3 Desember 2019 1:37 pm

Tips Merawat dan Menanam Bambu Rejeki agar Membawa Keberuntungan

Tips Merawat dan Menanam Bambu Rejeki agar Membawa Keberuntungan
Pernahkah Anda mendengar tentang bambu rejeki atau bambu hoki? Salah satu item penghias rumah yang banyak dicari seputar perayaan Imlek ini sangat lekat dengan kepercayaan masyarakat keturunan Tionghoa. Tetapi karena tampilannya yang cantik dan fleksibel, banyak pula masyarakat di luar keturunan Tionghoa yang tertarik untuk memilikinya di rumah. Mengapa diberi nama bambu rejeki? Apakah tanaman ini benar-benar membawa rejeki bagi yang menanamnya? Sulitkah cara menanam dan merawatnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab dengan menyimak artikel ini.


Asal-usul dan persebaran

Sekalipun sangat lekat dengan tradisi dan budaya Tionghoa, ternyata tanaman ini sama sekali tidak berasal dari Cina. Habitat aslinya merupakan hutan-hutan teduh di Kamerun, Afrika Tengah. Tumbuh di bawah naungan pohon-pohon besar di dalam hutan. Tidak diketahui secara pasti bagaimana tanaman ini bisa sampai di dataran Cina, tetapi sejak lama tanaman ini memang sudah dibudidayakan di Cina dan Jepang. Di kedua negara tersebut, bambu rejeki ditanam dalam pola-pola yang menarik sebagai penghias rumah.

Kelekatan tanaman unik ini dengan tradisi dan kepercayaan Tionghoa membuat tanaman ini pun kemudian tersebar mengikuti persebaran penduduk keturunan Tionghoa yang merantau ke berbagai negara dan membentuk masyarakatnya di negara-negara tujuan. Di mana ada masyarakat keturunan Tionghoa tinggal, di situ dapat dijumpai pembudidayaan tanaman bambu rejeki. Sifat tanaman ini yang fleksibel membuatnya cocok ditanam di mana pun, baik di lingkungan tropis maupun subtropis.


Klasifikasi dan nama lain

Bambu rejeki atau bambu keberuntungan atau bambu hoki disebut juga bambu Cina. Dalam bahasa Inggris disebut lucky bamboo, fortune bamboo, atau ribbon plant. Meskipun disebut bambu, tetapi sebenarnya tanaman ini sama sekali bukan dari keluarga bambu. Disebut bambu sebab batangnya beruas-ruas seperti bambu dan daunnya menjuntai seperti pita. Tanaman ini berkerabat dekat dengan daun suji. Adapun klasifikasi dan nama latin tanaman ini sebagai berikut.

Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Monokotil
Famili : Dracaenaceae
Genus : Dracaena
Spesies : Dracaena sanderiana Sander ex Mast


Pemanfaatan

Kebanyakan orang memanfaatkan tanaman bambu rejeki sebagai tanaman hias, baik di dalam rumah (indoor) maupun di luar rumah (outdoor). Di dalam rumah dapat ditanam dalam pot, secara hidroponik dengan media air atau menggunakan hidrogel. Seperti halnya jenis-jenis Dracaena lainnya, tanaman ini memiliki kemampuan menyaring udara dan menyerap gas-gas penyebab polusi, seperti NO (nitrogen monoksida), yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Oleh tanaman ini, gas tersebut diubah menjadi NO2 (nitrogen dioksida), CO2 (karbon dioksida), dan CO (karbon monoksida). Lekatnya bambu rejeki dengan tradisi Imlek berhubungan simbol-simbol yang dilambangkan oleh tanaman ini. Dalam ilmu Feng Shui, bambu rejeki dipercaya mampu menyeimbangkan kelima elemen terpenting yang harus dimiliki sebuah rumah. Tanaman ini sendiri melambangkan unsur kayu, medianya yang meliputi tanah atau kerikil dan air melambangkan unsur bumi dan air.

Penggunaan wadah berupa pot atau vas dari bahan kaca atau besi melambangkan unsur metal atau logam. Penambahan hiasan berupa pita yang berwarna merah melambangkan unsur api. Keseimbangan kelima elemen tersebut diyakini akan memudahkan datangnya rejeki ke dalam rumah dan semua penghuninya.


Karakteristik dan morfologi

Sekilas bentuknya yang mirip dengan bambu membuat tanaman ini disebut bambu, tetapi sebenarnya merupakan jenis tanaman yang berbeda. Batangnya beruas-ruas, ramping, lentur, tidak berkayu, dan mudah dibentuk terutama ketika masih muda. Daunnya lanset memanjang atau membulat, jatuh atau menjuntai, berwarna hijau polos atau bergaris putih. Termasuk dalam jenis tanaman semak atau perdu. Tanaman ini memiliki daya tahan yang sangat bagus dan mudah beradaptasi.

Fleksibel di tempat yang mendapat banyak cahaya ataupun minim selama kebutuhan airnya tercukupi. Tanaman ini sangat membutuhkan air, tetapi tidak berlebihan. Sekalipun dapat tumbuh di bawah sinar matahari penuh ataupun rerimbunan, sebaiknya hindarkan dari terpaan sinar matahari langsung sebab terik matahari dapat membuatnya cepat mengalami kekeringan, lalu menguning, dan mati. Sekilas bentuknya yang mirip dengan bambu membuat tanaman ini disebut bambu, tetapi sebenarnya merupakan jenis tanaman yang berbeda.


Batangnya beruas-ruas, ramping, lentur, tidak berkayu, dan mudah dibentuk terutama ketika masih muda. Daunnya lanset memanjang atau membulat, jatuh atau menjuntai, berwarna hijau polos atau bergaris putih. Termasuk dalam jenis tanaman semak atau perdu. Tanaman ini memiliki daya tahan yang sangat bagus dan mudah beradaptasi. Fleksibel di tempat yang mendapat banyak cahaya ataupun minim selama kebutuhan airnya tercukupi.

Tanaman ini sangat membutuhkan air, tetapi tidak berlebihan. Sekalipun dapat tumbuh di bawah sinar matahari penuh ataupun rerimbunan, sebaiknya hindarkan dari terpaan sinar matahari langsung sebab terik matahari dapat membuatnya cepat mengalami kekeringan, lalu menguning, dan mati. Oleh karena sifatnya yang cepat sekali tumbuh, jika ditanam di dalam pot maka harus sering diganti. Tahan di dalam ruangan hingga berbulan-bulan.

Jika tunasnya sudah membesar dan tampak tidak menarik lagi karena terlalu rimbun, rumpunnya dapat dibongkar lalu disusun kembali dalam beberapa rumpun terpisah. Sekalipun membutuhkan banyak air, tetapi air yang berlebihan juga memberi dampak buruk. Hal lain yang perlu diperhatikan dari tanaman ini adalah daunnya yang mengandung racun, walaupun kadarnya rendah.

Kemampuannya menyerap gas-gas berbahaya dari udara di sekelilingnya tampaknya menyebabkan daun dari tanaman ini menjadi berbahaya jika sampai termakan. Sebaiknya letakkan tanaman ini jauh dari jangkauan anak-anak ataupun hewan peliharaan.


Syarat tumbuh

Bambu rejeki mampu tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan iklim sedang. Temperatur ideal untuk pertumbuhan tanaman ini antara 18,3oC hingga 32,2oC. Menyukai tempat yang terbuka, terang, tetapi tidak terkena sinar matahari langsung. Dapat ditanam di dalam maupun di luar ruangan dalam pot atau vas berbahan kaca atau keramik menggunakan media tanah ataupun hidroponik. Tumbuh dengan baik pula di berbagai jenis tanah selama kandungan airnya cukup dan kelembapannya terjaga.

Sedikit kelemahan tanaman ini ketika ditanam secara hidroponik sebaiknya tidak menggunakan air kran. Tanaman ini tidak tahan zat-zat kimia yang mungkin terkandung dalam air kran, seperti kaporit atau fluorida dan sejenisnya. Untuk penanaman secara hidroponik sebaiknya gunakan air sumur atau air kemasan yang berasal dari mata air yang masih terjamin kemurniannya.

Sebagai alternatif, gunakan hidrodgel, yaitu polimer berukuran kecil yang dapat membesar 200 kali lipat setelah direndam dalam air. Sifat hidrogel mampu menyerap air dalam jumlah banyak sehingga mampu memberi nutrisi di dalam vas. Penggunaan hidrogel yang diproduksi dalam berbagai macam warna juga membuat tampilan bambu rejeki makin menarik sebagai hiasan di dalam rumah.


Pembibitan

Secara alami, bambu rejeki memperbanyak diri melalui tunas-tunas anakan yang tumbuh di dekat tumbuhan induknya. Dalam pembudidayaan, bambu rejeki diperbanyak dengan cara stek batang. Pengambilan bahan untuk stek batang dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan pemangkasan ketika 1 – 2 batang tanaman bambu rejeki sudah tampak terlalu tinggi. Pilih batang yang tertinggi, buang daun yang kecil-kecil di bawah tunasnya. Potong tunas menggunakan pisau/cutter/gunting yang steril.

Untuk penanaman di pekarangan atau dalam pot dengan media tanah, panjang tunas yang diambil dari pucuk 15 – 20 cm, sedangkan untuk hidroponik cukup 2,5 cm saja. Usahakan arah potongan miring. Tunas yang akan dibudidayakan secara hidroponik lalu direndam pangkalnya dalam mangkuk berisi air distilasi yang bersih. Letakkan di tempat teduh dan diamkan selama 1 – 2 bulan hingga muncul akar. Setelah akar muncul dapat langsung ditanam kembali dalam pot/vas yang sama atau menggunakan wadah yang lain.

Adapun untuk batang stek tanaman bambu rejeki yang akan ditanam di pekarangan atau dalam pot dengan media tanah perlu direndam dahulu dalam larutan ZPT selama 30 menit agar potensi hidupnya lebih besar. Tancapkan dalam media semai berupa pasir basah sedalam 2 – 3 ruas. Satu minggu kemudian tanaman sudah akan memiliki sistem perakaran yang sempurna dan dapat dipindahkan ke tempat penanaman yang permanen. Sebagai langkah pertama pemeliharaan tanaman bambu rejeki, Anda perlu membeli bibit yang siap ditanam.

Atau jika ingin lebih praktis, Anda dapat membeli tanaman yang sudah jadi untuk kemudian diperbanyak sendiri di rumah. Ketika membeli bibit ataupun tanaman jadi, perhatikan betul kondisi tanaman. Tanaman bambu rejeki yang sehat akarnya berwarna merah. Batang dan daun berwarna hijau cerah seluruhnya, tidak ada bercak, memar, ataupun kekuningan.

Warna batang dari ujung hingga pangkal sama. Tidak ada warna coklat pada daun. Tanaman ditanam dengan benar dan tidak berbau. Jika tanaman mengeluarkan bau asam artinya tanaman ini berpenyakit dan tidak dapat tumbuh.


Penanaman

Penanaman di pekarangan atau pot dengan media tanah memerlukan campuran media yang terdiri atas tanah biasa, pasir, dan pupuk kandang. Jika menghendaki media yang memiliki drainase lebih baik, gunakan campuran yang terdiri atas tanah, pasir, dan gambut (peat moss). Perbandingan masing-masing komponen adalah 1 : 1 : 1. Masukkan campuran tanah ini ke dalam lubang tanam yang sudah disiapkan sebelumnya atau ke dalam pot yang telah dialasi pecahan genting.

Ukuran pot disesuaikan dengan seberapa besar diameter rangkaian tanaman. Bambu rejeki umumnya tidak ditanam satu per satu, melainkan dalam suatu rangkaian. Jika menggunakan media tanah sebaiknya pilih pot berbahan keramik atau tanah liat. Diameter pot sebaiknya lebih besar sekitar 5 cm daripada diameter rangkaian bambu rejeki. Penanaman secara hidroponik dapat menggunakan berbagai macam jenis pot atau vas. Pot atau vas yang terbuat dari kaca bening lebih baik agar tampilannya lebih cantik.

Untuk menahan batang dan perakaran sehingga tanaman dapat tumbuh tegak, gunakan kerikil sebagai penahan. Tambahkan air sumur atau air distilasi (air murni) ke dalam wadah penanaman hingga minimal ½ dari tinggi wadah. Agar lebih praktis dapat juga menggunakan hidrogel berbagai warna. Dengan penggunaan hidrogel tidak diperlukan penambahan air sehingga wadah penanaman dapat diletakkan di mana saja di dalam ruangan tanpa khawatir membasahi atau mengotori ruangan.

Jika menggunakan hidrogel, kerikil sebagai penahan tidak lagi diperlukan sebab butir-butir hidrogel sudah berfungsi ganda sebagai penyedia kelembapan dan nutrisi bagi tanaman sekaligus penahan agar tanaman dapat tumbuh tegak. Cara menggunakan hidrogel sebagai berikut. Siapkan hidrogel sesuai kebutuhan, rendam dalam air hingga terbenam seluruhnya. Biarkan selama 4 – 6 jam hingga mengembang. Setelah mengembang, tiriskan selama 1 – 2 jam sampai tidak ada lagi air yang menetes.

Hidrogel siap digunakan untuk menanam bambu rejeki. Gunakan wadah atau vas bening yang kering. Penanaman dengan hidrogel tidak memerlukan pot dengan lubang drainase. Setelah ditanami, letakkan di dalam ruangan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung sebab hidrogel mudah meleleh jika terkena panas.


Perawatan

Teknik perawatan tanaman bambu rejeki sedikit berbeda antara yang ditanam pada media tanah atau secara hidroponik. Sekalipun membutuhkan banyak air, tetapi tanaman ini tetap saja tidak menghendaki jumlah air yang berlebihan. Bambu rejeki yang ditanam pada media tanah memerlukan penyiraman beberapa hari sekali untuk memastikan medianya tetap lembap. Maksimal dua hari sekali atau tergantung cuaca. Dalam sekali penyiraman dibutuhkan air secukupnya saja, tidak terlalu basah.

Jika ditanam secara hidroponik, tanaman ini tidak perlu disirami. Tambahkan saja atau ganti airnya setiap satu minggu sekali untuk memperbarui kandungan nutrisi. Penggantian air juga berfungsi untuk mencegah air sebagai media tanam justru menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk. Usahakan untuk selalu menggunakan air yang bebas zat kimia. Jika terpaksa menggunakan air kran, endapkan dahulu selama 24 jam agar zat-zat kimia yang ada di dalamnya tidak ikut terbawa.

Penanaman dengan hidrogel juga tidak memerlukan penyiraman. Anda hanya perlu menyemprot tanaman dengan sedikit air menggunakan handsprayer jika daun terlihat kurang segar. Untuk media hidrogel sendiri, apabila mulai tampak menyusut dapat dipisahkan dari tanaman dan direndam lagi dalam air hangat selama ±30 menit hingga kembali mengembang. Jika media ini berbau atau berlumut, Anda dapat membilasnya dengan air bersih hingga bau dan lumutnya hilang.

Hindari sentuhan langsung dengan tangan karena media ini mudah hancur. Akan tetapi, karena setelah beberapa waktu (±2 bulan) hidrogel akan mulai kehilangan unsur haranya dan dalam waktu 1 tahun akan hancur dengan sendirinya, maka perlu diganti dengan hidrogel yang baru secara berkala. Sekalipun mudah tumbuh, tanaman bambu rejeki tetap memerlukan pemupukan. Jika menggunakan hidrogel sebagai media, pemupukan tidak diperlukan sebab media ini sudah mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman.


Pemupukan yang berlebihan justru berbahaya karena tanaman ini sangat sensitif terhadap perubahan kandungan nutrisi yang drastis. Cukup diperhatikan bahwa setelah beberapa waktu unsur hara dalam hidrogel akan menurun, terutama jika sering dibilas untuk dibersihkan, sehingga Anda perlu memperhitungkan kapan waktu yang tepat untuk mengganti media tanaman bambu rejeki Anda.

Pada bambu rejeki yang ditanam pada media tanah atau air, pemupukan dilakukan setiap 2 bulan sekali menggunakan pupuk organik cair (untuk media tanah) atau pupuk cair khusus tanaman dalam akuarium untuk tanaman bambu rejeki yang ditanam secara hidroponik. Perhatikan selalu pertumbuhan tunas-tunas anakan dengan ukuran pot.

Jika pot sudah tampak penuh, segera ganti dengan yang lebih besar atau pisahkan anakan dari induknya untuk ditanam di tempat lain. Ukuran pot yang terlalu kecil dapat menghambat pertumbuhan, menyebabkan daun menguning karena kekeringan, lalu mati.


Pemangkasan dan pembentukan

Ketika batang-batang bambu rejeki sudah terlalu tinggi, saatnya untuk dipangkas dan dibentuk. Hasil pemangkasan dapat digunakan lagi untuk pembibitan tanaman baru. Tanam tunasnya berdekatan dengan tanaman yang lama sambil membentuknya menjadi pola-pola tertentu. Pola-pola yang paling sederhana, misalnya, segitiga, piramida, persegi, atau menara. Pola-pola sederhana ini hanya memerlukan batang-batang yang lurus berjajar atau berbaris.

Pola-pola yang lebih rumit, seperti keranjang, kepang, atau nanas dimulai sejak tanaman masih muda. Batang yang masih muda cukup elastis untuk dibentuk. Untuk melengkungkan batang dapat menggunakan peralatan sederhana, seperti kardus yang sudah dipotong bagian bawah dan salah satu sisinya. Pasang kardus pada pucuk yang akan dibentuk dengan bagian yang terbuka menghadap arah sinar matahari datang. Dengan cara ini, batang akan tumbuh melengkung ke arah tersebut.

Setelah lengkungan terbentuk, putar tanaman sehingga bagian yang tertutup membelakangi sinar matahari. Selanjutnya untuk pola bersilangan, batang perlu ditahan dengan kawat atau tali rafia. Lilitkan kawat atau tali rafia tersebut pada batang muda lalu bentuk sesuai keinginan. Lakukan dengan perlahan dan hati-hati agar batang tidak patah. Jika kelak tunas-tunas atau pucuk-pucuk baru tumbuh keluar dari pola dapat langsung dipotong atau dibongkar dan dibentuk kembali sesuai kebutuhan.


Penanganan hama dan penyakit

Ketika kita menanam dan merawat tanaman tertentu, terkadang muncul gangguan dari organisme-organisme merugikan. Organisme pengganggu ini dapat berupa serangga, berbagai jenis hewan yang hidup dalam tanah, jamur, ataupun mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Demikian pula dalam penanaman bambu rejeki, terutama pada penanaman outdoor atau di luar ruangan. Berikut penjelasan mengenai beberapa jenis hama dan penyakit yang biasanya mengganggu pertumbuhan bambu rejeki dan cara menanganinya.

Hama

1. Tungau (Tetranychus sp.)


Jenis hama yang paling sering ditemukan menyerang bambu rejeki adalah tungau. Hewan yang berukuran sangat kecil ini (hanya sebesar 0,2 mm) bersifat polifag, artinya memakan segala jenis tanaman. Merupakan hama yang sangat umum ditemukan di daerah tropis. Tungau menyerang sisi bawah daun bambu rejeki, mengisap cairannya hingga tanaman menjadi layu. Pada serangan yang berat, daun mengering dan kerdil.

Oleh karena ukuran tubuhnya sangat kecil, hewan berwarna merah yang termasuk jenis serangga ini sukar dilihat dengan mata telanjang. Biasanya bersembunyi di bawah daun, pelepah, dan bagian-bagian tanaman yang tersembunyi lainnya. Telurnya berwarna merah, bulat, diletakkan berjajar pada permukaan atas daun. Tungau dapat dikendalikan dengan cara kultur teknis, biologis, mekanis, ataupun kimiawi. Kultur teknis meliputi monitoring, yaitu memerhatikan bagian-bagian tanaman yang terkena serangan tungau.

Setelah teridentifikasi dengan jelas, atasi dahulu dengan cara biologis atau mekanis. Cara biologis adalah memanfaatkan musuh-musuh alami atau predator tungau, seperti Phytoseilus persimilis. Dapat juga memanfaatkan bakteri seperti Metarhizium sp. dan Beauveria sp. Cara mekanis meliputi penyemprotan bagian bawah daun dengan air menggunakan selang bertekanan tinggi. Dengan cara ini, tungau dapat diusir tanpa merusak ekosistem di sekitar tanaman.

Jika cara-cara di atas belum dapat mengatasi serangan tungau atau populasi tungau terlalu tinggi, barulah cara kimiawi diperlukan. Tentu saja sesuai dengan anjuran penggunaan. Penggunaan insektisida atau pestisida kimia hendaknya didahului langkah-langkah pemantauan OPT (organisme pengganggu tanaman) untuk memastikan jenis hama yang menyerang yang diikuti langkah penilaian tentang perlu atau tidaknya insektisida atau pestisida kimia digunakan.

Insektisida atau pestisida kimia umumnya bersifat racun dan dapat mengendap lama sehingga penggunaan yang tidak terkontrol justru dapat merusak ekosistem di sekitar tanaman dan mengganggu kesehatan.

2. Kutu putih (Pseudococcus sp.)


Hama ini juga bersifat polifag. Serangga dewasa dan nimfanya mengisap bagian-bagian tanaman hingga terjadi perubahan bentuk menjadi tidak normal. Bagian yang diserang tampak dipenuhi kutu putih seperti kapas. Kutu dewasa berbentuk bulat memanjang (oval), tubuhnya lunak, bersegmen jelas, tertutup lilin seperti tepung atau kapas. Warnanya kuning kecoklatan atau kuning muda atau kuning tua. Panjangnya 3 – 4 mm dan lebarnya 1,5 – 2 mm.

Telur kutu putih berwarna kuning, diletakkan dalam kantung berbulu. Nimfa yang baru menetas berwarna hijau muda, lalu berubah menjadi kuning pucat dan merah tua tergantung stadianya. Kutu jantan berukuran lebih kecil daripada kutu betina, mempunyai dua sayap. Persebaran kutu putih dibantu angin, hujan, dan semut. Hama ini memproduksi embun madu yang sangat disukai semut dan menjadi tempat tumbuhnya embun jelaga. Hama yang menyukai tempat teduh yang tidak terlalu lembap ini dapat dikendalikan dengan kultur teknis, cara bilogis, mekanis, dan kimiawi.

Kultur teknis dan mekanis dilakukan dengan cara membersihkan gulma secara berkala, penyemprotan air dengan selang bertekanan tinggi, pemangkasan, dan pemusnahan bagian tanaman yang terkena serangan. Pengendalian secara biologis dapat memanfaatkan musuh alami yang merupakan predator terhadap hama ini, seperti Coccinalidae, Chrysopidae, dan Vespidae. Pengendalian secara kimiawi dalam skala kecil dapat menggunakan sikat cat dan insektisida.

Lakukan pemantauan dahulu sebelum mengaplikasikannya. Jika serangan cukup massif atau berat, insektisida yang dibuat dari bahan-bahan alami sehingga lebih ramah lingkungan dapat menjadi pilihan. Apabila serangan memang sangat berat dan sulit dikendalikan, gunakan insektisida sistemik dengan dosis sesuai anjuran.

Penyakit

1. Hawar daun

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides dan Stemphylium lycopersici. Gejalanya berupa bercak-bercak besar berbatas tidak teratur yang mempunyai garis-garis sepusat (konsentris), terutama pada daun tua yang terlalu banyak menerima sinar matahari. Gejala ini umumnya dimulai dengan warna coklat atau coklat kelabu dari ujung atau tepi daun, yaitu pada area kebasahan pada luka.

Bercak ini menjadi besar dengan cepat, membentuk bercak tak beraturan yang berwarna abu-abu sampai hitam. 30 – 40 hari setelah infeksi, terbentuklah aservuli hitam. Penyakit ini muncul baik pada bambu rejeki yang ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Pengendalian secara kultur teknis meliputi penggunaan bibit yang sehat dan mengurangi kelembapan areal penanaman.

Pengendalian mekanis dengan cara memangkas bagian-bagian tanaman yang terserang penyakit dan memusnahkannya. Adapun pengendalian kimiawi harus didahului tindakan pemantauan agar penggunaan fungisida, jenis maupun dosisnya, tepat dan efektif.

2. Bercak daun Curvularia

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Curvularia sp. Gejalanya berupa bercak-bercak jorong berwarna coklat kelabu dengan tepian coklat tua, kadang disertai halo kuning di sekelilingnya. Spora cendawan disebarkan oleh angin dan percikan air. Penyakit ini banyak terjadi pada tanaman yang kekurangan unsur hara sehingga pertumbuhannya kurang baik.

Pengendalian secara kultur teknis adalah dengan menggunakan bibit yang sehat, diikuti perbaikan drainase dan sanitasi areal penanaman. Pengendalian secara mekanis berupa pemangkasan dan pemusnahan bagian-bagian yang diserang.


3. Bercak daun Cercospora

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora sp. Gejalanya berupa bercak coklat dengan tepi menguning pada daun yang sudah menua. Jika bercak menyatu, akan segera diikuti dengan matinya daun. Jamur ini berkembang di musim hujan dan pada kebun yang pertanamannya rapat, terutama yang ditanam di bawah paranet atau naungan.

Pengendalian secara kultur teknis meliputi penggunaan bibit yang sehat, perbaikan sanitasi, dan mengurangi kelembapan. Secara mekanis, potong dan musnahkan daun yang diserang. Jika diperlukan, pengendalian kimiawi dengan fungisida perlu diaplikasikan sesuai dengan hasil pengamatan.

4. Busuk batang

Penyakit ini dapat terjadi karena infeksi bakteri dan penggunaan air yang tidak bersih. Gejalanya berupa munculnya bau busuk atau asam dari tanaman. Jika hal ini terjadi, segera buang tanaman dan ganti dengan yang baru karena bambu rejeki yang batangnya membusuk tidak dapat lagi tumbuh.

Kecuali jika tanaman masih mengeluarkan tunas dari tangkai utama, mungkin masih dapat diselamatkan dengan memotong bagian tersebut dan memasukkannya segera ke dalam air bersih untuk dibibitkan kembali. Adapun sisa tanaman yang lainnya dibuang.

5. Penyakit fisiologis

Penyakit fisiologis umumnya muncul dalam bentuk daun yang menguning. Penyebabnya mungkin karena tanaman kekurangan air, terlalu banyak tanah atau pupuk, akar berdesakan, temperatur terlalu tinggi, atau terlalu banyak terkena sinar matahari.

Untuk mengatasinya, pangkas bagian yang menguning atau seluruh bagian daun dengan gunting tanaman yang sudah disterilkan menggunakan alkohol atau cuka. Pemotongan mengikuti bentuk alami daun. Buang seluruh daun dengan menarik ke bawah mulai dari pangkal daun.


Demikian tips penanaman dan perawatan bambu rejeki agar dapat tumbuh dengan baik di dalam maupun di luar ruangan. Semoga bermanfaat dan dapat membantu Anda menyemarakkan suasana di rumah dengan tanaman pembersih udara tersebut. Untuk mendapatkan bibit tanaman bambu rejeki yang berkualitas, hubungi situs kami, www.samudrabibit.net atau kunjungi kami langsung di kebun pembibitan dengan alamat Dusun Kandangsari Kwarasan RT 04 RW 07 Gaum, Tasikmadu, Karanganyar – Solo, Jawa Tengah 57761.

Kami menerima transaksi secara online maupun langsung baik untuk keperluan grosir atau eceran. Bukan hanya bibit bambu rejeki yang berkualitas, kami juga menyediakan hidrogel dalam 13 warna yang menarik. Kami juga menyediakan berbagai koleksi peralatan berkebun, aneka macam pupuk organik, serta berbagai macam suplemen nutrisi bagi tanaman.
Blog Post Lainnya
Mau tanya - tanya dulu?
0823-1087-4445
@2014 - 2020 Samudrabibit Inc.