8 Desember 2019 9:50 am

Membudidayakan Kembali Buah Menteng, Si Buah Khas yang Mulai Langka

Membudidayakan Kembali Buah Menteng, Si Buah Khas yang Mulai Langka
Pernah mendengar nama buah menteng? Ya, buah ini memang ada hubungannya dengan nama daerah elit di pusat Jakarta, Menteng. Di daerah tersebut, dahulu banyak pohon menteng. Hanya sayang karena desakan kemajuan zaman serta kebutuhan akan jalan dan perumahan, keberadaan pohon menteng terdesak. Hingga saat ini hanya tersisa beberapa batang pohon yang masih dapat dilihat di Taman Menteng. Tanaman buah yang mirip duku ini juga dikenal dengan sebutan kepundung atau kapundung.

Sebutan ini menjadi cikal bakal penamaan sungai Cikapundung yang membelah kabupaten dan kota Bandung. Tetapi, di daerah itupun sekarang ini pohon menteng jarang ditemukan. Konon masih ada petani yang mengusahakannya di wilayah Bogor dan sekitarnya, namun buahnya sangat jarang ditemukan di pasar, bahkan ketika sedang musimnya. Padahal, buah yang bernama latin Baccaurea racemosa ini adalah salah satu kekayaan lokal negara kita.

Merupakan tanaman buah endemik pulau Jawa, mungkin pohon menteng sudah sama langkanya seperti badak, harimau, dan elang jawa sehingga patut dilindungi. Barangkali Anda tertarik untuk turut melestarikan kembali keberadaan buah khas yang unik ini? Berikut serba-serbi informasi mengenai tanaman buah menteng beserta cara menanam dan merawatnya untuk koleksi di rumah atau tujuan pembudidayaan.


Asal usul dan persebaran

Tanaman menteng adalah tanaman asli pulau Jawa. Berkerabat dekat dengan tanaman lempaung atau kalampesu (Baccaurea lanceolate), ketupa (Baccaurea dulcis), bendara atau rambai (Baccaurea motleyana), rambai hutan (Baccaurea angulata), mafai setambun (Baccaurea ramiflora), dan tampoi (Baccaurea macrocarpa). Tanaman ini menyebar ke Sumatra, Kepulauan Sunda Kecil, Borneo (Sarawak, Brunei, Sabah, Kalimantan), Sulawesi, dan Maluku hingga ke Semenanjung Malaya dan Thailand.

Oleh karena persebarannya yang cukup luas, menteng memiliki banyak nama lain, selain kepundung atau kapundung, menteng disebut juga buah mundung, kapunggung, engkuni atau engkunik, kayu masam, kokonan, kunau, kunyi, longkuno, liok moho atau moho liok, tunding undang, umbarian, jinteh merah, bencoy/bencoi, jerek, modung, rusip, kisip, rambi, tamut, dan tampoi (Malaysia). Tetapi, kemudian diketahui bahwa tampoi adalah spesies yang berbeda meskipun berkerabat sangat dekat.

Klasifikasi ilmiah

Tanaman yang termasuk dalam keluarga menteng-mentengan ini memiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut.

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta/Magnoliophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales/Malpighiales
Famili : Euphorbiaceae/Phyllanthaceae
Bangsa : Antidermeae
Subbangsa : Scepinae
Genus : Baccaurea
Spesies : Baccaurea racemosa


Morfologi dan karakteristik

Menteng merupakan tanaman buah musiman yang berbuah satu tahun sekali dengan tingkat produktivitas tinggi. Tumbuh tegak dalam bentuk pohon, tingginya mencapai 15 – 25 m. Batangnya bulat dengan diameter mencapai 25 – 70 cm. Termasuk tanaman berkayu keras yang kulitnya bertekstur kasar, berwarna putih kecoklatan. Percabangannya simpodial, cabang-cabang tua membentuk pati. Akarnya tunggang berwarna putih kotor.

Daunnya tunggal, tumbuh tersebar atau terkumpul di ujung ranting. Bentuknya oval-lonjong atau bulat telur terbalik memanjang. Tepi daun bergerigi, ujungnya runcing atau lancip, sedangkan pangkalnya membulat. Panjang daun 7 – 20 cm dan lebarnya 3 – 7,5 cm. Pertulangan daun menyirip. Tangkai daun silindris dengan warna hijau muda, panjangnya ±2 cm. Warna daun hijau. Bunga majemuk berumah dua, tumbuh dalam karangan yang berbentuk tandan.

Berkelamin satu, artinya ada bunga betina dan bunga jantan. Muncul pada batang atau cabang. Tangkainya berbentuk silindris dengan panjang ±10 cm. Kelopak bunga berbentuk mangkuk, benang sarinya berjumlah 4 – 6. Bunga betina memiliki ukuran lebih besar dibandingkan bunga jantan. Mahkotanya terbagi lima, berwarna kuning atau kuning muda. Buah menteng bertipe buni. Bentuknya bulat, kecil, mirip duku dengan diameter 2 – 2,5 cm.

Tumbuh dalam tandan-tandan buah yang menggantung. Kulit buah berwarna hijau ketika masih muda, berangsur kekuningan ketika sudah matang. Buah ini memiliki biji berbentuk bulat dengan diameter ±0,5 cm, berwarna putih kekuningan. Dinding biji diliputi lapisan luar berdaging yang dapat dimakan. Daging buah ada yang berwarna merah dan ada pula yang putih atau kekuningan. Rasanya asam manis dengan kandungan air yang banyak.

Syarat tumbuh

Sebagai tanaman khas asli Indonesia, menteng hidup dalam iklim tropis. Tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi di ketinggian 1000 mdpl. Jenis tanah yang disukai adalah tanah aluvial kering berpasir atau tanah berlempung/tanah liat. Suhu ideal 21 – 28oC dengan toleransi adaptasi 14 – 34oC. Tanaman ini memerlukan sinar matahari sepanjang hari untuk pertumbuhannya.


Pembibitan

Penanaman pertama memerlukan bibit siap tanam yang dijual di tempat-tempat penjualan bibit untuk memastikan keberhasilan tumbuhnya. Pastikan Anda membeli bibit dari tempat penjualan yang terpercaya untuk mendapatkan bibit berkualitas unggul. Bibit yang baik batangnya lurus dan segar, tidak kering, daunnya segar dan rimbun, perakarannya kuat, dan bebas serangan hama atau penyakit.

Setelah penanaman pertama berhasil dengan baik, untuk usaha pelestarian ataupun tujuan komersil, Anda dapat memperbanyak sendiri tanaman menteng dengan berbagai teknik. Tanaman menteng dapat diperbanyak dengan cara generatif ataupun vegetatif. Perbanyakan generatif menggunakan biji sebagai benih. Cara ini memiliki keuntungan kelak perakarannya akan kuat dan tahan penyakit. Tetapi, tanaman menteng yang diperbanyak dari biji baru akan berbuah setelah berumur 7 – 8 tahun.

Sifat tanaman juga mungkin tidak sama dengan tanaman induk. Cara lain adalah menggunakan perbanyakan vegetatif dengan teknik cangkok, stek, okulasi, atau sambung pucuk. Teknik cangkok dan stek mengambil cabang dari pohon indukan yang sehat dan sudah berbuah. Pilih cabang yang ukurannya sebesar batang pensil. Untuk stek, cabang dipotong sepanjang 25 – 30 cm, lalu rendam bagian pangkalnya dalam air semalaman.

Sebelum ditanam, celupkan dalam larutan hormon pertumbuhan akar. Kemudian tancapkan ke dalam media semai yang sudah disiapkan dalam polybag berukuran sedang. Media semai terdiri atas tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan yang seimbang. Pada teknik cangkok, cabang yang sudah dipilih dikerat kulitnya sekitar 30 – 50 cm dari pucuk. Lebar bidang yang dikerat 7 – 10 cm. Bersihkan bekas keratan hingga kambiumnya tampak dan kering.

Oleskan hormon pertumbuhan akar, lalu tutup dengan sabut kelapa (cocopeat) seluruhnya. Tutup lagi dengan plastik transparan dan ikat kedua ujungnya dengan rafia. Jika akar sudah tumbuh (tampak menyembul dari sela-sela sabut kelapa), berarti tanaman sudah siap dipindahkan ke polybag. Potong di bawah bidang cangkok, tanam dalam media semai, dan letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Baik cara stek maupun cangkok membutuhkan waktu pembibitan yang lebih singkat dan tanaman cepat berbuah (2 – 4 tahun).

Sifat tanaman cenderung sama dengan tanaman induk. Akan tetapi, cara ini memiliki kelemahan. Akar dari tanaman yang distek ataupun dicangkok kurang dalam dan kuat. Akibatnya, tanaman mudah tumbang dan rentan penyakit, terutama penyakit tular tanah. Untuk mengatasinya, dapat digunakan teknik okulasi atau sambung pucuk. Cara ini lebih rumit dan memakan waktu, tetapi memiliki keunggulan akar yang lebih kuat dan tanaman yang lebih cepat berbuah dengan kualitas yang sama dengan induknya.

Baik teknik okulasi ataupun sambung pucuk memerlukan batang bawah yang berasal dari benih biji dan mata okulasi (okulasi) atau batang atas (sambung pucuk) yang diambil dari pohon indukan berkualitas baik. Bibit yang dapat digunakan sebagai batang bawah adalah bibit yang diameter batangnya sudah sebesar pensil atau tingginya sudah lebih dari 30 cm.

Pucuknya dipotong mendatar lalu dibelah sedikit melintang diameternya (sambung pucuk) atau dikerat kulit batangnya sebesar mata tunas/mata okulasi yang sudah diambil dari pohon indukan hingga kambiumnya tampak (okulasi). Dari pohon indukan, ambil mata tunas untuk ditempelkan pada batang bawah (okulasi) atau pucuk yang diameternya kurang lebih sama dengan diameter batang bawah sepanjang 20 – 25 cm untuk disisipkan pada belahan melintang yang sudah dibuat di batang bawah (sambung pucuk).

Tutup sambungan dengan plastik transparan lalu lilitkan isolasi atau tali rafia menutup bidang sambungan agar tidak kemasukan air. Jika batang bawah dan batang atas telah tersambung dengan baik, lilitan dapat dilepaskan dan semaikan bibit hingga tumbuh tunas baru.


Persemaian

Penyemaian sebaiknya dilakukan dengan meletakkan polybag berisi bibit di atas bedengan. Tujuannya untuk menghindari tergenangnya akar bibit dalam sisa-sisa air siraman atau air hujan yang berisiko rentannya bibit terhadap serangan penyakit. Beri naungan agar bibit tidak terbakar sinar matahari siang yang terik, tetapi cukup mendapat sinar matahari, terutama pada pagi hari untuk pertumbuhan. Beri sungkup plastik untuk menjaga kelembapan dan menghindarkan dari serangan serangga.

Selama dalam persemaian, bibit dipelihara dengan penyiraman rutin minimal satu kali sehari. Semprotkan insektisida atau fungisida apabila tampak adanya serangan hama atau penyakit. Sebaiknya gunakan insektisida dan fungisida hayati atau yang dibuat dari bahan-bahan alami. Siangi jika tampak ada gangguan tanaman liar atau gulma. Bibit yang telah memiliki tinggi lebih dari 70 cm dan daun-daun dewasanya sudah tumbuh dengan rimbun, sudah dapat dipindahtanamkan ke kebun, pekarangan, atau ditanam dalam pot.

Penanaman

Proses penanaman menteng atau kepundung diawali dengan pengolahan lahan dan persiapan media tanam. Pembudidayaan menteng di kebun atau pekarangan memerlukan pengolahan lahan yang baik, terutama jika kondisi tanah kurang ideal. Olah tanah pada akhir musim kemarau agar penanaman dapat dilakukan dalam musim hujan. Gemburkan tanah menggunakan cangkul (pekarangan) atau bajak (kebun) untuk meningkatkan aerasi tanah dan kemampuannya menyerap air.

Siangi lahan dari tanaman liar dan bersihkan dari sisa-sisa tanaman yang sudah mati atau membusuk. Tanaman liar dapat menjadi inang dari berbagai serangga yang berpotensi menjadi hama dan vektor penyakit bagi tanaman menteng, selain menimbulkan kompetisi dalam penyerapan nutrisi atau zat hara. Sisa-sisa tanaman yang sudah mati dan membusuk dapat menjadi sarang rayap, nematoda, dan tempat tumbuh yang ideal bagi berbagai jenis jamur yang berbahaya untuk tanaman.

Selesai pengolahan tanah, buat lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm. Pisahkan tanah dari setengah bagian galian sebelah atas (0 – 25 cm) dengan tanah dari setengah bagian galian sebelah bawah (25 – 50 cm). Campur tanah galian sebelah atas dengan pupuk kandang kering hingga homogen. Diamkan lubang tanah selama 1 – 2 minggu agar terpapar sinar matahari untuk mematikan organisme merugikan di dalamnya dan membiarkan gas-gas yang berbahaya untuk akar tanaman hilang.

Pada penanaman budi daya di kebun dengan sejumlah bibit sesuai luasan kebun, beri jarak antara lubang tanam yang satu dengan yang lain sedikitnya 7 x 7 m, tergantung dari berapa banyak bibit yang akan ditanam. Sambil menunggu saat penanaman yang tepat, keluarkan bibit dari naungan di persemaian agar belajar beradaptasi dengan lingkungan barunya. Jangan lupa membuat saluran drainase di sekitar lubang tanam. Setelah pendiaman lubang tanam selama 2 minggu, sirami lubang tanam dan sekitarnya secukupnya.

Sirami pula media semai pada bibit untuk memudahkan pelepasan bibit dari polybag. Masukkan tanah galian bagian bawah lebih dahulu ke dalam lubang tanam. Letakkan bibit yang sudah dilepaskan dari polybag di dalam lubang tanam, posisinya harus tepat di tengah dan berdiri tegak. Atur posisi akar agar tidak tertekuk atau berbelit. Selanjutnya, masukkan tanah galian bagian atas yang sudah dicampur pupuk ke dalam lubang tanam, ratakan permukaannya dan padatkan sedikit.

Sirami secukupnya. Tutup tanah di sekitar batang pohon dengan mulsa organik, misalnya jerami atau dedaunan kering, untuk menjaga kelembapan tanah dan mencegah tumbuhnya gulma di sekitar tanaman. Pemasangan mulsa sebaiknya tidak terlalu dekat dengan batang pokok. Beri jarak sekitar 20 cm antara mulsa dengan batang pokok.


Penanaman di dalam pot

Meskipun termasuk tanaman pohon berukuran besar dan tinggi, bukan berarti menteng atau kepundung tidak dapat ditanam di dalam pot. Hanya saja diperlukan tindakan perawatan yang lebih intensif agar tanaman tidak tumbuh terlalu besar dan tinggi sesuai ukuran pot. Pilih pot yang berukuran cukup besar, minimal 60 cm, agar dapat menampung pertumbuhan akar semaksimal mungkin. Bahan pot yang digunakan juga sebaiknya cukup kuat untuk menahan beban tanaman.

Selain memerhatikan ukuran dan bahan pot, perhatikan pula bahwa pot yang dipilih memiliki lubang drainase yang cukup baik. Sebelum penanaman, tebarkan pecahan batu bata atau genting di dasar pot. Pecahan batu bata atau genting akan memberi jarak antara dasar pot dengan media tanam sehingga air siraman yang berlebih dapat mengalir keluar dengan baik tanpa membawa serta media tanam secara berlebihan. Media tanam meliputi campuran tanah lempung berpasir dan pupuk organik (pupuk kandang/kompos/bokashi).

Aduk hingga campuran tanah dan pupuk menjadi homogen, lalu masukkan ke dalam pot yang sudah ditaburi pecahan batu bata atau genting hingga setengah tinggi pot. Sirami media pada bibit agar polybagnya mudah dilepaskan, lalu sobek polybag dengan hati-hati agar media semai tidak pecah dan akar bibit tetap utuh. Letakkan bibit berikut media semainya di tengah pot dan timbun akarnya dengan sisa media tanam yang sudah disiapkan hingga ketinggian permukaan tanah berada sekitar 2 cm di bawah bibir pot.

Sirami secukupnya hingga merata. Penyiraman yang merata ditandai dengan mengalirnya sisa air siraman dari dasar pot. Letakkan pot di tempat yang cukup mendapat sinar matahari. Penanaman dalam pot tidak memerlukan mulsa, tetapi perhatikan selalu kondisi tanah/media tanam agar selalu terjaga kelembapannya.


Pemeliharaan

Menteng tidak memerlukan perawatan atau pemeliharaan yang rumit. Penyiraman cukup satu kali sehari melihat cuaca. Jika curah hujan cukup banyak, penyiraman tidak lagi diperlukan. Pemupukan satu bulan sekali dengan NPK daun. Penyiangan gulma dan penggemburan tanah secara rutin diperlukan untuk menjaga sanitasi kebun dan aerasi tanah. Oleh karena tajuk tanaman ini termasuk rimbun, pemangkasan rutin juga diperlukan.

Cabang-cabang yang perlu dipangkas adalah cabang yang mati, tumbuh bertumpukan atau bersilangan, terkena penyakit atau serangan serangga, atau tunas air yang tidak diperlukan. Periksa drainase secara teratur pula. Jika mulai dangkal, perlu diperdalam lagi agar air sisa siraman mudah mengalir, tidak menggenang di sekitar batang tanaman, dan mencegah pengikisan permukaan tanah yang berlebihan.

Air yang menggenang di sekitar tanaman membuat akar busuk dan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit yang disebabkan oleh jamur. Apalagi jika tajuk terlalu rimbun. Jamur sangat mudah tumbuh di tempat yang kelembapannya sangat tinggi. Apabila terjadi serangan hama, umumnya berupa serangga, penyemprotan insektisida atau pestisida mungkin diperlukan. Penggunaannya sesuai dengan anjuran pemakaian yang biasanya tertera pada kemasan.

Lebih aman jika menggunakan insektisida yang ramah lingkungan, misalnya insektisida yang dibuat dari bahan-bahan alami atau insektisida hayati yang memanfaatkan bakteri menguntungkan. Demikian pula dengan fungisida untuk memberantas jamur. Pemanfaatan bahan-bahan alami atau musuh alami dari hama dan penyakit tanaman lebih ramah lingkungan karena tidak merusak ekosistem di sekitar tanaman.


Panen buah menteng

Buah menteng adalah buah musiman. Mulai berbunga pada bulan Oktober – Desember, berbuah pada bulan Januari hingga Maret. Musim buah menteng terjadi satu tahun sekali. Untuk menjaga produktivitasnya, sebaiknya pemetikan buah menteng dengan cara memotong tandan buah menggunakan gunting petik. Jaga jangan sampai buah jatuh karena buah yang memar lebih mudah busuk.

Petik ketika buah sudah benar-benar matang, ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi kekuningan dan ketika dipegang terasa lunak. Sebaiknya panen dilakukan dalam kondisi kering karena buah yang basah mudah busuk. Seperti duku, kulit buah menteng menjadi coklat dalam waktu beberapa hari. Meskipun daging buahnya masih dapat dimakan, tetapi penampilannya sudah tidak menarik. Sebaiknya simpan dalam lemari pendingin agar dapat bertahan lebih lama.

Buah menteng yang akan dijual biasanya dikemas dalam keranjang yang diberi alas daun pisang kering atau koran bekas. Jika hendak dikemas dalam peti kayu untuk pengiriman dalam jarak yang lebih jauh, bobot buah maksimal 20 kg per kemasan.


Kandungan nutrisi dan khasiatnya

Buah menteng memiliki kandungan nutrisi meliputi karbohidrat, kalori, lemak, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, protein, kalsium, fosfor, dan zat besi. Total energi yang dihasilkan oleh 100 gr buah menteng adalah 65 kilokalori. Jumlah nutrisi lain yang terkandung adalah sebagai berikut. Protein 1,7 gr Karbohidrat 16,1 gr Lemak 0,2 gr Kalsium 13 mg Fosfor 20 mg Zat besi 1 mg Kandungan vitamin C yang terdapat dalam buah menteng adalah 3 mg.

Kandungan vitamin C bersama kandungan antioksidan buah ini dapat menangkal radikal bebas dan melindungi tubuh dari risiko kanker. Kandungan ini juga membantu menjaga kesehatan dan kelembapan kulit, mencegah sariawan, mengobati radang tenggorokan, serta mengatasi rasa gatal karena infeksi pada tenggorokan. Buah menteng juga mengandung vitamin B6 yang berperan dalam metabolisme asam amino dan asam lemak, membantu menyintesis asam amino nonesensial dan bersama zat besi mereproduksi sel darah merah sehingga dapat mencegah anemia.

Kandungan ini membantu mengatur tekanan osmotik, menjaga keseimbangan elektrolit (asam-basa) dalam tubuh, dan bersama natrium membantu metabolisme air. Buah menteng merupakan sumber energi yang baik, dapat mengatur penyimpanan dan pengeluaran energi. Kandungan fosfornya membentuk dan menjaga kesehatan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis. Kandungan vitamin A-nya membantu menjaga kesehatan mata.

Di samping itu semua, mengonsumsi buah menteng dapat mengatasi gangguan pencernaan, membunuh bakteri penyebab diare, meningkatkan kesehatan jantung, serta meluruhkan atau memperlancar haid. Selain buahnya, daun dan kulit batang juga memiliki khasiat. Kandungan kimia pada daun dan kulit batang tanaman menteng meliputi saponin, flavonoid, dan tannin. Daun juga mengandung alkaloids. Dengan kandungan tersebut, daun dan kulit batang menteng dapat dimanfaatkan pula sebagai alternatif pengobatan, contohnya sebagai obat herbal peluruh haid.

Cara membuatnya sebagai berikut. Siapkan ±20 gr daun menteng segar, cuci bersih, lalu rebus dengan 2 gelas air selama 15 menit. Setelah mendidih, dinginkan dan saring. Minum air rebusan daun menteng yang sudah disaring 2 kali sehari sama banyak, pagi dan sore hari. Kulit batang juga dapat dijadikan obat radang mata. Biasanya buah menteng dikonsumsi sebagai buah segar, tetapi ada pula yang mengolahnya menjadi sirup atau setup, asinan, dan difermentasi menjadi minuman semacam anggur.

Akan tetapi, karena memiliki khasiat untuk meluruhkan haid, ibu hamil sebaiknya berhati-hati mengonsumsi buah ini. Jika hendak mengonsumsinya secara rutin, imbangi dengan konsumsi air mineral yang cukup, sayuran, buah-buahan yang lain, daging tanpa lemak, ikan, telur, karbohidrat, susu ibu hamil, dan sebagainya.


Kegunaan lain

Buah menteng bukan satu-satunya bagian dari tanaman ini yang bermanfaat. Tanamannya sendiri yang tumbuh tinggi dan rimbun dengan perakaran kuat sangat bagus dijadikan tanaman peneduh dan sering kali digunakan sebagai penopang pohon rotan di hutan. Kayunya yang keras dan kuat dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, peralatan rumah tangga, bahan pembuatan perahu, dan furnitur. Serat tumbuhan menteng dapat dimanfaatkan untuk produksi kertas.

Kulit kayunya dapat dijadikan bahan pembuatan pewarna alami untuk mewarnai kain sutra menjadi kuning, merah, atau lembayung muda. Setelah memahami berbagai informasi mengenai tanaman menteng dan cara penanaman serta perawatannya yang mudah, tentunya semakin besar alasan untuk melestarikan tanaman langka yang hampir punah ini. Semoga artikel ini dapat membantu Anda mewujudkan cita-cita mulia melestarikan tanaman khas Indonesia yang unik dan tiada duanya.

Jika memerlukan bibit tanaman menteng atau kepundung, Anda dapat mengunjungi situs kami di www.samudrabibit.net. Bukan hanya tanaman unik dan langka yang kami sediakan, ada pula berbagai tanaman produksi, tanaman hobi, tanaman herbal, dan tanaman-tanaman buah kekinian yang sedang trendi. Semuanya dapat diperoleh secara satuan ataupun grosir dengan harga yang bersahabat.

Di samping bibit tanaman berkualitas, kami juga menyediakan berbagai sarana pendukung seperti peralatan berkebun, aneka jenis pupuk organik khusus tanaman buah, obat-obatan antistress dan zat pengatur tumbuh, serta masih banyak lagi sarana penunjang kebutuhan tanaman lainnya. Kami menerima transaksi secara online ataupun secara langsung di kebun pembibitan kami, dengan alamat Dusun Kandangsari Kwarasan RT 04 RW 07 Gaum, Tasikmadu, Karanganyar – Solo, Jawa Tengah 57761.
Blog Post Lainnya
Mau tanya - tanya dulu?
0823-2246-8111
@2014 - 2020 Samudrabibit Inc.