonis (musuh alami), dan pemanfaatan metabolit sekunder dari mikroba. Penggunaan nematisida sintetis sebaiknya dihindari sebab berisiko mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas tanah.

2. Lalat buah Dacus dorsalis

Hama ini menyuntikkan telurnya ke dalam buah. Setelah larva menetas, ia hidup di dalam buah dan memakan daging buah dari dalam. Dari luar buah tampak tetap baik, tetapi jika dibuka akan tampak daging yang membusuk beserta larva-larva kecil di dalamnya. Buah yang membusuk karena serangan larva lalat kemudian jatuh ke tanah dan pecah. Pada saat itu, larva menjatuhkan diri ke tanah dan tumbuh menjadi pupa di dalam tanah. Keberadaan serangan lalat buah dapat diidentifikasi dengan pengecekan secara teliti pada kulit buah.

Jika terdapat bintik hitam bekas suntikan serangga, itu artinya buah sudah terkontaminasi lalat buah. Dampak serangan akan memburuk di musim hujan jika disertai serangan jamur. Langkah pengendalian yang paling aman adalah membungkus buah sejak ukurannya masih kecil dengan kertas koran atau plastik yang sudah dilubangi dan pemasangan perangkap atau atraktan petrogenol. Lepaskan predator alami dari lalat buah di sekitar kebun sebagai pengendali alami.

Jangan lupa untuk memperbaiki dan menjaga sanitasi kebun tetap baik. Apabila sangat sulit ditangani hingga cara-cara yang lebih alami tidak mampu mengatasi, penerapan insektisida yang bahan aktifnya memiliki aroma yang tidak disukai lalat buah juga dapat digunakan, selama penggunaannya tidak berlebihan. Contoh bahan aktif yang tepat untuk menangani lalat buah, antara lain, asetamiprid, profenofos, sipermetrin, spinosad, asefat, betasiflutrin, deltametrin, malation, imidakloprid, klorantraniliprol, dan metamidofos 2%.

3. Kutu daun kuning Myzus persicae

Kutu daun ini berwarna kuning kehijauan atau kemerahan dengan antena yang panjang, hampir sama dengan panjang tubuhnya. Panjang tubuhnya sekitar 2 mm dan lembut. Hidup berkelompok di bawah helaian daun atau di pucuk tanaman. Bersifat partenogenesis, artinya dapat berkembang biak tanpa perkawinan, di mana satu ekor imago dapat menghasilkan sekitar 40 nimfa. Kutu ini mengisap cairan daun muda dan bagian-bagian tanaman lainnya yang masih muda.

Daun yang terinfeksi tampak berbercak-bercak dan pada serangan berat mengerut atau mengeriput, tumbuh kerdil, berwarna kekuningan, terpuntir, menggulung, layu, kemudian mati. Banyak ditemukan pada tanaman sayuran dan perkebunan, seperti cabai, kentang, tomat, kacang-kacangan, tebu, jeruk, dan tembakau. Cara pengendalian secara kultur teknis meliputi pemenuhan syarat tumbuh tanaman (suhu, curah hujan, angin, ketinggian, jenis dan sifat tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukan, dan kontrol terhadap kanopi atau tajuk tanaman hingga luasan 0,25 m2.

Amati keberadaan kutu daun dengan menghitung jumlah serangga dewasa setiap 2 minggu. Bunuh setiap kutu daun yang ditemukan. Jaga sanitasi kebun dan gunakan mulsa jerami di pembibitan yang menggunakan media semai bedengan. Manfaatkan musuh-musuh alami kutu daun, seperti predator dari famili Syrphidae, Menochillus sp., Scymnus sp. (Coccinelidae), Crysophidae, Lycosidae, dan parasitoid Aphytis sp.

Untuk pengendalian kimiawi gunakan insektisida selektif dan efektif yang relatif aman dengan cara disemprotkan pada tunas. Cara pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan apabila serangan sudah mencapai 25% atau lebih.

4. Kutu putih Aphis gossypii (aphids)

Kutu daun ini sebenarnya tidak berwarna putih, melainkan hijau atau kuning. Warna putih yang menyelimutinya adalah lapisan seperti lilin yang berfungsi untuk melindungi diri. Hama ini mengisap cairan dan nutrisi tanaman, terutama pada pucuk-pucuk tunas. Tidak hanya merugikan karena menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu akibat kurang nutrisi dan kesulitan berfotosintesis, kutu ini juga menjadi vektor dari banyak penyakit akibat virus.

Ukurannya kecil, hanya sekitar 1 – 6 mm, dengan tubuh lunak. Daun dari tanaman yang diserang menjadi keriting menggulung, bahkan gugur, dan tanaman menjadi kerdil. Populasi tertinggi terjadi di musim kemarau. Kutu ini menghasilkan kotoran berupa embun madu yang disukai semut dan menjadi tempat tumbuhnya jamur embun jelaga.

Beberapa metode dapat dicoba untuk mengendalikan hama ini. Cara yang paling sederhana adalah dengan penyemprotan air setiap hari, lebih baik jika dapat menggunakan sprayer bertekanan tinggi, untuk mengusir kutu. Jika cara ini belum berhasil, cobalah membuat semprotan cabai yang dibuat dari 3 – 4 buah cabai, beberapa siung bawang putih, dan satu liter air. Blender menjadi satu, lalu semprotkan pada tanaman yang terkena serangan.

Cara alami lainnya adalah memanfaatkan musuh alami yang bersifat predator bagi hama ini, salah satunya, kepik. Jika cara-cara alami tidak menunjukkan hasil yang signifikan, gunakan insektisida berbahan aktif dimethoate, alfametrin, abamektin, atau sipermetrin sebanyak satu sendok teh yang dicampurkan ke dalam satu liter air, lalu semprotkan.

Apabila kutu menyerang akar, cabut dahulu tanaman yang terinfeksi, rendam dalam larutan insektisida selama 2 – 3 menit, lalu tanam kembali. Jika serangan sangat parah, gunakan insektisida berbahan aktif imidakloprid yang disapukan pada batang.

5. Kutu daun Macrosphun sp.

Jenis kutu ini berwarna hijau dengan bagian kepala merah kekuningan, dada berwarna coklat, punggungnya bergaris melintang ke belakang berwarna hijau gelap. Ukurannya kecil, panjangnya hanya 2 – 2,5 mm. Kutu ini menyerang tunas daun muda, mengisap cairan tanaman sehingga helaian daun berubah bentuk, memilin, dan berkeriput. Cara mengendalikan kutu ini adalah dengan lebih memerhatikan sanitasi kebun serta penerapan pupuk yang tepat dan berimbang.

6 Kumbang pemakan daun

Kumbang ini memiliki bentuk kepala memanjang seperti moncong. Mulutnya terletak pada ujung moncong. Ukurannya kecil, panjangnya 5 – 10 mm, berwarna hitam kebiruan. Hama ini memakan tunas muda hingga berlubang.

Gunakan insektisida untuk mengendalikan hama ini atau buat semprotan sabun yang terdiri atas satu sendok makan deterjen bubuk atau cair, campur dengan satu liter air. Anda juga dapat memanfaatkan air bekas cucian piring atau cucian baju. Semprotkan secukupnya saja langsung pada tempat-tempat ditemukannya kumbang.

7. Kutu buluh putih

Hama berjenis kutu ini mengisap cairan tanaman dari batang dan ranting secara bergerombol hingga tampak menyelimuti seluruh permukaan tanaman.Pencegahan terhadap serangan hama ini adalah dengan menjaga sanitasi kebun dan melakukan perawatan rutin dengan baik. Jika memang diperlukan, insektisida dapat digunakan. Utamakan insektisida yang bersifat ramah lingkungan dengan dosis sesuai kebutuhan.

8. Siput

Ada tiga macam, yaitu siput tak bercangkang, bekicot, dan keong. Hama iniamat rakus, memakan mulai dari batang yang masih muda, pucuk daun, sampai buah. Keong aktif di pagi sampai malam hari, sementara bekicot dan siput tak bercangkang aktif di malam hari. Berbagai jenis siput ini menyukai tanah yang lembap cenderung basah dan terlindung dari sinar matahari. Untuk pencegahan, bersihkan areal kebun dari rumput dan tanaman liar.

Hindari penggunaan mulsa organik yang dapat menjadi tempat persembunyian siput. Sirami tanaman pada pagi hari agar di sore hari tanah sudah mengering. Minimalkan penggunaan air dengan menggunakan sistem irigasi tetes bagi perkebunan. Perhatikan jarak tanam untuk kepentingan aerasi atau sirkulasi udara di dalam kebun. Populasi siput dapat berkembang sangat cepat karena hewan ini hemaprodit, tidak memerlukan pasangan untuk kawin dan berkembang biak.

Selama mendapat makanan yang cukup, siput akan cepat tumbuh dan mencapai masa dewasanya. Sebelum menggunakan cara-cara kimiawi untuk membasmi siput, coba dahulu cara-cara pengendalian mekanis,seperti mengutip siput secara manual dengan melakukan perburuan di malam hari, membuat jebakan yang ramah lingkungan, memberi pembatas yang dapat menghalangi masuknya siput ke area kebun, dan memanfaatkan musuh-musuh alami.

Cara membuat jebakan siput sebagai berikut. Siapkan mangkuk atau cangkir yang ditanam sebagian di tanah, sisakan 1 – 1,5 cm dari bibir cangkir tetap di atas permukaan tanah. Wadah ini diisi dengan umpan pemikat yang bersifat cair, seperti susu atau cairan manis lainnya yang lengket. Campuran madu, air, dan ragi yang dididihkan hingga lengket seperti lem juga cukup efektif untuk menjebak siput. Contoh cara pembuatan jebakan yang lain menggunakan toples yang diletakkan miring pada satu sisi.

Gunakan umpan yang bersifat padat, seperti tepung jagung, daun kol/kubis, daun sawi, kulit jeruk yang sudah dibasahi, atau makanan hewan peliharaan yang kering. Agar jebakan tidak rusak karena air hujan atau dimakan hewan lain, sebaiknya beri pelindung. Misalnya, menggunakan pot yang dibalik untuk menutup jebakan.

Pembatas untuk menghalau siput dapat berupa pita tembaga yang dipasang mengelilingi kebun, mulsa dari bahan-bahan yang tidak disukai siput, tanaman yang dihindari siput, ataupun sebaran bahan-bahan organik dan kimia yang dapat membunuh siput. Contohnya, membuat mulsa dari daun tembakau atau menyebar pasir yang kasar dan tajam di sekeliling kebun. Untuk markisa tabulampot, penghalang dapat berupa sebaran garam di sekeliling pot.

Jangan gunakan sebaran garam pada markisa yang ditanam di kebun karena dapat merusak tanah. Untuk markisa yang ditanam langsung di tanah, alternatifnya menggunakan tepung rumput laut berkalsium yang punya efek sama seperti garam, tetapi lebih aman bagi tanah. Bahan sebaran organik lainnya, misal, tepung batang tembakau dan bubuk kopi. Untuk pembatas berupa tanaman dapat memanfaatkan tanaman jahe, bawang putih, lokio, mint/peppermint, dan tapak dara.

Tanaman-tanaman ini memiliki aroma, tekstur, atau racun yang dihindari siput,namun tidak dapat 100% menghalangi siput, hanya menghambat. Beberapa bahan kimia lebih efektif sebagai penghalang siput, tetapi efek sampingnya cukup berbahaya. Tanah diatom dapat membunuh siput, tetapi juga membunuh serangga yang bermanfaat. Abu kayu dan kapur hidrat memiliki efek samping meningkatkan pH tanah sehingga dapat mengubah unsur-unsur tanah.

Penyemprotan kafeina sebanyak 1% langsung ke tanaman dapat membunuh siput, tetapi mungkin juga membunuh tanaman itu sendiri karena tidak semua tanaman dapat menerima bahan kimia ini dengan baik. Musuh alami siput, contohnya, kumbang tanah, burung, ayam, kodok, dan nematoda.

Namun hindari melepaskan ayam dan burung di kebun karena dapat merusak tanaman dan menyebabkan gagal panen. Alternatif terakhir, menggunakan bahan-bahan kimia pembasmi siput. Misalnya, amonia, pelet iron phosphate, dan obat antisiput metaldehyde.

Penyakit

Beberapa macam penyakit penting yang menyerang tanaman markisa sebagai berikut. Tidak semua menyebabkan kematian atau kerusakan serius, tetapi jika dibiarkan juga dapat memengaruhi produksi. Sebagian besar penyakit disebabkan oleh jamur.

1. Layu fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum var. passiflorae yang menginfeksi jaringan akar dan masuk hingga ke jaringan xylem.Penyakit ini cukup serius karena tanaman dewasa dapat layu dan mati dalam 24 – 48 jam setelah gejala ringan terlihat, yaitu memucatnya warna daun yang baru terbentuk. Pembuluh angkut menjadi coklat dan membentuk jejak hingga 2 m dari permukaan tanah. Miseliumnya berwarna merah muda atau ungu.

Pengendalian jamur ini dapat memanfaatkan jamur antagonis Trichoderma harzianum atau Gliocladium virens dan perbaikan drainase untuk menghindari kelembapan yang tinggi pada tanah. Dapat juga menggunakan bakteri antagonis, seperti Pseudomonas aeruginosa, Serratia marcescens, Bacillus thuringiensis, dan Enterobacter agglomerans.

2. Bercak coklat

Penyakit yang disebabkan jamur Alternaria passiflorae ini menyerang batang, cabang, tangkai daun, daun, dan buah. Gejala ditandai dengan bercak coklat pada bagian-bagian yang terinfeksi. Gejala pada daun semula berupa bercak kecil berwarna coklat tua yang tembus cahaya. Bercak ini lalu membesar dan bagian tengahnya berwarna coklat muda. Pusat bercak menunjukkan gejala nekrotik. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daunnya gugur.

Bercak coklat pada batang atau cabang berbentuk memanjang. Jika sudah mengelilingi batang, cabang yang lebih muda di sebelahnya akan mengering dan mati. Buah yang terinfeksi menjadi busuk. Penyakit ini disebarkan oleh angin, hujan, daun yang sakit dan gugur, serta buah yang jatuh. Jamur ini berkembang lebih cepat jika cuaca lembap dan panas menjelang musim hujan. Pada saat itu, kelembapan udara sangat tinggi akibat cuaca mendung tetapi hujan belum turun.

Jika terinfeksi penyakit ini, tanaman cepat mati dalam waktu 3 tahun dan produksinya menurun 40 – 60%. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan mengatur tajuk tidak terlalu rapat dengan pemangkasan teratur, membuang dan membakar bagian tanaman yang terinfeksi, serta menggunakan fungisida kombinasi meneb dan zineb (menkozeb) 0,25%.

3. Embun jelaga

Penyebab penyakit ini adalah jamur Capnodium sp. yang membentuk lapisan hitam, kering, tipis, dan merata pada permukaan daun. Permukaan daun tampak tertutup lapisan tersebut. Penyakit ini tidak menyebabkan kerugian secara langsung, tetapi dapat menghambat proses fotosintesis dan transpirasi.

Cara mengendalikan penyakit ini adalah dengan menjaga sanitasi kebun, pengaturan arah rambat yang baik sehingga cabang-cabang tidak tumbuh tumpang tindih, pemberantasan hama yang menjadi vektor, serta pemangkasan untuk mencegah tajuk tanaman saling menaungi.

4. Bercak diplodia

Penyakit yang disebabkan cendawan Diplodia sp. ini menyerang batang dengan gejala bercak coklat yang diikuti batang mengering dan buah berkeriput. Tangkai buah yang terinfeksi berwarna coklat tua dan busuk. Permukaan bagian tanaman yang membusuk tampak diselimuti spora berwarna hitam. Buah busuk dengan gejala lunak dan berair. Cara mengendalikan penyakit ini adalah dengan membuang bagian-bagian tanaman yang terinfeksi, kemudian dibakar.

5. Busuk pangkal batang

Penyakit yang disebabkan cendawan Phytophthora nicotianae var. parasitica. Serangan penyakit ini menyebabkan tanaman layu, menguning, dan daunnya gugur. Jamur ini juga menyerang bibit dan tanaman muda, menyebabkan penyakit bibit yang disebut mati pucuk. Gejala pada tanaman dewasa berupa pecah-pecah pada kulit pangkal batang persis pada bagian yang berada di permukaan tanah. Jika kulit tersebut dikelupas, tampaklah proses pembusukan berwarna coklat kemerahan yang meluas ke atas.

Jamur tersebut menginfeksi akar halus dengan spora kembara. Infeksi pada pangkal batang terjadi karena jamur menyebar lewat luka-luka akibat alat pertanian. Penyakit ini biasa menyerang kebun dengan drainase buruk sehingga perbaikan drainase menjadi salah satu syarat pemberantasan penyakit ini. Selain perbaikan drainase, jagalah sanitasi kebun. Gunakan para-para dari pucuk bambu. Kombinasikan cara-cara tersebut dengan penerapan fungisida provineb 56% dan oksidil 10%.

6. Antraknosa daun

Penyakit yang disebabkan jamur Gloeosporium sp. ini memiliki gejala daun menguning mulai dari pinggir, lalu berubah warna menjadi putih kelabu pada sebagian besar tepi daun hingga tampak seperti terbakar. Terdapat bintik-bintik hitam aservoli cendawan pada permukaan daun yang dalam suasana lembap membentuk massa konidium oval, bening, dan bersel satu. Untuk mengatasi serangan jamur ini, cegah kelembapan yang terlalu tinggi dengan membuat para-para yang baik dan jarak tanam tidak terlalu rapat.

7. Bercak periconia

Penyakit yang disebabkan cendawan Periconia sp. ini memiliki gejala bercak kuning pada batang yang kemudian berubah warna menjadi coklat. Konidium cendawan berwarna gelap, bentuknya panjang, lurus, dan bersel satu. Jamur ini bersifat parasit atau saprofit pada berbagai jenis tanaman. Untuk mengatasi penyakit ini, diperlukan usaha perbaikan lingkungan kebun dengan perbaikan sanitasi, drainase, dan aerasi. Buang dan bakar bagian-bagian tanaman yang terinfeksi.

8. Buah berkayu

Ciri-ciri tanaman yang mengalami penyakit buah berkayu adalah adanya belang-belang hijau atau kuning pada daun muda dengan pola mozaik, bercak cincin, atau kadang ada pula daun yang berlubang. Ukuran daun lebih kecil dari ukuran normal. Buahnya berkayu, ukuran lebih kecil (kerdil), permukaannya kasar, dan tertutup tonjolan-tonjolan bergabus.

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menular lewat alat-alat pertanian yang terkontaminasi, serangga, dan gulma. Pengendaliannya dengan menjaga sanitasi kebun, sterilisasi alat-alat pertanian yang akan digunakan, dan mengatur letak pembibitan yang jauh dari kebun markisa atau tanaman kacang dan labu.

9. Busuk leher akar

Penyebab penyakit ini adalah jamur Rhizoctonia solani. Penyakit ini berakibat terjadinya damping off atau mati rebahnya bibit di persemaian. Jika akar dibongkar akan tampak kulit bagian luarnya berwarna coklat kemerahan. Jamur ini dapat bertahan hidup lama di dalam tanah dan sisa-sisa tanaman yang sudah mati. Pertumbuhannya dipengaruhi nutrisi, kelembapan tanah, suhu, pH, dan kompetisi dengan mikroorganisme lainnya.

Penyakit ini akan semakin parah jika tanah kekurangan kalsium, besi, magnesium, nitrogen, fosfor, sulfur, dan lain-lain. Cara mengatasi penyakit ini, antara lain, dengan melakukan perbaikan kondisi lingkungan, meliputi sanitasi, drainase, dan aerasi. Di samping itu, pemanfaatan bakteri antagonis terbukti dapat membantu mengendalikan jamur ini. Beberapa contoh bakteri antagonis yang dapat digunakan adalah Pseudomonas aeruginosa, Serratia marcescens, Bacillus thuringiensis, dan Enterobacter agglomerans.


Panen dan pascapanen

Buah markisa yang dibibitkan secara vegetatif dapat dipanen dalam 7 – 10 bulan setelah penanaman. Sementara yang dibibitkan dari biji dapat dipanen setelah 9 – 10 bulan. Panen menunggu buah matang pohon, warna kulit berubah sesuai jenisnya, dan aroma harum sudah timbul. Jika ditekan kulitnya terasa lunak dan tangkainya mengerut. Buah yang masih muda jangan dipanen sebab mutunya rendah.

Buah matang dalam 70 – 90 hari atau 120 – 140 setelah berbunga tergantung varietasnya (varietas asam matang lebih cepat). Buah yang matang 100% di pohon akan lepas dari tangkai dan jatuh ke tanah. Oleh karena itu, panen sebaiknya dilakukan seawal mungkin sebelum buah terlanjur jatuh. Buah yang jatuh akan rusak dan busuk.

Buah markisa mencapai bobot maksimalnya ketika tingkat kematangannya 50%. Pada tingkat kematangan 75 – 100% tidak terjadi perubahan fisik ataupun kualitas kandungan buah secara signifikan dengan bobot cenderung menurun. Berdasarkan perubahan kondisi fisik dan kimia tersebut, buah markisa dapat dipanen ketika tingkat kematangannya 50%.

Cara memanen markisa adalah dengan memotong secara konvensional (petik tangan) atau menggunakan gunting. Ambil sedikit tangkainya. Cuci buah yang sudah dipetik di bawah air mengalir hingga bersih. Agar lebih awet, simpan dalam lemari pendingin. Markisa yang buahnya dipetik sebelum 100% matang dan disimpan dalam suhu kamar akan mengalami perubahan fisik dan fitokimia.

Perubahan secara fisik tampak pada permukaan kulit buah yang mengeriput dan bobot buah secara keseluruhan menurun. Total asam dan padatan terlarut di dalamnya pun mengalami penurunan.


Pengolahan buah markisa

Sari buah markisa umumnya digunakan sebagai bahan utama pembuatan sirup. Dimakan segar pun nikmat, baik buah maupun bijinya dapat dimakan sekaligus. Selain dimakan langsung dan dijadikan sirup, buah markisa dapat pula diolah menjadi selai, jeli, es krim, tepung markisa, dan dodol. Pengolahan buah markisa bertujuan untuk menambah nilai produksi dan mengawetkan buah. Cara pengolahan daging buah markisa biasanya adalah diekstrak dan diawetkan melalui pemanasan atau pendinginan.

Sari buah markisa memiliki aroma khas yang kuat dan keras, serta rasa asam yang khas, dapat dijadikan konsentrat alami. Ditambah pemanis (gula) dan diencerkan rasanya sangat enak, cocok dicampur dengan sari buah lainnya. Produk olahan lainnya, misalnya, serbat, squash, sari pati, punch, suplemen (dalam bentuk minuman) penambah energi, yoghurt, dan panache. Beberapa teknik berbeda dapat diterapkan untuk pengolahan markisa sesuai dengan tujuannya.


Pengolahan sirup markisa tanpa sterilisasi

Sirup adalah cairan berkadar gula tinggi. Sebagai perasa atau flavour, sirup dilarutkan dalam sari buah atau larutan gula ditambah buah. Sirup markisa dapat disimpan lama tanpa tambahan bahan pengawet dan tanpa sterilisasi sebab kadar gulanya tinggi (67,5%) dan pH-nya rendah (di bawah 4,0). Bahan-bahan untuk pembuatan sirup markisa meliputi buah markisa, natrium benzoat, gula pasir, dan CMC (pengental). Langkah pertama, cuci buah markisa yang matang penuh.

Belah buah yang sudah bersih, keluarkan bijinya, kumpulkan dalam baskom. Bersihkan dari urat buah yang menjadi untaian biji. Blender singkat sampai lendir lepas dari biji, tetapi tidak menghancurkan isi. Saring dengan saringan kasar untuk mendapatkan ekstrak cairan sari buah markisa. setelah cairannya didapat, saring lagi dengan saringan kasa. Blender selama 1 menit menggunakan blender ukuran 1 – 2 kg. Tambahkan natrium benzoat sebanyak 1 gr per liter sari buah pada pemblenderan terakhir.

Masak air dengan perbandingan 250 cc air : 1 kg gula pasir. Masukkan gula sedikit demi sedikit. Aduk sampai hampir mengkristal. Masukkan ekstrak buah markisa ke dalam adonan gula yang sudah masak. Aduk terus sambil menunggu panasnya mencapai 70oC. Jangan sampai mendidih karena akan menghilangkan rasa dan aroma khas markisa. Setelah mencapai suhu yang tepat, angkat dari api dan diamkan sampai dingin.

Sesudah dingin, masukkan CMC secukupnya dengan cara mengabutkan sedikit demi sedikit menggunakan saringan tepung. Jangan diberikan pada saat larutan masih panas sebab tidak akan memberi efek apapun (pengentalan gagal). Simpan minimal 2 jam lamanya, lalu kemas sesuai keinginan.Cara pengolahan sirup markisa yang lebih sederhana ini biasanya dilakukan untuk keperluan rumahan.


Pengolahan sirup markisa dengan pasteurisasi

Cara kedua adalah pengolahan sirup markisa dengan teknik yang lebih steril sehingga dapat tahan lebih lama dan memungkinkan wilayah penjualan yang lebih luas. Cara ini biasanya digunakan untuk industri rumah tangga ataupun industri dengan skala lebih besar. Siapkan baskom plastik, panci tanah asam, kain saring atau kasa, dan alat press atau pemisah sentrifugal untuk memisahkan biji dari pulp dan mendapatkan cairannya. Langkah pertama, cuci buah dengan deterjen, lalu bilas dengan air bersih.

Rendam buah dalam air yang mengandung kaporit 4 – 8 ppm selama ±15 menit. Tiriskan. Setelah kulit buah bebas dari air, belah dan ambil isinya. Jika menggunakan alat pemisah sentrifugal, masukkan isi markisa ke dalam silinder alat pemisah sentrifugal yang dijalankan dengan motor listrik dengan kecepatan 3000 – 5000 rpm. Jika menggunakan alat press, bungkus isi buah dalam kain blacu yang kuat, kemudian letakkan dalam alat press dan tekan untuk mengeluarkan sari buah.

Untuk industri rumah tangga yang belum memiliki kecukupan modal dalam menyediakan alat-alat tersebut, dapat juga menggunakan kain saring atau kasa untuk memisahkan sari buah markisa dari pulp dan bijinya. Tambahkan natrium bisulfit dan natrium benzoat pada ekstrak sari buah markisa. Takaran untuk 1 liter sari buah adalah 2 gr natrium bisulfit dan 0,5 gr natrium benzoat. Untuk memisahkan padatan dari cairan sari buah, masukkan larutan ke dalam alat pemisah dan diamkan selama 2 hari di lemari pendingin.

Endapan padatan akan terkumpul di bagian bawah bersama cairan keruh. Buka saluran udara pada bagian atas alat pemisah. Buka pula saluran keluar pada bagian bawah wadah. Endapan dan cairan yang keruh akan mengalir keluar. Sari buah yang jernih lalu dikentalkan dengan larutan CMC. Takaran CMC adalah 10 ml yang ditambahkan ke dalam 1 liter sari buah. Aduk hingga merata. Sebagai tambahan rasa, campurkan gula dan asam sitrat ke dalam sari buah sambil dipanaskan.

Sambil mengaduk sari buah, tambahkan 1 kg gula pasir dan 1 – 2 gram asam sitrat berselang-seling sedikit demi sedikit. Proses pemanasan berlangsung selama 15 menit hingga mencapai suhu 90oC. Untuk pengemasan, gunakan botol kaca. Cuci dan sikat botol dengan deterjen sebelum digunakan. Bilas sampai bersih, lalu bilas lagi bagian dalamnya dengan air panas. Rebus botol dalam air mendidih selama 30 menit. Setelah itu, angkat botol dari air panas, balikkan agar air keluar.

Ketika botol masih panas, masukkan sirup yang masih panas dengan bantuan corong. Isikan sirup hingga tingginya mencapai 2 cm di bawah bibir botol paling atas. Tutup segera. Rebus lagi botol berikut isinya dalam air mendidih selama 30 menit. Pengolahan sirup markisa dengan pasteurisasi ini dapat meningkatkan daya tahan sirup sehingga dapat disimpan lama meskipun dalam suhu kamar.


Kandungan gizi dan manfaat buah markisa

Buah markisa kaya kandungan berbagai vitamin dan mineral. Kaya antioksidan terutama pada kulit buah markisa ungu dan daging buah markisa jingga. Kandungan ini dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Air dan antioksidan dapat larut dalam lemak. Salah satu antioksidan utamanya adalah betakaroten. Buah markisa juga kaya serat, bermanfaat bagi kesehatan pencernaan, membantu membersihkan saluran pencernaan dan usus, serta merupakan pencahar yang ringan.

Tidak hanya buahnya, biji markisa juga kaya akan serat. Kandungan serat menimbulkan rasa kenyang setelah mengonsumsi buah dan biji markisa. Berikut kandungan nutrisi yang dimiliki tiap 100 gr buah markisa.
Kalori 97 kcal
Air 72,2%
Protein 3,0 gr
Lemak 0,7 gr
Lemak jenuh 0,1 gr
Lemak tak jenuh ganda 0,4 gr
Lemak tak jenuh tunggal 0,1 gr
Total karbohidrat 23 gr
Serat pangan 12,8 gr
Gula 11 gr Abu 0,5 gr
Kolesterol 0 mg
Vitamin A 1275 IU
Vitamin B6 0,1 mg
Vitamin B12 0 µg
Vitamin C 30 mg
Vitamin D 0 IU
Kalsium 12 mg
Fosfor 63,8 mg
Besi 1,6 mg
Natrium 28 mg
Magnesium 29 mg
Kalium 348 mg
Potasium 63 mg
Sodium 5 mg
Asam askorbat 23,3 mg


Sebagai sumber vitamin C yang baik, buah markisa dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Kandungan vitamin C dan efek antihistamin dalam buah dapat menenangkan serangan asma dan memblokir histamin penyebab asma. Kandungan vitamin A yang tinggi dapat meningkatkan kualitas penglihatan, membantu melawan infeksi, membuat kulit sehat bersinar, dan membantu pertumbuhan sel. Sumber kaliumnya memiliki efek menyehatkan jantung serta membantu fungsi jantung, aliran, dan tekanan darah.

Oleh karena rendah kalori, sodium, dan lemak, buah markisa sangat baik untuk diet dan penurunan berat badan. Buah markisa juga memiliki efek relaksasi yang dapat membantu mengendurkan saraf dan pikiran, membuat perasaan lebih tenang, dan menjadi obat untuk masalah pencernaan dan penyakit lambung. Efek relaksasi ini dapat menimbulkan perasaan mengantuk yang dapat membantu penderita insomnia untuk dapat lebih mudah tidur.

Caranya dengan meminum jus markisa sebelum tidur. Manfaat lain buah markisa untuk kesehatan, misalnya, mengatasi batuk, menenangkan anak yang hiperaktif, menjaga kecantikan wajah, memperlebar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan, dan antiperadangan.

Dapat pula digunakan sebagai penurun panas (antipiretik), menurunkan kadar kolesterol, mencegah hipertensi, sebagai antiseptik, penghilang nyeri (analgesik), penghilang kerutan pada wajah, menstabilkan berat badan, mengobati infeksi saluran kencing, sebagai diuretik, dan melancarkan sirkulasi atau peredaran darah. Karbohidrat dan gula alaminya secara cepat meningkatkan stamina setelah lelah beraktivitas. Kandungan asam folat menjaga kondisi janin, mencegah terjadinya cacat lahir, menjaga kesehatan mental dan otak.

Juga dapat mengatasi neurastenia atau kelelahan kronis dan sulit konsentrasi. Di samping kandungan-kandungan yang telah disebutkan di atas, buah markisa juga mengandung tiamin, riboflavin (0,10 – 0,13 mg/100 gr), niasin (1,5 – 2,24 mg/100 gr), folat (8 mcg/100 gr, terdapat pada jenis markisa kuning), dan asam sitrat.

Jenis markisa ungu lebih banyak digunakan sebagai bahan pembuatan sari buah atau sirup karena rasanya yang lebih enak dan menghasilkan sari buah dalam jumlah lebih banyak daripada markisa kuning. Markisa kuning rasanya lebih asam, tetapi manfaatnya bagi kesehatan lebih besar. Kadar vitamin A, niasin, kalsium, besi, dan fosfor dalam markisa kuning lebih tinggi daripada markisa ungu. Kandungan asam sitratnya pun lebih tinggi dan dominan.

Ekstrak markisa kuning mengandung zat fitokimia yang mampu membunuh sel kanker, menyembuhkan badan lemah sehabis sakit, mengembalikan nafsu makan, mengatasi anemia disertai bibir pucat, rasa dingin pada anggota badan dan pusing, memperbanyak ASI, dan memulihkan kondisi setelah pengobatan, khususnya yang berkaitan dengan penyakit akibat parasit pada anak.

Zat fitokimia tersebut meliputi polifenol dan karotenoid yang mampu membunuh sel kanker, serta harman, harmol, harmalin, passaflorine, harmine, karotenoid, viteksin, krisin, dan isoviteksin. Markisa ungu juga memiliki zat-zat fitokimia yang sama, tetapi jumlahnya tidak sebesar markisa kuning. Kandungan fitonutrien lainnya adalah flavonoid, alkaloid, nisin, dan asam amino. Kandungan asam amino bebas dalam markisa meliputi arginin, asam aspartat, glisin, leusin, lisin, prolin, treonin, tirosin, dan valin.


Kandungan alkaloid yang terdiri atas harman, harmol, harmin, dan harmalin memiliki efek sedatif dan berfungsi sebagai penenang. Biji markisa juga memiliki kandungan nutrisi yang baik. Kadar minyak yang dapat dihasilkan dari biji markisa sama banyak dengan minyak dari biji bunga matahari dan biji kedelai, yaitu sekitar 23%.

100 gram biji markisa yang dikeringanginkan mengandung kadar air 5,4%, lemak 23,8%, serat kasar 53,7%, protein 11,1%, ekstrak N-bebas 5,1%, abu total 1,84%, abu tidak larut dalam HCl 0,35%, kalsium 80 mg, zat besi 18 mg, dan fosfor 640 mg. Minyaknya mengandung asam lemak jenuh 8,90% dan asam lemak tak jenuh 84,09%. Asam lemak mengandung palmitat (6,78%), stearat (1,76%), arachidat (0,34%), oleat (19,0%), linoleat (59,9%), dan linolenat (5,4%).

Dari penjabaran kandungan-kandungan nutrisi dalam buah dan biji markisa di atas, terbukti bahwa markisa tidak hanya enak dikonsumsi, tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana pengobatan. Selain buah dan biji yang dapat dikonsumsi, daun dan bunga markisa juga ternyata bermanfaat bagi kesehatan. Bunga markisa biasa digunakan sebagai obat asma, batuk, dan bronkitis di negara asalnya. Bermanfaat pula untuk membantu mengatasi masalah menopause.

Daun markisa juga mengandung alkaloid yang dapat menurunkan tekanan darah dan menenangkan syaraf. Kaya akan polifenol dan antioksidan. Dapat pula digunakan sebagai obat diare dan disentri. Demikian beragam informasi seputar tanaman markisa. Semoga bermanfaat untuk Anda yang ingin menanamnya sebagai koleksi di rumah ataupun membudidayakannya secara komersial.

Untuk mendapatkan bibit tanaman markisa yang baik, Anda dapat menghubungi www.samudrabibit.com atau langsung berkunjung ke kebun pembibitan kami di Perumahan Bumi Saraswati, desa Gaum, kecamatan Tasikmadu, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kami melayani pembelian satuan dan grosir, baik secara langsung ataupun online.

Selain menyediakan bibit markisa dan berbagai jenis tanaman buah lainnya, kami juga menyediakan berbagai peralatan bercocok tanam yang berkualitas, berbagai jenis pupuk organik khusus tanaman buah, zat pengatur tumbuh dan hormon pertumbuhan, suplemen, obat antistress pada tanaman, dan sebagainya. Semua diformulasi khusus untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari tanaman. Selamat menanam.
Blog Post Lainnya
Mau tanya - tanya dulu?
0823-2246-8111
@2014 - 2020 Samudrabibit Inc.