27 November 2019 9:30 am

Menanam dan Merawat Kedondong untuk Budi Daya dan Tabulampot

Menanam dan Merawat Kedondong untuk Budi Daya dan Tabulampot
Anda yang senang makan rujak pasti tahu kedondong. Buah renyah dengan rasa asam manis ini tambah nikmat disantap dengan paduan sambal rujak yang manis pedas. Dimakan segar dengan cocolan garam pun sudah enak. Buah ini juga sangat lazim dicari ibu-ibu hamil yang sedang ‘ngidam’. Banyak orang suka makan kedondong, tetapi pamornya kalah dengan buah-buahan lain yang lebih bergengsi.

Meskipun demikian, membudidayakan kedondong bukannya tidak menguntungkan. Perawatan tanaman ini tergolong mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu besar. Pasarnya pun selalu ada. Apalagi sekarang kedondong termasuk buah-buahan eksotis yang makin jarang dijumpai pohonnya karena lahan yang semakin terbatas. Jika Anda penggemar berat buah kedondong, tidak ada salahnya mencoba menanam tanaman ini dalam pot di pekarangan rumah.

Sejarah, persebaran, dan nama-nama lain

Kedondong adalah tanaman buah tropis dari keluarga mangga. Tanaman ini berasal dari negara-negara di wilayah Melanesia (Asia Selatan dan Tenggara) dan Polinesia di Pasifik Selatan. Penyebarannya meliputi hampir seluruh wilayah tropis di Asia hingga Afrika, seperti India, Vietnam, Laos, Malaysia, Kamboja, Zanzibar, Gabon, Filipina, Myanmar, Thailand, dan Indonesia.

Nama kedondong lazim digunakan untuk menyebut buah ini di Indonesia dan Malaysia. Di negara-negara lain tentu memiliki sebutan lain, seperti hevi (Filipina), gway (Myanmar), mokak (Kamboja), kook kvan (Laos), makak sarang (Thailand), dan co’c (Vietnam). Di Indonesia sendiri, kedondong memiliki beberapa nama sesuai dengan dialek setempat, misalnya kadendong (Sunda), kedondong (Jawa), kedundung (Madura), kacemcem (Bali), inci (NTT), hauntung (Makassar), dan dau kaci (Bugis). Dalam bahasa Inggris, kedondong disebut ambarella, otaheite apple, atau great hog plum.


Klasifikasi, varietas unggul, dan sentra budi daya

Klasifikasi ilmiah untuk tanaman kedondong sebagai berikut.

Kingdom : Plantae
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Spondias
Spesies : Spondias dulcis (sinonim: Spondias cytherea)

Di Indonesia, tanaman ini menjadi tanaman pekarangan atau budi daya. Sentra pembudidayaan kedondong terbesar adalah di Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Jenis-jenis atau varietas unggul kedondong yang dikembangkan di Indonesia, meliputi kedondong bangkok, kedondong kendeng, dan kedondong konden/kebo. Kedondong bangkok banyak ditanam sebagai tabulampot. Sementara untuk pembudidayaan kebanyakan menggunakan kedondong kendeng.

Kedondong konden adalah varietas yang khas dari Karimunjawa. Ukurannya besar dengan bentuk lonjong, beratnya mencapai 0,7 – 1 kg per buah. Produksi berlangsung sepanjang tahun. Oleh karena ukurannya yang besar, varietas ini juga disebut kedondong kebo. Masih ada varietas-varietas lainnya selain varietas-varietas unggulan di atas. Seperti, kedondong mini, kedondong bangkok merah, kedondong bali, kedondong kerikilyang mempunyai bau dan rasa yang khas, kedondong hutan, hingga kedondong hibrida.

Karakteristik dan morfologi

Kedondong adalah tumbuhan tropis tahunan yang mampu menggugurkan sendiri daunnya hingga gundul sebagai mekanisme pertahanan menghadapi musim kemarau. Kelak di musim hujan, daun-daun kedondong akan kembali tumbuh subur dan rimbun. Tinggi pohon kedondong mencapai 18 m, bahkan ada yang mencapai 20 – 30 m dengan garis tengah 50 – 60 cm jika diliarkan. Rata-rata tinggi pohon kedondong yang dibudidayakan sekitar 9 – 12 m, kecuali kedondong mini.

Tumbuhan ini berakar tunggang dengan warna coklat tua. Batangnya berkayu, keras dan kuat, berbentuk bulat, dan tumbuh tegak. Percabangan simpodial, batang pokoknya sukar ditemukan karena perkembangannya tidak secepat pertumbuhannya. Permukaan batang halus berwarna putih kehijauan. Cabang-cabangnya rapuh, mudah patah. Kayunya berwarna coklat muda dan ringan, mudah mengambang.

Tajuk tanaman ini sangat lebar dan menyebar sehingga memerlukan lahan yang cukup luas. Daunnya majemuk,berwarna hijau, berbentuk bulat panjang atau bulat telur lonjong dengan pangkal dan ujung meruncing. Tulang daun menyirip dan bagian tepinya rata. Panjang daun 5 – 8 cm, lebarnya 3 – 6 cm. Jumlah anak daun gasal dan tumbuh berpasang-pasangan dengan tata letak tersebar. Permukaan daun licin dan mengilat.

Bunga kedondong berwarna putih kekuningan dengan bentuk menyerupai bunga karang. Merupakan bunga majemuk yang tumbuh dalam bentuk malai dengan ibu tangkai yang memiliki percabangan monopodial. Panjang seluruh malai 24 – 40 cm, panjang kelopak bunga ±5 cm. Jumlah benang sari delapan, berwarna kuning. Mahkota bunga berjumlah empat sampai lima, bentuknya lanset.

Buah kedondong termasuk tipe buah buni, berbentuk oval dengan ukuran bervariasi tergantung varietasnya. Umumnya panjangnya 6 – 9 cm dengan bobot rata-rata 250 – 500 gr per buah, kecuali kedondong konden yang bobotnya mencapai 0,7 – 1 kg. Warna daging putih dan bergetah ketika masih muda, kemudian berubah kekuningan ketika sudah matang. Tebal daging buah 2 – 3 cm, sedikit lunak dan berair jika sudah benar-benar matang.

Rasanya manis asam dan segar. Kulitnya tipis dan kaku, berwarna hijau ketika muda dan hijau kekuningan setelah matang, dan sulit dikupas. Merupakan buah sejati yang tumbuh dalam jumlah banyak. Bijinya tunggal, bulat, kecil, dan berserabut menembus daging. Biji berwarna putih kekuningan.



Syarat tumbuh

Pada dasarnya kedondong dapat tumbuh di segala tempat, tetapi daerah penanaman yang paling disukainya adalah dataran rendah beriklim kering. Ketinggian 0 – 700 mdpl untuk pertumbuhan optimal, masih sangat baik hingga ketinggian 750 mdpl. Curah hujan sedang, 1000 – 1500 mm per tahun, suhu 20 – 32oC, dan kelembapan udara 14%.

Jenis tanah mulai dari tanah lempung, tanah batu kapur, hingga berpasir dan pasir asam, selama unsur haranya mencukupi dan sistem drainase baik. Tekstur porous, gembur, dan mengandung bahan organik. Derajat keasaman (pH) 5,5 – 6,2. Jika tanah terlalu asam, pH dapat dinaikkan dengan pengapuran. Permukaan air tanah 50 – 200 cm. Kelerengan tidak terlalu memengaruhi, tetapi paling baik apabila ditanam di tanah datar atau kelerengan 0 – 10 derajat.

Kedondong tidak suka genangan air dan toleran terhadap kekeringan. Tanaman ini memerlukan banyak cahaya, intensitas matahari setidaknya 80%. Jika ternaungi, hanya akan menghasilkan sedikit buah atau bahkan tidak berbuah sama sekali. Oleh karena percabangannya rapuh dan mudah patah, sebaiknya hindarkan dari angin kencang.

Pembibitan

Kedondong dapat diperbanyak dengan cara generatif (biji) maupun vegetatif (cangkok, stek, okulasi, sambung). Persyaratan pembibitan, benih untuk bibit diambil dari induk yang sehat. Biji berasal dari penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang, tidak perlu disimpan dahulu, sebaiknya langsung disemaikan atau ditanam. Pembibitan dari biji mudah dan murah, sayangnya memiliki banyak kelemahan.

Biji kedondong tidak bernas. Jika berhasil tumbuh, kemungkinan sifatnya akan berbeda dengan induknya. Akan tetapi, pembibitan dari biji tetap diperlukan dalam pembudidayaan untuk persediaan batang bawah bagi pembibitan dengan teknik okulasi dan sambung karena perakarannya lebih kuat. Jika membeli benih dari biji, pastikan benih memiliki persentase perkecambahan 80% dan perhatikan tingkat kemurniannya.

Bibit vegetatif lebih cepat berbuah, sifatnya lebih identik dengan tanaman induk. Benihnya diambil dari tanaman induk yang sehat dan sudah cukup umur (dewasa). Stek batang memerlukan potongan batang/cabang dewasa dengan panjang ±50 cm. Dapat juga menggunakan stek cabang yang masih muda dengan perendaman dalam larutan zat pemacu pertumbuhan akar dalam ruangan berkabut. Cara ini terbukti lebih ekonomis dan efisien. Stek batang yang telah memiliki akar dapat ditanam di lahan permanen pada awal musim hujan.

Pencangkokan memiliki tingkat keberhasilan cukup tinggi, tetapi memakan waktu agak lama, sekitar 8 – 9 bulan. Caranya dengan melukai cabang yang sudah cukup dewasa. Luka berupa sayatan pada kulit melingkari cabang selebar 7 – 10 cm hingga kambiumnya tampak, bersihkan, lalu tutup dengan media berupa sabut/cocopeat atau peatmoss. Bungkus dengan plastik transparan, lalu ikat kuat. Pelihara hingga akarnya muncul, barulah potong di bagian bawah cangkokan dan benih siap disemaikan dalam polybag.


Pembibitan dengan cara okulasi dan sambung memerlukan batang bawah dari varietas yang tahan penyakit, mudah beradaptasi, dan perakarannya kuat. Dapat juga menggunakan batang bawah dari jenis Spondias pinnata (kedondong hutan). Teknik okulasi berarti mengambil mata tunas dari tanaman induk yang ingin diperbanyak untuk ditempelkan pada batang bawah yang sudah dilukai seukuran dengan mata tunas yang sudah diambil. Penempelan menggunakan selotip atau plester perekat dan dibungkus plastik transparan agar tidak kemasukan air.

Teknik sambung yang biasa digunakan adalah teknik sambung pucuk. Batang atas yang diambil dari pucuk cabang pohon indukan yang sehat dan terbukti unggul disisipkan di sela-sela sayatan batang bawah yang sudah dipotong dahulu pucuknya. Sambungan ditutup dengan plester atau tali plastik serapat mungkin agar tidak kemasukan air.

Teknik okulasi dan sambung dinyatakan berhasil apabila sambungan sudah tampak menyatu. Cara ini juga memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi dengan perawatan yang benar. Cara apapun yang digunakan, sebaiknya semaikan dahulu bibit sebelum ditanam di lahan permanen agar tanaman sempat beradaptasi dengan lingkungan secara bertahap. Hal ini dapat mengurangi tingkat stress pada tanaman yang dapat memicu kegagalan pembudidayaan.

Bentuk tempat persemaian bibit kedondong berupa naungan yang bagian tepinya ditutup jaring kawat untuk melindungi dari gangguan hewan. Bibit disemaikan dalam bedengan atau dalam polybag. Penyemaian dalam polybag lebih praktis karena tanaman dapat langsung dipindahkan ketika akan ditanam. Sebagai media, siapkan tanah humus atau campuran tanah dan pupuk kandang. Benih yang sudah memiliki 4 – 5 daun dan sudah berakar dipindahkan ke persemaian.

Bibit disemaikan selama 2 – 3 minggu sebelum penanaman di lahan permanen. Selama dalam persemaian, pelihara bibit dengan penyiraman teratur, pagi dan sore hari. Gunakan gembor yang lubangnya kecil sehingga guyuran air tidak akan merusak tanah persemaian. Benih yang tumbuh terlalu rapat atau banyak dikurangi dengan penjarangan. Jika ada gejala serangan hama, semprotkan pestisida dalam dosis rendah.

Cara paling praktis untuk mendapatkan bibit tentunya dengan membeli bibit yang sudah siap tanam. Jika membeli bibit jadi, pilihlah yang sehat, bebas dari hama dan penyakit.Bibit siap tanam apabila sudah memiliki 10 – 15 helai daun. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika udara sejuk.


Penanaman bibit kedondong dalam pot

Untuk penanaman bibit kedondong di dalam pot, pilihlah pot yang berdiameter 40 – 65 cm dengan tinggi sekitar 50 cm. Siapkan media tanam berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang kering dengan perbandingan 1 : 1 : 1 atau campuran bokashi dan tanah dengan perbandingan 1 : 1. Campurkan insektisida atau nematisida berbahan dasar karbofuran sebanyak 3 gr untuk mencegah serangan hama tanah.

Masukkan media tanam ke dalam pot setinggi 25 cm atau setengah tinggi pot, sirami hingga basah merata. Masukkan bibit yang sudah dilepaskan dari polybag, atur agar akarnya dapat menyebar rata. Masukkan sisa media tanam hingga pot penuh. Sirami hingga merata. Pasang ajir untuk menopang bibit agar tidak roboh, ikat dengan tali pada batang pokok.

Penanaman bibit kedondong di kebun

Penanaman di kebun diawali dengan pengolahan lahan tanam. Perkirakan waktu pengolahan lahan agar sesuai dengan jadwal penanaman. Ukur keasaman tanah dengan pH tester untuk mengetahui perlu tidaknya pengapuran. Buatlah analisis tentang jenis tanah dan tingkat keasamannya. Ukur luas areal lahan untuk mengetahui seberapa banyak bibit yang dibutuhkan. Perlu diingat bahwa kedondong buahnya lebat dan tajuknya menyebar sehingga jarak antarpohon sebaiknya cukup lebar.

Permukaan lahan dibajak atau dicangkul hingga gembur, kemudian buat saluran drainase, terutama pada tanah yang rendah dan strukturnya padat. Untuk penanaman di lahan permanen tidak diperlukan pembuatan bedengan, kecuali lahan sering digenangi air. Tanah yang terlalu asam akan menghambat pertumbuhan. Naikkan pH-nya dengan pengapuran. Jenis kapur yang biasanya digunakan adalah dolomit dengan jumlah pemberian atau dosis sesuai tingkat keasaman tanah. Taburkan setelah lahan dibajak atau ke dalam lubang tanam dengan dosis per lubang tanam.

Tanah yang kurang subur diberi pupuk awal berupa pupuk kandang.Jika kandungan humus hanya sedikit atau tanah bersifat padat, tanami dahulu dengan pupuk hijau, yaitu tanaman penghasil unsur hara nitrogen (N) dan unsur-unsur hara lainnya yang diperlukan tanaman kedondong. Untuk tambahan pupuk kimia, gunakan urea, TSP, dan ZA dengan dosis yang sesuai per lubang tanam.

Selesai pengerjaan tanah, pasang ajir untuk memberi tanda tempat-tempat yang akan dijadikan lubang tanam. Tujuannya agar bibit dapat ditanam berjajar beraturan. Pemasangan disesuaikan dengan pola tanam yang dikehendaki, bujursangkar atau segitiga. Agar pembentukan pola tanam dapat lebih akurat, gunakan alat yang bernama square atau hoekspiegel. Bisa juga menggunakan alat buatan sendiri. Fungsi dari alat tersebut adalah untuk menentukan sudut-sudut tempat penanaman dengan benar.

Oleh karena tajuk tanaman yang sifatnya menyebar, jarak tanam antarbibit harus cukup lebar, yaitu antara 7,5 – 12 m. Lubang tanam dibuat 2 – 3 minggu sebelum penanaman pada tempat-tempat yang sudah dipasangi ajir. Ukuran lubang tanam 100 x 100 cm dengan kedalaman 50 cm atau 180 x 180 cm dengan kedalaman 50 cm. Pisahkan tanah galian lapisan atas (hingga kedalaman 25 cm) dan lapisan bawah (kedalaman 25 – 50 cm).


Letakkan tanah galian lapisan atas di kanan kiri lubang. Tanah galian lapisan bawah diratakan pada daerah di sekitar bagian belakang lubang tanam. 15 – 30 hari sebelum penanaman, lubang-lubang tanam kembali ditutup dengan tanah galian lapisan atas yang sudah dicampur dengan pupuk organik dan pasir dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Tanah tidak perlu dipadatkan, biarkan memadat sendiri setelah penyiraman.

Sebagai catatan, jika terdapat air di dalam lubang tanam artinya drainase kurang lancar, perlu dibuatkan saluran-saluran tambahan. Pembuatan lubang tanam jangan terlalu dalam sebab akar pohon nantinya akan terlalu dalam masuk ke dalam tanah, sementara yang menjalar pada lapisan tanah sebelah atas kurang.

Waktu penanaman yang terbaik adalah awal musim hujan karena di musim ini akar banyak tumbuh sebagai mekanisme pertahanan agar di musim kemarau tidak kekurangan air. Ambil bibit dari persemaian dan buang polybagnya. Polybag harus dibuang agar tidak mengganggu pertumbuhan akar dan menjadi sarang rayap. Tanam dengan menjaga batas akar dan batang setinggi permukaan tanah. Setelah penanaman, sirami setiap hari selama satu minggu apabila tidak ada hujan.

Pemeliharaan tanaman kedondong di dalam pot

Tanaman kedondong, terutama yang ditanam di dalam pot, sebenarnya tidak memerlukan perawatan khusus. Penyiraman 2 kali sehari, pagi dan sore hari, untuk bibit yang baru ditanam. Jika sudah tumbuh dengan baik, cukup 2 hari sekali, dan jika sudah mulai besar 4 – 6 hari sekali dengan melihat kondisi kelembapan tanah atau media tanam. Siangi dari gulma dua minggu sekali.

Pemupukan dimulai pada umur 2 minggu dengan pupuk yang tinggi kandungan nitrogen seperti urea dan NPK atau pupuk organik cair dengan dosis 20 gr atau 1 sendok makan. Sebar di sekitar batang pohon, sirami hingga pupuk larut. Pemupukan selanjutnya pada umur 1 bulan, 2 bulan, 4 bulan, 8 bulan, dan seterusnya. Tambahkan bokashi setiap kali pemupukan dengan dosis sesuai umur. Jangan lupa untuk menyirami tanah setiap kali selesai memberi pupuk hingga pupuk larut dan meresap ke dalam tanah.

Pemangkasan pada kedondong tabulampot memiliki fungsi utama untuk merangsang pertumbuhan bunga dan buah. Pangkas pada bagian ujung batang yang sudah tua. Selain itu, pemangkasan pada kedondong tabulampot juga berfungsi untuk menjaga ukuran pohon agar tidak terlalu tinggi untuk memudahkan pemeliharaan. Pangkas pula cabang-cabang yang tampak kurang sehat atau tumbuh kurang baik dan saling bersilangan sehingga menghalangi masuknya sinar matahari ke seluruh bagian pohon.


Pemeliharaan tanaman kedondong di perkebunan

Usai penanaman, amati bibit selama 1 – 2 minggu. Apabila ada bibit yang pertumbuhannya lambat, sakit, atau mati, segera ganti dengan bibit baru yang seumur. Tujuan tindakan yang disebut penyulaman ini agar kelak seluruh tanaman kedondong dalam satu kebun dapat tumbuh serempak dengan umur dan ukuran yang sama sehingga panen pun dapat terjadi bersamaan. Cara melakukan penyulaman adalah dengan menggali tanah di sekitar bibit, cabut, dan diamkan bekas lubang tanam seperti sebelum penanaman dilakukan.

2 – 4 minggu setelah penanaman mulai dilakukan penyiangan. Cabut gulma hingga akarnya, masukkan ke dalam lubang khusus untuk pembuatan kompos. Lakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar pohon. Tindakan pembubunan tidak terlalu perlu dilakukan karena bibit sudah ditanam cukup dalam sehingga akar tidak akan terlihat dari permukaan. Pembubunan hanya diperlukan pada musim hujan yang sangat lebat dan air melimpah untuk menghindari terjadinya genangan air hujan.

Pohon kedondong yang hanya ditanam sementara tidak perlu dirampal/dipangkas atau dipangkas sedikit saja supaya lekas berbuah. Sementara tanaman jangka panjang tentu saja harus dirampal atau dipangkas beberapa kali supaya pohon kuat dan bagus bentuknya. Tujuan pemangkasan adalah untuk pembentukan, pemeliharaan, dan peremajaan. Dahan yang berukuran besar harus dipangkas dengan hati-hati agar tidak pecah. Luka bekas pemangkasan dihaluskan dengan pisau, lalu ditutup parafin agar tidak kemasukan air atau ditumbuhi jamur. Jangan pangkas pohon yang sedang berbuah.

Pemupukan untuk pohon kedondong yang ditanam di kebun ditaburkan di sekeliling pohon yang diberi pupuk, kecuali tanah di antara pohon yang satu dengan yang lain ditanami tanaman sela. Jika demikian, maka seluruh area kebun harus diberi pupuk. Pemupukan lanjutan dimulai 1 tahun setelah penanaman. Sebarkan pada daerah di sekeliling batang pokok seluas lingkaran mahkota pohon atau lebih baik lagi jika lebih luas dari tajuk sebab akar tanaman kedondong dapat tumbuh melebihi lingkaran tajuknya.

Pupuk organik maupun pupuk kimia sama baiknya selama penggunaannya sesuai takaran dan memerhatikan kondisi lingkungan. Pupuk organik berupa pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau. Pupuk kimia menggunakan jenis N : P2O5 : K2O (2 : 1 : 1 untuk tanah subur atau 1 : 2 : 2 untuk tanah kurus). Pupuk kandang sebaiknya ditanam dalam lubang berukuran 40 x 40 x 30 cm yang dibuat mengitari pohon. Setelah pupuk dimasukkan ke dalam lubang, tutup kembali dengan tanah dan sirami. Agar akar tidak rusak, lubang digali mengelilingi pohon ke arah luar (sejajar akar).

Gunakan gembor atau penyedot air diesel untuk penyiraman jika lokasi pengambilan air agak jauh. Penyiraman pada musim kemarau dilakukan pagi dan sore hari. Jika diperlukan, penyemprotan pestisida dilakukan pada pagi buta ketika suasana tenang. Lakukan dengan hati-hati agar serangga yang menguntungkan tidak ikut mati.

Sekalipun kedondong tergolong tanaman yang mudah berbuah dan banyak/lebat, buah yang terlalu lebat dapat merugikan karena kualitasnya tidak terkontrol, ukurannya kecil-kecil, bentuknya jelek, dan dahan mudah patah. Penjarangan dimulai pada waktu bunga mulai berubah menjadi buah. Buang buah yang sakit dan rusak, kemudian buang pula buah yang dianggap tidak perlu. Gunting tangkai buah dengan gunting kecil atau dipelintir dengan tangan.


Penanganan hama dan penyakit

Hama penting bagi tanaman kedondong ada dua macam, yaitu ulat perusak daun dan kumbang. Keduanya menyerang daun dan dapat menimbulkan gangguan pada proses fotosintesis akibat rusaknya daun. Berikut ciri-ciri dan cara menangani hama-hama tersebut.

1. Ulat perusak daun (Cricula trifenestata Helf.)

Hama yang juga disebut ulat kipat ini berwarna hitam dengan bintik putih, bulunya berwarna putih, kepala dan perutnya berwarna merah cerah. Panjangnya ±60 mm. Pupa berada dalam kokon berwarna emas, sering dijumpai bergerombol pada daun. Kupu-kupu betinanya berwarna coklat dengan rentang sayap ±75mm. Telurnya berwarna putih keabu-abuan, berderet di tepi daun atau cabang. Cara mengendalikan hama ini secara terpadu meliputi langkah-langkah berikut.

  • Pemantauan dan identifikasi jenis hama, stadium, bagian dan jenis tanaman yang diserang, tingkat atau intensitas serangan, serta kondisi lingkungan untuk dilakukan koordinasi dengan petugas pertanian setempat sebagai usaha pencegahan penyebaran lebih lanjut.
  • Pengendalian mekanis dengan mengumpulkan dan memusnahkan ulat, antara lain, dengan cara dibakar atau dibenamkan dalam tanah.
  • Pemasangan perangkap lampu (light trap) untuk menarik dan menangkap serangga dewasa.
  • Mengumpulkan pupa atau kepompong dan memasukkannya ke dalam botol plastik yang dilubangi kecil-kecil sebagai lubang udara. Tujuannya untuk mencegah ngengat keluar, tetapi parasit di dalam tubuhnya dapat keluar dan kembali berperan menjadi musuh alami berbagai serangga merugikan.
  • Pelihara dan lestarikan musuh-musuh alami hama ini, seperti semut predator (semut rangrang) dan burung. Perbanyak koloni semut dengan membuat sarang buatan dari daun kering dan bambu.
  • Gunakan insektisida hayati berupa jamur, virus, bakteri, atau nematoda yang bersifat parasit bagi hama ini. Caranya, kumpulkan ulat yang mati menggelantung karena terkena virus, aduk dalam air, lalu semprotkan kembali ke tanaman yang diserang ulat. Cara lain dengan mengumpulkan kepompong atau ulat yang sudah terinfeksi jamur Beauveria (warna putih) atau Metarhizium (warna hijau). Perbanyak dalam media jagung dan semprotkan pada tanaman yang diserang ulat. Untuk cara praktis, gunakan insektisida hayati yang direkomendasikan dinas atau lembaga terkait.
  • Pasang pembatas berupa lem atau kain beracun pada batang pohon untuk mencegah ulat naik ke kanopi atau tajuk pohon di malam hari dan turun ke batang untuk bersembunyi dari predator pada siang hari.
  • Jika kondisi populasi ulat sudah mengkhawatirkan, gunakan insektisida alami yang ramah lingkungan, seperti ekstrak mimba, tembakau, akar tuba, piretrum, gadung, suren, dan lainnya.
  • Jika kondisi semakin kritis, jalan terakhir adalah penggunaan insektisida kimia sintetis yang berdaya racun rendah, ditandai dengan label hijau pada kemasan. Hindari penggunaan insektisida kimia sintetis untuk langkah pencegahan karena cenderung mengganggu keberadaan musuh alami dan mencemari lingkungan.

2. Kumbang Podontia affinis Grond.

Hama ini berukuran besar, berwarna kuning. Sayapnya mempunyai 8 bintik gelap, panjangnya 10 – 12 mm. Memiliki kemiripan dengan kepik, namun berbeda warna dan lebih besar. Pupa berada di dalam tanah. Telurnya berukuran 1,6 mm, diletakkan pada permukaan bawah daun, tertutup substansi gelap. Kumbang betina hidup sekitar 3 bulan dan menghasilkan sekitar 500 butir telur yang berkembang dalam 38 – 42 hari. Pengendaliannya dengan memanfaatkan musuh alami, yaitu parasit telur Ooencyrtus podontiae, dan penggunaan insektisida. Utamakan penggunaan insektisida alami dan hayati yang lebih ramah lingkungan dan tidak membunuh musuh-musuh alami hama.

Penyakit pada kedondong sebagian besar disebabkan oleh jamur, seperti Phytophthora, Fusarium, Diplodia, Gloeosporium, dan Phoma yang menyerang daun, buah, serta batang pohon. Kendalikan dengan penyemprotan bubur bordeaux atau bubur belerang dan selalu menutup luka bekas pemangkasan dengan baik. Untuk hama berupa gulma, alang-alang, rerumputan liar, dan benalu diberantas secara manual dengan penyiangan. Gunakan herbisida hanya jika populasi gulma tidak terkendali.


Cara memacu pembungaan

Kedondong yang ditanam dalam pot relatif cepat berbuah dan dapat beradaptasi dengan lebih baik. Akan tetapi, terkadang menemui kendala dalam pembungaan. Masalah ini mungkin lebih jarang terjadi pada kedondong yang dibudidayakan di kebun karena di samping penyerbukan sendiri, juga dapat mengandalkan penyerbukan silang. Cara memacu pembungaan pada kedondong tabulampot meliputi pemangkasan, stress air, dan pemupukan.

Pemangkasan untuk merangsang pembungaan menggunakan pola 1 – 3 – 9. Pelihara satu batang utama setinggi 80 – 100 cm, 3 batang primer sepanjang 30 – 50 cm, dan 9 cabang sekunder sepanjang 30 – 50 cm. Dari hasil pemangkasan akan muncul tunas-tunas baru disertai bakal bunga. Pangkas pula daun, cabang yang terserang hama dan penyakit, serta cabang yang sudah tua. Pemangkasan dengan pola tersebut dapat diterapkan pula dalam pemangkasan bentuk untuk tanaman kedondong yang dibudidayakan di kebun.

Stress air dilakukan dengan membiarkan tanaman tidak disiram selama 3 – 5 hari hingga tampak layu. Setelah itu barulah disirami lagi agar kembali segar. Ulangi selama 4 – 6 minggu sampai bunga muncul. Selama perlakuan stress air, letakkan pot di tempat terbuka agar mendapat sinar matahari langsung.

Pemupukan untuk merangsang pembungaan pada kedondong tabulampot menggunakan NPK 15 : 15 : 15. Benamkan 25 gr pupuk ke dalam tiap pot sedalam 10 cm. Dapat juga menggunakan pupuk organik dengan kandungan fosfor tinggi sebanyak 1 – 2 ml yang dicampur ke dalam 1 liter air. Aplikasikan ½ liter per pot, semprotkan pada media tanam, bukan langsung pada tanaman. Jika bunga sudah muncul, lanjutkan dengan campuran urea, TSP, dan KCl 1 : 2 : 2 atau 1 : 1 : 2. Kadar unsur K lebih tinggi karena sangat berperan dalam perkembangan buah. Benamkan ke dalam media tanam sedalam 10 cm dengan dosis 50 gr tiap pot.


Panen buah kedondong

Buah kedondong dapat dipanen ketika tanaman berumur 1 – 1,5 tahun setelah penanaman. Buah siap panen (masak) berwarna hijau kekuningan dengan ukuran cukup besar. Matang dalam 6 – 8 bulan setelah bunga mekar. Pembungaan biasanya terjadi pada bulan Juli – Agustus, sehingga panen akan terjadi antara bulan Januari – April. Panen pada pagi hari ketika buah masih segar. Agar buah tidak rusak, petik buah dengan memanjat pohon dan langsung masukkan buah yang sudah dipetik ke dalam keranjang. Jika letak buah terlalu jauh dari jangkauan tangan, gunakan galah yang sudah diberi jaring untuk menghindari jatuhnya buah.

Keranjang untuk meletakkan buah sehabis dipetik diberi alas berupa sabut atau lumut. Teknik memetik buah kedondong yang benar adalah dengan memegang buah dalam telapak tangan, tidak dengan ujung-ujung jari. Jika terkena kuku, buah dapat rusak. Lakukan panen secara bertahap dengan mendahulukan memetik buah yang sudah benar-benar matang. Buah yang masih belum matang benar dan ukurannya masih kecil akan terus bertambah besar jika dibiarkan dahulu di pohon.

Pascapanen

Setelah keranjang penuh, bawa ke tempat penampungan. Kumpulkan buah di dalam wadah yang beralaskan daun pisang. Tempat pengumpulan buah hendaknya cukup teduh sehingga kesegaran buah tetap terjaga. Hati-hati dalam menangani buah kedondong, jangan sampai terluka atau memar karena dapat membusuk dengan cepat. Sortir dan golongkan buah menurut tingkat kematangan dan ukurannya. Sortir pula berdasarkan tampilan fisik (cacat atau tidak), ada tidaknya gejala serangan hama dan penyakit, dan tingkat kemulusan kulitnya.

Buah yang baik dapat dipasarkan di distributor besar, bahkan diekspor ke luar negeri, sementara buah yang berukuran kecil dan penampilannya kurang bagus dapat dipasarkan di pasar tradisional. Untuk pemasaran di lokasi yang jauh, apalagi hingga ke luar negeri, pilih buah yang belum terlalu masak tetapi sudah mencapai ukuran maksimalnya sehingga dapat bertahan lebih lama atau tidak membusuk di perjalanan. Buah yang sudah benar-benar matang ketika dipetik harus segera dikonsumsi atau diolah.

Penyimpanan buah kedondong dalam lemari pendingin atau kontainer berpendingin dapat mengawetkan buah hingga beberapa minggu. Tempat penyimpanannya harus bersih. Buah yang akan disimpan dicuci dahulu hingga benar-benar bersih. Kemas dalam karung goni khusus yang berlubang atau berpori-pori. Atau gunakan boks dari kardus atau kayu sebagai tempat pengemasan untuk menghindari benturan langsung dengan benda keras lainnya.

Pengemasan dalam peti kayu berat bersihnya untuk tiap kemasan maksimal 25 kg. Susun dengan kompak dan beri pembungkus atau sekat antarbuah. Pengemasan dalam kotak karton berpenyekat dan berlubang udara berisi satu lapis atau satu susun buah kedondong dengan berat bersih maksimal 10 kg. Beri label pada kemasan yang berisi informasi mengenai nama barang, jenis mutu, nama atau kode perusahaan eksportir (jika akan dipasarkan di luar negeri), berat bersih, pernyataan sebagai produk Indonesia, dan negara atau tempat tujuan.

Potensi agrobisnis

Buah kedondong adalah buah favorit pada musimnya. Apabila kualitasnya baik, tentu harganya pun lebih baik dan dapat menembus pasar masyarakat menengah ke atas. Di luar negeri buah ini dianggap buah eksotis dan memiliki banyak penggemar, bahkan menjadi salah satu buah impor yang berharga mahal. Potensi ekspor untuk buah ini cukup besar, akan tetapi selama ini belum terolah secara maksimal. Untuk merebut pasar ekspor, suplai harus kontinu, standar mutunya tetap, serta areal tanam luas dengan kultur teknis dan pascapanen yang terkendali. Untuk produktivitas berbanding biaya produksi, tergantung pada jenis varietas yang ditanam.


Kandungan dan manfaat kedondong

Secara umum, tiap 100 gr daging buah kedondong mengandung 60 – 85 gr air, 0,5 – 0,8 gr protein, 0,3 – 1,8 gr lemak, 8 – 10,5 sukrosa, dan 0,85 – 3,60 serat pangan. Buah yang belum matang mengandung pektin 10%. Selain lemak, karbohidrat, protein, gula alami, dan serat, buah kedondong juga mengandung vitamin C, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, dan vitamin B1. Berikut manfaat mengonsumsi buah kedondong bagi kesehatan.

  • 1. Kandungan kalsium sebesar 15 mg per 100 gr daging buah bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang, mencegah osteoporosis, mencegah penyakit jantung atau kardiovaskular, membantu menambah tinggi badan, dan memperkuat struktur tulang.
  • Kandungan fosfor sebesar 22 mg per 100 gr daging buah kedondong bermanfaat untuk memperkuat dan menjaga kesehatan tulang dan gigi.
  • Kandungan zat besi sebesar 3 mg per 100 gr daging buah membantu mengatur pembentukan sel darah merah sehingga dapat membantu menambah darah, mencegah anemia, dan mempercepat penyembuhan luka.
  • Vitamin A (233 IU per 100 gr daging buah) bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, meningkatkan kekebalan dan imunitas, menjaga kesehatan mata, mencegah gangguan pada mata, menangkal radikal bebas, serta mencegah penyakit kanker.
  • Vitamin B1 sebanyak 0,08 mg per 100 gr buah membantu proses oksidasi dalam tubuh, serta mencegah kulit bersisik dan kasar.
  • Vitamin C (30 mg per 100 gr daging buah) mencegah perdarahan, mempercepat penyembuhan luka, merupakan sumber antioksidan penangkal radikal bebas, mencegah sariawan dan infeksi, melancarkan pencernaan, meningkatkan daya tahan dan imunitas, menjaga kesehatan kulit, mencegah penuaan dini, serta mempercepat proses penyembuhan setelah sakit.
  • Lemak sehatnya dapat mencegah kolesterol.
  • Protein membantu proses pembaruan jaringan tubuh.
  • Gula alami aman bagi penderita diabetes.
  • Serat pangan membantu pencernaan dan menurunkan berat badan.
  • Menyegarkan tubuh dan menghilangkan kantuk.
  • Mengatur kadar gula darah.
  • Mengatasi infeksi saluran kemih dan wasir.
  • Dapat menjadi obat batuk, obat diare, dan obat luka bakar.

Buah kedondong dapat dimakan segar atau diolah menjadi berbagai macam produk olahan, seperti manisan, jus, es krim, asinan, rujak (rujak manis ataupun rujak petis), acar, selai, keripik, dan bumbu saus asam manis atau asam pedas. Buah yang direbus dan dikeringkan dapat disimpan selama beberapa bulan. Pengolahan menjadi asinan atau manisan adalah salah satu cara mengawetkan buah kedondong.

Selain buah yang dapat dikonsumsi atau dijadikan obat, bagian-bagian tanaman lainnya juga dapat dimanfaatkan. Benih atau biji kedondong mengandung antibiotika yang dapat membantu mengobati penyakit pernapasan. Daun kedondong dapat dibuat ekstrak pengganti pelembap kulit, sebagai penyedap masakan (terutama bumbu pepes ikan), obat sariawan (khasiat antijamur), sebagai lalapan dan sayuran (daun muda dan tangkainya, rasanya asam), pakan ternak (bersama buah), bahan pelunak daging (dengan cara dimasak bersama), dan obat mulut (dengan cara dikeringkan kemudian digiling menjadi bedak).


Kulit batang pohon kedondong bermanfaat sebagai obat diare dan obat sariawan. Kayunya yang ringan dan mudah mengambang memang tidak baik digunakan sebagai bahan konstruksi, tetapi kadang digunakan sebagai bahan pembuatan perahu. Pemanfaatan kayu yang lebih umum adalah sebagai kayu bakar. Akar kedondong dapat digunakan sebagai obat gatal-gatal dan alat kontrasepsi. Kombinasi buah, daun, dan kulit kayu kedondong dapat dijadikan obat borok, kulit perih, dan luka bakar.

Berikut contoh penggunaan bagian-bagian tanaman kedondong sebagai bahan pengobatan tradisional.

  • Untuk meredakan penyakit batuk, ambilah 3 – 4 buah kedondong, cuci bersih lalu parut. Peraslah parutan buah kedondong tersebut tanpa menggunakan air. Minum air perasan buah kedondong tersebut 2 kali sehari.
  • Untuk pengobatan diare, ambil kulit batang pohon kedondong kurang lebih 20 gr. Potong kecil-kecil, kemudian rebus hingga mendidih. Saring hasil rebusan, minum setelah dingin.

Demikian langkah-langkah penanaman dan perawatan tanaman kedondong untuk budi daya maupun tabulampot. Semoga dapat bermanfaat bagi Anda yang ingin menanam dan merawat tanaman eksotis ini sebagai usaha pembudidayaan ataupun sekadar koleksi di rumah. Apabila memerlukan bibit kedondong yang baik, Anda dapat menghubungi kami di www.samudrabibit.com atau langsung mengunjungi kebun pembibitan kami di Dusun Kandangsari Kwarasan RT 04 RW 07 Gaum, Tasikmadu, Karanganyar – Solo, Jawa Tengah 57761. Kami melayani penjualan secara grosir maupun satuan, langsung ataupun online.

Selain bibit tanaman buah yang berkualitas, kami juga menyediakan alat-alat perkebunan dan berbagai nutrisi penunjang keberhasilan dalam penanaman dan perawatan tanaman. Mulai dari berbagai pupuk organik yang diformulasi khusus untuk tanaman buah, zat pengatur tumbuh, obat-obatan antistress, dan suplemen. Kunjungi kami untuk konsultasi seputar pemeliharaan tanaman secara langsung ataupun online.
Blog Post Lainnya
Mau tanya - tanya dulu?
0823-2246-8111
@2014 - 2020 Samudrabibit Inc.